Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan Ragamnya

Pendahuluan

Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan RagamnyaSalah satu hasil belajar yang dewasa ini kian mendapat perhatian dalam kebijakan dan praktik pendidikan di negeri ini adalah ketrampilan pemecahan masalah (problem solving skills). Beberapa dokumen ‘resmi’ yang menyangkut Kurikulum 2013 misalnya, selalu menyatakan pentingnya pengembangan kecakapan pemecahan masalah sebagai bagian dari life-skill yang semestinya dikembangkan melalui pelaksanaan Kurikulum 2013 tersebut.

Pembelajaran berbasis Masalah (Problem base Learning) bahkan direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran utama dalam implementasi Kurikulum 2013. Di luar negeri, beragam kegiatan keilmuan yang berkenaan dengan berbagai dimensi dari pendidikan dan/atau pembelajaran pemecahan masalah sudah lama berkembang.

Greeno (1978) mencatat bahwa penelitian tentang hasil belajar pemecahan masalah sudah dimulai tahun 1927
lalu. Oleh karena itu selama ini telah berkembang banyak teori, model, disain, strategi dan teknik, serta evaluasi pembelajaran pemecahan masalah maupun hasil-hasil penelitian yang menopangnya.

Sejalan dengan perkembangan teknologi pengembangan disain dan model pembelajaran untuk pemecahan masalah pun bahkan sudah merambah ke pemanfaatan jaringan internet dan/atau komputer sebagai penopang proses pembelajaran pemecahan masalah.

Nastasi dkk misalnya, pada tahun 1990 lalu telah menguji program pemecahan masalah dengan Logo dan CAI (Computer Assisted Instruction) untuk mencari perbedaan perilaku siswa dalam interaksi-interaksi kooperatif, konflik dan resolusinya, motivasi efektan dan penilaian diri.

Sedang McLellan (2004) memberikan rambu-rambu dalam merancang pembelajaran dan memfasilitasi komunikasi dalam lingkungan belajar yang bersifat ‘online’ (menggunakan jaringan internet-pen). Tulisan ini akan mengulas serba sedikit tentang signifikansi kemampuan memecahkan masalah dalam pendidikan, pengertian dan jenis jenis atau ragam masalah, serta pengertian dan jenis jenis atau ragam pemecahan masalah.

Signifikasi Kecakapan Pemecahan Masalah

Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan RagamnyaHidup manusia selalu dihadapkan pada masalah, dan oleh karena itu kecakapan memecahkan masalah menjadi bagian yang penting dalam upaya pendidikan dan/atau pembelajaran. Pentingnya atau signifikansi hasil belajar pemecahan masalah ini pertama-tama tampak dari perhatian aliranaliran psikologi terhadap hasil belajar ini.

Menurut Greeno (1978) dalam pandangan para psikolog aliran Gestalt pemecahan masalah dikonseptualisasikan sebagai proses pengorganisasian kognitif seseorang. Namun dalam penilaian Greeno, walaupun penelitian para psikolog aliran Gestalt ini menghasilkan berbagai contoh menarik tentang proses-proses berpikir, penelitian itu sendiri kurang menghasilkan prinsip-prinsip yang dapat dikembangkan menjadi satu satuan teori yang padu.

Kaum behavioris juga melakukan banyak analisa terhadap pemecahan masalah, namun mereka lebih menekankan pada perlunya pemecah masalah (problem solver) menampilkan beragam respon dan peningkatan kemungkinan memberikan respon yang tidak biasa.

Hal ini penting karena, dalam pandangan kaum behavioris, pemecah masalah yang berhasil sesungguhnya adalah mereka yang mampu memberikan respon yang semula tidak mungkin.

Kaum behavioris memang berhasil mengidentifikasi kondisi-kondisi yang menghambat atau mendukung pemecahan masalah, namun kurang menyajikan analisa substantif tentang unsur-unsur kinerja pemecahan masalah yang dapat dijadikan modal pengembangan teori yang lebih luas dari sekedar konsep-konsep abstrak pada aras yang paling umum.

