Manajemen Risiko K3

Manajemen Risiko K3 Safety

Pengertian Manajemen Risiko

Manajemen Risiko K3 Safety – Adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik.

Manajemen risiko K3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Jika tidak dikendalikan risiko K3 dapat mengancam kelangsungan usaha.

Seperti menimpa Union Carbide di Bhopal India tanggal 3 Desember 1984 yang mengakibatkan korban jiwa lebih dari 2.500 orang. Bencana ini terjadi akibat kebocoran gas methyl isocyanat yang sangat beracun dan menyebar ke area pemukiman di sekitar perusahaan.

Akibat ini Union Carbide diwajibkan membayar kompensasi yang sangat besar, sehingga perusahaan mengalami kebangkrutan. Pada tahun 1986 terhadi peristiwa Chernobyl di Russia. Yaitu bocornya reaktor nuklir yang mengakibatkan pencemaran radiasi yang sangat luas. Dampaknya bahkan masih dirasakan 40 tahun kemudian.

Peristiwa lain terjadi di laut utara menimpa anjungan lepas pantai Piper Alpha tanggal 6 Juli 1988, yang meledak dan terbakar habis yang mengakibatkan korban jiwa 167 orang meninggal. Akibatnya perusahaan mengalami keugian ratusan juta dollar, dan kegiatan terhenti untuk waktu lama.

Kecelakaan lainnya terjadi pada tahun 1989 di Alaska yaitu kandasnya kapal tanker Exxon Valdez, yang menumpahkan ratusan ribu barel minyak mentah ke pesisir pantai Alaska sehingga menimbulkan bencana ekologi yang besar dan finansial lebih dari 1 milyar dollar.

Di Indonesia terjadi kasus lumpur panas dari kegiatan operasi pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas. Kejadian ini menimbulkan dampak yang sangat luas, baik ekonomis, sosial, finansial dan citra perusahaan. Pihak lapindo Brantas telah mengeluarkan ratusan juta dollar untuk mengatasi bencana tersebut.

Berbagai peristiwa bencana ini mendorong masyarakat dunia untuk lebih memperhatikan aspek K3 adlam operasinya dengan menerapkan manajemen risiko K3 untuk mengendalikan semua potensi bahaya yang ada dalam kegiatannya.

No INSIDEN KERUGIAN
1 FLIXBOROUGH, UK 1974 LEDAKAN AWAN UAP (CYCLOHEXANE) KEMATIAN : 28 ORANG (HARI LIBUR) KERUSAKAN : 232 JUTA DOLLAR
2 SEVESO, ITALIA 1976 BOCORAN BAHAN BERACUN (DIOXIN) KONTAMINASI RADIUS 4 KM2 KERUGIAN : 1 JUTA DOLLAR
3 MEXICO CITY, MEXICO 1984 LEDAKAN LPG (BLEVE) KEMATIAN : 500 ORANG KERUSAKAN : 20 JUTA DOLLAR
4 BHOPAL, INDIA 1984 BOCORAN MIC (METHYL ISOCYANATE) KEMATIAN : 4000 ORANG KERUGIAN : 500 JUTA DOLLAR
5 CHERNOBYL, EX USSR 1986 BOCORAN RADIASI NUKLIR KEBAKARAN KEMATIAN : 31 ORANG (LANGSUNG) KONTAMINASI RADIOAKTIF KERUSAKAN : > 2000 JUTA DOLLAR
6 PIPER ALPHA, SCOTLAND 1988 KEBAKARAN DAN LEDAKAN KEMATIAN : 167 ORANG KERUSAKAN  :1 MILIAR DOLLAR
7 VALDES, ALASKA 1989 PENCEMARAN MINYAK (EXXON) DAMPAK LINGKUNGAN KERUGIAN : > 1 MILIAR DOLLAR
8 HOUSTON, USA 1989 LEDAKAN POLYETHYLENE (PHILIPS 66) KEMATIAN : 23 ORANG KERUSAKAN : 750 JUTA DOLLAR

Perkembangan Manajemen Risiko K3

Manajemen Risiko K3 telah berkembang sejak lama. Pada tahun 1970. British Safety Council di Inggril mendirikan Institute of Risk Management untuk mengembangkan dan melakukan pembinaan terhadap ahli-ahli K3 mengenai manajemen risiko.

Sebelumnya manajemen risiko K3 telah diaplikasikan di lingkungan asuransi untuk menentukan tingkat pertanggungan dan premi asuransi. Karena itu, lembaga asuransi memiliki hubungan dengan perusahan penilai risiko (Risk Survey) yang melakukan analisa risiko terhadap perusahaan-perusahaan yang akan mempertanggungkan asetnya.

Keberadaan institusi ini turut mendorong perkembangan manajemen risiko dan K3 di lingkungan industri. Pihak asuransi berkepentingan bahwa aset yang akan dijamin dioperasikan dengan aman sehingga risiko dapat ditekan.

Sebaliknya, pihak pemilik aset juga berkepentingan menjalankan manajemen risiko agar premi asuransi yang dibebankan uga dapat ditekan.

Karena itu, para ahli K3 telah akrab dengan permasalahan risiko dan pengendalinya, terutama untuk memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan pihak asuransi atau lembaga Risk Survey.

Hubungan Manajemen Risiko dan K3

Manajemen risiko K3 sering dimasukkan ke dalam risiko operasional (operational risk) karena dianggap sebagai bagiand ari kegiatan operasi perusahaan.

Pandangan lain menilai bahwa masalah K3 bersifat multi disiplin dan menyangkut berbagai aspek, bukan hanya operasional sehingga yang berkaitan dengan K3 dikelompokka tersendiri dalam Manajemen Risiko K3 (Occupational Health and Safety Risk Management).

Manajemen Risiko sangat erat hubungannya dengan K3. Timbulnya aspek K3 disebabkan karena adanya risiko yang mengancam keselamatan pekerja, sarana dan lingkungan kerja, sehingga harus dikelola dengan baik.

Sebaliknya, keberadaan risiko dalam kegiatan perusahaan mendorong perlunya upaya keselamatan untuk mengendalikan semua risiko yang ada. Dengan demikian, risiko adalah bagian tidak terpisahkan dengan manajemen K3 yang diibaratkan sebagai mata uang dengan dua sisi.

Sisi pertama adalah manajemen risiko dan sisi kedua adalah manajemen K3. Karena itu didalam berbagai sistem manajemen K3 selalu menempatkan aspek manajemen risiko sebagai landasan utama penerapan K3 dalam perusahaan.

Ingin mengetahui lebih dalam tentang manajemen risiko K3? Ikuti training kami dengan mengklik Link ini

Sumber :

Penulis : Soehatman Ramli, BE, SKM, MBA

Penerbit : Dian Rakyat

 

Leave a Comment