KULINER INDONESIA POTENSI, KEAMANAN DAN PENGEMBANGANNYA

  1. Pangan

Pangan telah menjadi kebutuhan dasar keberadaan  umat manusia. Beratus tahun kita telah mampu menghimpun berbagai informasi mengenai penggunaan dan peranan pangan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam  masyarakat setipa bangsa , makanan mempunyai fungsi majemuk, yaitu bukan saja biologis. tetapi juga berfungsi social, budaya dan agama. Makanan erat sekali kaitannya dengan tradisi suatu masyarakat setempat, karena itu makanan memiliki fenomena lokal. Jenis makanan tersebut disebut makanan tradisional.

Secara tradisional, pangan telah digunakan sebagai suatu alat pengungkapan rasa cinta, suatu tanda persahabatan dan simbol penerimaan sosial. Pangan juga digunakan sebaciai simbol kebahagiaan dalam bentuk selamatan atau syukuran atau kelulusan ujian. ke lahiran seorang bayi, khitanan, perkawinan. Bahkan untuk menghormati orang tua, sanak kadang (saudara) yang telah meninggal dunia. Makanan tradisional bukan sekedar kumpulan zat gizi, tetapi memiliki arti spiritual tertentu.

Seluruh  aspek makanan tersebut merupakan bagian dari warisan tradisi suatu golongan masyarakat. Karena alasan tersebut, makanan tradisional dapat digunakan sebagai aset atau modal bagi suatu bangsa untuk meningkatkan gizi masyarakatnya, mutu manusia dan untuk membantu pengernbangan pariwisata di suatu negara. Sebagian besar wisatawan asing beranggapan belum puas sebelum dapat mencicipi hidangan khas negeri yang mereka kunjungi. Dengan catatan asal tidak ada resiko kena keracunan makanan.

Setelah akomodasi dan lingkungan tempat tinggal dan obyek wisata sudah memenuhi harapan dan memuaskan, wisatawan asing akan selalu terdorong untuk mencukupi dan memuaskan kebutuhan perutnya. Mereka bergerak dengan perutnya.Tidak selamaya kebutuhan kuantitatif dapat memuaskan perut . kepuasan selera Makannya harus juga dipenuhi. Perut itu diktator, selera makan itu diplomat, kata ahli gastronomi Jerman.

Untuk dapat mentenuhi selera, makanan yang disajikan harus dapat menggelitik kelenjar ludah, mata, lidah dan perasaannya, pendek kata makanan tersebut harus sedap dipandang, dengan bau dan rasa yang lezat.

  1. Makanan Tradisional
  2. Kuliner Indonesia

Bangsa Indonesia, seperti halnya bangsa yang telah tinggi kebudayaan harus memiliki konsepnya sendiri mengenai seni kuliner. Seni kuliner harus mendapat tempat yang selayaknya dan penting artinya sebagai elemen dalam pembentukan karakter suatu bangsa. Di mana seni kuliner tidak lagi hanya sebagai teknik campur-mencampur tetapi sudah merupakan suatu disiplin yang jelas, yang harus didukung dan diperkaya, terhadap penguasaan sejarah bangsa, budaya dan sosial, keindahan, fungsi peralatan termasuk tatakrama, tatasaji dan retuil makanan.

Bagi para gourmerts (pedoyan masakan enak), suatu masakan tidak banyak bedanya dengan aransemen musik. yaitu merupakan suatu komposisi yang serasi dari nada musik yang jumlahnya terbatas. Dalam hal ini bumbu masakan yang kita gunakan dapat diumpamakan sebagai nada-nada musik.

Campuran nada tersebut dapat menghasilkan musik yang nyaman dan nilkmat didengar. tetapi sebaliknya juga dapat menghasilkan musik yang membosankan, tergantung urutan dan susunan nada yang akan disusun. Kesalahan dalam mencampur urutan susunan nadanya, menghasilkan lagu yang buruk. Demikian halnya dengan rasa makanan, kesalahan dalam urutan bumbu dalam mencampur serta dosis yang tidak tepat akan menghasilkan makanan yang hambar, demikian juga sebaliknya. Seni mencampur berbagai bumbu- bumbuan berdasarkan aturan, urutan dan susunan yang pasti itulah yang disebut seni kuliner.

Seni kuliner erat kaitannya dengan peralatan yang digunakan. dapur dan sanitasi dapur, Penyaiian dan keserasian dan yang tidak kalah pentingnya adalah mutu bahan mentah. Setiap makanan internasional menuntut standar tertentu yang tinggi, yang didalmnya sudah tercakup persyaratan hygiene dan sanitasi yang tinggi. Kini masalah yang timbul adalah bagaimana caranya kita dapat memenuhi segala standar tersebut tanpa mengorbankan atau mengurangi ketradisionalan masing-masing daerah.

Untuk memenuhi dan mendalami seni kuliner biasanya didahului dengan suatu tata cara dan seni memotong dan merajang serta meracik. Hal itu jelas sekali diterapkan gn sul 7t) sesennai krneulinZikb.iasanya didahului 001.1 Hal ltu ielas diterapkan pada kuliner Jepang. Bakan hamper setiap cara merajang dan mengiris diberi nama khusus (misalnya “senggiri”= irisan tipis memanjang). Untuk rnaksud tersebut tentu memerlukan berbagai jenis peralatan pisau pengiris dan perajang serta pemotng yang memadai. Indahnya irisan merupakan bonus tambahan terhadap penampilan dan kenikmatan hidangan. Seni mengiris untuk gastronomi Indonesia memang masih belum mendapat perhatian khusus, karena itu disarankan untuk dapat dikembangkan diIndonesia.

  1. Tatacara Makan

setiap bangsa rnempunyai tatacara makan sendiri-sendiri yang tidak lepas dar adat, kebiasaan suasana, waktu makan dan menu yang dihidangkan. Tempat di mana makanan disajikan dan ala-alat yang dipergunakan diselaraskan dengan kepribadian masing-masing bangsa. Tatacara makan diatur bila banyak tamu makan bersama, yang disesuaikan dengan nonna-norma sopan santun bangsa itu. Tiap golongan masyarakat memiliki tatacara sendiri. Umpamanya di mana tamu paling terhormat didudukkan. siapa yang akan diLayani terlebih dahulu. dan lain sebagainya.

Dengan perkembangan teknoIogi komunikasi dan transportasi darat. taut dan udara berkembanglah pariwisata dan pertukaran kebudayaan antar bangsa dan antar suku. antara benua lain, dan denga demikian masuklah tatacara makan asing ke dalam tatacara lokal

Tatacara makan di Indoenesta banyak dipengaruht oleh tatacara makan bangsa Tionghoa, India. Arab. Exopa. Amenka dan lain bangsa yang membawa peradabanya menyeludup masuk  ke Tanah Air kita. Beberapa contoh rnakanan peranakan yang masih kita kenal baik adalah Lontong Cap Gomeh hari  ke 15 setelah tahun baru Cina,  Rijst tafel, kimlo (soto Cina), ayam isi Meester Cornelis, Klappertart, Resoles, cap jahe dan lain sebagainya.

Ingin mengetahui pemahaman tentang food safety? Klik link ini

Sumber : PT Embrio Biotekindo

Penulis : F.G. Winarno

Judul Buku : Keamanan Pangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!