Analisa rinci semacam itu justru datang dari pada psikolog aliran pemrosesan informasi (information processing theories) yang selain menghasilkan analisa rinci tentang kinerja pemecahan masalah, juga menyajikan penafsiran teoritis termasuk asumsi-asumsi khusus tentang unsur proses proses kognitif yang terlibat dalam kinerja pemecahan masalah.

Demikianlah tampak bahwa ketiga aliran utama dalam psikologi sama-sama memberi perhatian pada kecakapan pemecahan masalah, yang sekaligus mencerminkan signifikasi hasil belajar tersebut. Selain dari sisi perhatian berbagai aliran psikologi terhadapnya, siginifikansi hasil belajar pemecahan masalah juga dapat kita lihat dari pandangan berbagai pakar.

Mager dan Beach (1984, sebagaimana dikutip Kemp dkk, 1994) misalnya, menempatkan hasil belajar ‘problem solving’ sebagai hasil belajar yang paling sulit karena dalam hal ini pebelajar perlu menentukan apa yang harus dilakukan.

Dalam memecahkan masalah melalui pembelajaran para pebelajar akan memperoleh beberapa aturan yang lebih tinggi tingkatnya atau aturan yang kompleks. Kegiatan pemecahan masalah itu sendiri mensyaratkan agar pebelajar memanggil-kembali (merecall) beberapa aturan yang lebih sederhana dan telah mereka pelajari sebelumnya.

Namun dalam rangka menguasai aturan-aturan yang lebih sederhana itu, pebelajar harus pula telah terlebih dulu menguasai beberapa konsep konkrit, dan dalam rangka belajar konsep-konsep itu pebelajar harus terlebih dulu mempelajari beberapa diskriminasi/pembedaan.

Tampak bahwa bagi Gagne pemecahan masalah merupakan ketrampilan intelektual yang paling kompleks yang berupa kemampuan memecahkan masalah baru dengan mengakomodasikan aturan-aturan yang sudah dimiliki. Ketrampilan intelektual itu sendiri merupakan salah satu dari lima jenis belajar yang dikemukakannya.

Signifikansi hasil belajar pemecahan masalah juga dapat kita lihat dari ‘posisi’nya dalam jenjang rancangan pembelajaran. Hokanson & Hooper (2004) misalnya mengajukan taksonomi perancangan pembelajaran (a taxonomy for instructional design) yang mencakup lima tingkat pembelajaran yaitu (1) penerimaan/reception, (2) aplikasi/application, (3) perluasan/extension, (4) penciptaan/eneration dan (5) tantangan/challenge.

Pembelajaran tingkat penerimaan/resepsi adalah tingkat terendah karena di dalam tingkat ini pembelajar hanya ‘menerima informasi-informasi yang disajikan pengajar’. Jadi hakikat pembelajaran-nya adalah ‘transmisi/pemindahan informasi’.

Pada pembelajaran penerapan/aplikasi, pebelajar melakukan penerapan atas apa yang telah dipelajarinya dengan cara menjawab pertanyaan, membuat kesimpulan, atau melaksanakan prosedur tertentu yang sudah disajikan pengajar. Hakikat belajar yang terjadi dalam pembelajaran tingkat ini adalah ‘transfer terbatas’ (near transfer) di
mana pengetahuan dibangun melalui pengulangan.

Pada pembelajaran tingkat ketiga, perluasan, pebelajar didorong untuk menerapkan prinsip prinsip yang telah mereka pelajari untuk memecahkan persoalan baru atau pertanyaan yang berbeda. Pembelajaran diperluas ke konteks yang otentik atau paling tidak berbeda, sehingga hakikat belajarnya dapat disebut sebagai ‘transfer yang meluas’ atau far transfer.

