Perkuat Kualitas Udara, Bogor Luncurkan Program Satu Hektar Hutan Kota di Klapanunggal

BOGOR — Upaya memperbaiki kualitas udara dan menambah ruang hijau di Kabupaten Bogor makin serius. Pemerintah Kabupaten Bogor resmi meluncurkan program satu hektar hutan kota di setiap kecamatan, termasuk di wilayah Klapanunggal. Program ini jadi langkah konkret untuk menjawab tantangan polusi, perubahan iklim, dan kebutuhan ruang terbuka hijau yang makin mendesak.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyebut program ini bukan sekadar proyek tanam pohon, tapi gerakan kolektif yang melibatkan banyak pihak. Targetnya jelas: bikin Bogor lebih sejuk, udaranya lebih bersih, dan warganya makin nyaman.

“Ini bukan program seremonial. Kita ingin hutan kota benar-benar hidup, tumbuh, dan dirasakan manfaatnya oleh warga,” kata Rudy dalam keterangannya, dikutip dari Diskominfo Kabupaten Bogor.

Program ini diatur lewat Instruksi Bupati Nomor 100.4.4.2/910-DLH, yang ditandatangani pada akhir 2025. Pelaksanaannya dimulai sejak Januari 2026, dengan penanaman serentak di seluruh wilayah Kabupaten Bogor pada 5 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Kecamatan Klapanunggal masuk dalam daftar wilayah prioritas karena aktivitas industri dan pertumbuhan pemukiman yang cukup pesat. Kondisi ini bikin kebutuhan ruang hijau jadi makin krusial.

Camat Klapanunggal, Hendra Gunawan, bilang pihaknya sudah menyiapkan lahan yang akan dijadikan hutan kota. Lokasinya diseleksi agar mudah diakses warga sekaligus punya dampak maksimal buat lingkungan sekitar.

“Kami pengin hutan kota ini bukan cuma jadi paru-paru wilayah, tapi juga ruang publik. Warga bisa datang, olahraga ringan, edukasi lingkungan, sampai sekadar santai bareng keluarga,” ujar Hendra.

Menurutnya, keberadaan hutan kota di Klapanunggal bakal sangat membantu menekan debu dan polusi, terutama dari aktivitas industri dan kendaraan berat.

Kabupaten Bogor selama ini dikenal sebagai daerah penyangga Jakarta. Urbanisasi dan pembangunan yang masif bikin tekanan terhadap lingkungan makin besar. Ruang terbuka hijau pun makin tergerus.

Lewat program satu hektar hutan kota, Pemkab Bogor pengin membalik kondisi itu. Bupati Rudy menegaskan, keberadaan ruang hijau bakal berdampak langsung pada kualitas udara, suhu lingkungan, hingga daya serap air tanah.

“Kita ingin Bogor tetap jadi kawasan sejuk dan nyaman. Kalau ruang hijau hilang, dampaknya ke mana-mana, dari banjir sampai kesehatan warga,” jelasnya.

Langkah ini juga jadi bagian dari strategi menekan emisi karbon dan meningkatkan ketahanan daerah menghadapi perubahan iklim ekstrem.

Menariknya, program ini nggak cuma mengandalkan pemerintah. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah Klapanunggal menyatakan siap terlibat lewat skema tanggung jawab sosial atau CSR.

Salah satunya datang dari sektor industri semen dan manufaktur yang selama ini aktif di kawasan tersebut. Mereka menyebut, keterlibatan industri penting agar dampak program bisa terasa lebih luas.

“Kami siap dukung penuh, baik dari sisi bibit, perawatan, sampai edukasi lingkungan. Program seperti ini harus dijaga bareng-bareng,” ujar Arief Rahman, perwakilan salah satu perusahaan di Klapanunggal.

Di sisi lain, warga juga menyambut positif rencana ini. Dedi (39), warga Desa Nambo, bilang kehadiran hutan kota bisa jadi ruang baru untuk anak-anak bermain sekaligus belajar mencintai alam.

“Sekarang lahan kosong makin dikit. Kalau ada hutan kota, anak-anak bisa main tanpa harus ke mall terus,” katanya sambil tersenyum.

Pemkab Bogor menargetkan setiap hutan kota nggak cuma ditanami pohon, tapi juga dirancang sebagai kawasan edukatif dan sosial. Akan ada jalur pejalan kaki, papan informasi lingkungan, hingga area duduk santai.

Jenis tanaman yang dipilih pun bukan sembarangan. Dinas Lingkungan Hidup bakal menyesuaikan dengan karakter lahan, mulai dari pohon peneduh, tanaman penyerap polutan, hingga vegetasi lokal yang punya nilai ekologi tinggi.

“Kita ingin hutan kota ini hidup, bukan cuma jadi formalitas. Harus ada manfaat nyata buat lingkungan dan warga,” kata Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah melibatkan komunitas dan generasi muda. Mulai dari relawan tanam pohon, komunitas pecinta alam, sampai pelajar dan mahasiswa.

Menurut Pemkab, keterlibatan anak muda penting supaya kesadaran lingkungan tumbuh sejak dini. Harapannya, hutan kota ini bisa dirawat berkelanjutan, bukan cuma ramai di awal.

“Kita pengin anak-anak muda ikut merasa memiliki. Kalau sudah cinta, pasti dijaga,” ujar Teuku.

Secara keseluruhan, Pemkab Bogor menargetkan pembangunan hingga 200 hektar hutan kota di berbagai wilayah. Sejumlah lokasi sudah disiapkan, termasuk di Cileungsi, Gunung Putri, Pancawati, hingga kawasan sekitar Hambalang.

Bupati Rudy berharap, dalam beberapa tahun ke depan, Bogor bisa jadi contoh daerah yang berhasil menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian lingkungan.

“Kita ingin pembangunan tetap jalan, tapi alam juga terjaga. Dua-duanya harus seimbang,” tegasnya.

Di Klapanunggal, harapan besar disematkan pada proyek ini. Warga ingin wilayah mereka tetap nyaman ditinggali meski aktivitas industri terus berkembang.

“Hutan kota ini semoga jadi simbol kalau Klapanunggal bukan cuma kawasan industri, tapi juga tempat hidup yang sehat,” kata Siti Nurhayati (42), ibu rumah tangga asal Leuwinutug.

Dengan kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat, program satu hektar hutan kota di Klapanunggal diharapkan jadi langkah nyata menjaga kualitas udara dan lingkungan hidup.

Sumber:

Tantangan Berat Menanti, Timnas Futsal Indonesia Bersiap Hadapi Jepang di Semifinal AFC Futsal 2026

Saatnya Studi Banding Tidak Lagi Dipandang Sekadar “Trip”, tetapi sebagai Sekolah Kepemimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *