Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain) dalam HACCP

Manajemen Rantai Pasok dalam HACCP

A. Manajemen Rantai Pasokan

Manajemen Rantai Pasok dalam HACCPAnalisa bahaya adalah tahap awal dari perancangan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Dimana warna dari sistem yang akan dibangun sangat bergantung dari hasil evaluasi ini. Filosofi umum yang harus diperhatikan adalah bahwa bahaya dapat timbul dari berbagai aspek. Sehingga evaluasi harus dilakukan menyeluruh terhadap sistem manufaktur.

Berbagai jenis bahaya dapat saja diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan evaluasi. Introduksi unsur mutu, nilai ekonomis, halal dan efisien, misalnya memasukkan unsur kejorokan (wholesomeness) dan penipuan ekonomi (economic freud) ke dalam jenis bahaya. Namun demikian, fokus diskusi pada tulisan ini hanya berbicara seputar keamanan pangan berdasarkan bahaya fisik, kimia dan biologi.

Segala sesuatu yang berpeluang untuk menimbulkan deviasi diyakini berpotensi untuk menimbulkan bahaya, meskipun belum tentu semuanya potensial. Setiap sumber bahaya diperiksa dengan menggunakan sejumlah perangkat kuesioner untuk mengidentifikasi bahaya potensial.

Bahaya potensial akan dievaluasi apakah penting (signifikan) atau tidak menggunakan berbagai instrumen. Bahaya yang telah terbukti signifikan akan direkam dan disiapkan untuk analisis lanjut pada pemastian titik kendali kritikal (Critical Control Points).

Bagi beberapa perusahaan modern, pengelolaan rantai pasokan dijadikan sebagai isu penting karena dampak keamanan pangan yang besar. Acap kali ditimbulkan oleh pemasok atau justru menimbulkan masalah yang besar. Dalam kasus komoditas pertanian, problematika keamanan pangan bahkan telah mulai dari tahap awal budi daya dilaksanakan atau saat ekstrasi sumber daya dilakukan.

Penerapan sistem kendali yang baik dapat dilakukan di seluruh generasi pertanian. baik pada generasi I (pembenihan), generasi II (budi daya/ekstasi), dan generasi III (argoindustri). Karakteristik dari ketiga generasi ini identik memiliki tiga sudut segitiga, yaitu pengadaan bahan (procurement), pengolahan (processing) dan penyerahan (delivery).

Pengendalian Penerimaan adalah upaya untuk menjaimn bahwa bahan baku yang masuk dan akan diproses senantiasa memenuhi persyaratan. Pada penerapan sistem manajemen sistem keamanan pangan, bahan yang dimasukkan harus dapat menjamin tidak akan menimbulkan aspek bahaya keamanan pangan.

Pengendalian penerimaan bukan hanya mengatur mekanisme pemeriksaan bahan, kondisi bahan masuk. Tetapi juga menyangkut mekanisme pengadaan, transportasi, hingga penilikan terhadap personal yang terlibat di dalam aktivitas pengadaan tersebut.

Pengendalian proses adalah upaya untuk menjamin bahwa proses sesuai dengan standar yang telah diadposi agar tetap menghasilkan produk yang sesuai permintaan. Pada penerapan manajemen keamanan pangan, pengendalian proses diarahkan kepada prinsip keamanan, penekanan risiko, dan dampak yang merugikan.

Pengendalian proses meliputi mekanisme pengolahan, pemeliharaan peralatan, konversi bahan, lingkungan kerja, hingga kapabilitas personal yang menangani proses tersebut. Selain penetapan prosedur administratif untuk menjamin konsistensi, didalam pengendalian proses terdapat pula unsur evaluasi melalui suatu mekanisme inspeksi, pengujian dan audit sistem manajemen.

Pengendalian penyerahan adalah upaya yang dilakukan untuk menilai bahwa proses penyerahan barang jadi kepada pengguna tidak akan menimbulkan pengaruh negatif yang merugikan. Produk dijamin tidak akan menimbulkan dampak baru akibat dari penyerahan produk.

Siklus pengadaan sebagaimana disajikan pada gambar dibawah melukiskan bagaimana rutinitas pengadaan barang dilakukan mulai dari identifikasi kebutuhan, penyesuaian dengan spesifikasi, pengesahan kualifikasi pemasok, tender dan evaluasinya, kontrak hingga tinjauan kontrak

Perhatian terpenting didalam siklus pengadaan bahan pada penerapan sistem manajemen keamanan pangan yang menuju kepada produk aman adalah penetapan spesifikasi. Spesifikasi barang yang akan dibeli oleh perusahaan setidaknya harus memenuhi kaidah-kaidah :

  1. Aman bagi pengguna;
  2. Diproduksi atau disekstrak secara higienis;
  3. Mengikuti prinsip sanitasi atau Good Handling Practices;
  4. Good Distribution Practices.

Panjangnya rantai pasokan meliputi awal pembenihan (apabila menyangkut produk biologis) atau ekstrasi (apabila menyangkut produk tidak terbarukan) hingga ujung penggunaan dan produk tersebut menjadi sampah.

Ingin mengetahui lebih paham tentang HACCP? Ikuti training dengan mengklik Link ini

Sumber :

Penulis : Dr. Ir. Hermawan Thaheer

Penerbit : PT Bumi Askara

 

Tinggalkan komentar