Pada tingkat penciptaan, pebelajar harus belajar membangun atau menciptakan solusi atas persoalan-persoalan kompleks yang disajikan oleh pengajar. Jika jawaban atas persoalan dalam tingkat belajar perluasan lebih bersifat konvergen, karena hanya terdapat satu jawaban benar sehingga dapat ditentukan benar-salahnya suatu jawaban, maka dalam tingkat pembelajaran keempat jawaban.

Pengertian dan Ragam Pemecahan Masalah

Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan RagamnyaMenarik untuk dicatat bahwa terdapat begitu banyak riset dan publikasi tentang pemecahan masalah, namun hanya sedikit laporan riset dan publikasi yang mengulas tentang pengertian dari pemecahan masalah itu sendiri. Boleh jadi hal itu terjadi karena diasumsikan bahwa semua pihak sudah sepaham perihal pengertian dari istilah pemecahan masalah atau problem solving.

Namun juga tak tertutup kemungkinan bahwa hal itu terjadi karena, sebagaimana dinyatakan oleh Jonassen & Serrano (2002) ‘pemecahan masalah adalah salah satu jenis belajar yang kompleks, berdimensi jamak, dan sangat kurang dipahami’ Uraian tentang pengertian istilah pemecahan masalah berikut dibangun dalam situasi minimnya uraian tentang hal tersebut.

Pengertian Pemecahan Masalah

Menurut Marzano dkk (1988) problem solving adalah salah satu bagian dari proses berpikir yang berupa kemampuan untuk memecahkan persoalan. Terminologi problem solving digunakan secara ekstensif dalam psikologi kognitif, untuk mendeksripsikan ‘semua bentuk dari kesadaran/ pengertian/kognisi’.

Anderson (1983) misalnya dikutip Marzano dkk (1988)sebagai mengklasifikasikan semua perilaku yang diarahkan kepada tujuan (yang disadari atau tidak disadari) sebagai problem solving.

Jika Wickelgren (1974) mendefinisikan problem solving sebagai upaya untuk mencapai tujuan khusus, maka Van Dijk dan Kintsch (1983) dikutip Marzano dkk (1988) sebagai menyatakan bahwa problem solving terjadi bila pencapaian tujuan tertentu mensyaratkan kinerja dan langkah langkah mental tertentu.

Jadi, istilah pemecahan masalah secara umum dapat diartikan sebagai proses untuk menyelesaikan masalah yang ada. Sebagai terjemahan dari istilah problem solving, istilah pemecahan masalah dalam bahasa Indonesia bermakna ganda yaitu proses memecahkan masalah itu sendiri dan hasil dari upaya memecahkan masalah yang dalam bahasa Inggris disebut dengan solution atau solusi.

Penjelasan Teori Pemrosesan Informasi tentang Proses Pemecahan Masalah

Dalam catatan Palumbo (1990) aspek pertama dari pemrosesan kognitif dalam pemecahan masalah adalah representasi masalah (problem representation). Untuk memahami konsep representasi masalah pertama tama kita harus mencermati wilayah memori yang bertanggungjawab atas representasi masalah.

Newell (1980, dikutip Palumbo 1990) sebagai menyatakan bahwa ‘ruang masalah’ (problem space) merupakan unit organisasi dasar bagi semua kegiatan simbolik dan merupakan titik awal bagi semua pemecahan masalah. Ruang masalah adalah kegiatan-kegiatan yang digunakan untuk memecahkan masalah yang mencakup:

(a) serangkaian pengetahuan yang dinyatakan
(b) operator yang memungkinkan seseorang berpindah dari satu keadaan ke yang lainnya
(c) hambatan-hambatan khusus bagi penerapan operator tertentu, dan
(d) pengetahuan yang diperlukan untuk memutuskan operator mana yang akan digunakan dalam
situasi khusus tertentu.

Jaringan semantik ini dapat mencakup (a) informasi yang disajikan dalam rumusan masalah, (b) informasi terkait yang diambil dari memori jangka panjang (Long Term Memory), (c) tujuan yang diinginkan, dan (d) setiap hubungan yang dapat disusun.

Memori jangka panjang memuat informasi semantik yang diperlukan untuk memecahkan masalah tertentu. Namun agar informasi itu dapat digunakan maka ia harus diakifkan ke dalam memori kerja. Jika telah diaktifkan maka pemrosesan informasi akan berjalan dalam keterbatasanketerbatasan memori kerja.

Pemrosesan itu juga dipengaruhi oleh kondisi dari informasi ketika disimpan ke dalam memori jangka panjang. Informasi yang terlatih dan terpadu dengan baik akan lebih otomatis dan mudah di proses ke dalam memori kerja, karena memerlukan ruang dan perhatian yang lebih sedikit dalam mengaktifkan sub sistem penggerak yang diinginkan.

Karakteristik Proses Pemecahan Masalah well-structured v.s ill-structured

Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan RagamnyaGe & Land (2004) mencatat bahwa menurut teori pemrosesan informasi, memecahkan masalah yang well-structured mencakup dua proses penting yaitu

(a) pembentukkan representasi masalah atau ruang masalah (pemecah masalah melihat lingkungan tugas); dan (b) proses pemecahan masalah yang melibatkan pencarian melalui ruang masalah. Representasi masalah pada intinya memuat penafsiran pemecah masalah terhadap masalah, yang akan menentukan seberapa mudah masalah itu dapat dipecahkan.

Pemecah masalah mengambil intisari informasi dan berupaya untuk memahami masalah atau mengaitkannya dengan pengetahuan yang dimilikinya untuk membentuk representasi yang padu.

Berdasarkan berbagai penelitian di atas, Ge & Land (2004) menemukan proses utama untuk memecahkan masalah ill-structured dalam kerangka perancahan yaitu:

(a) representasi masalah,
(b) membangun dan memilih solusi,
(c) membuat pembenaran, dan
(d) memonitor dan mengevaluasi tujuan tujuan dan solusi-solusi.

Meskipun memecahkan masalah baik yang ill-structured maupun well-structured sama-sama melibatkan proses representasi masalah, solusi-solusi dan memonitor dan mengevaluasi namun setiap jenis pemecahan masalah melibatkan sistem inkuiri atau serangkaian keterampilan yang berbeda.

Misalnya saja dalam memecahkan masalah yang ill-structured, pemecah masalah perlu memilih esensi masalah dan tujuan tujuan dalam proses representasi masalah. Mereka juga harus membanding-bandingkan dan memilih solusi yang terbaik, mempertimbangkan berbagai hambatan dan alternatif tindakan.

Di samping itu mereka juga harus membangun alasan yang masuk akal dan dapat dipertahankan untuk mendukung solusi yang dipilih.

Penutup

Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan RagamnyaBerdasarkan paparan di atas dapatlah kita tarik beberapa kesimpulan perangkum sebagai berikut:

  • Kecakapan untuk memecahkan masalah merupakan hasil belajar yang penting dalam proses pendidikan. Sebagai bagian dari ketrampilan intelektual, ia juga merupakan hasil belajar peringkat tinggi. Dalam taksonomi disain pembelajaran pemecahan masalah merupakan inti dari pembelajaran tingkat empat yaitu penciptaan.
  • Masalah dapat dibedakan dengan beberapa cara. Dari segi cara pernyataannya masalah ada yang bersifat kebahasaan (lingustic), dan masalah yang bersifat bukan-kebahasaan (nonlinguistic). Dari segi perumusan, cara menjawab dan kemungkinan jawabannya, masalah dapat dibedakan menjadi masalah yang dibatasi dengan baik (well-defined), dan masalah yang dibatasi tidak dengan baik (ill-defined). Ada juga yang membedakan menjadi masalah yang well-structured (distrukturkan dengan baik) dan masalah yang ill-structured (tidak distrukturkan dengan baik).
  • Ada perbedaan pendapat tentang proses pemecahan berbagai macam masalah yang ada tersebut. Ada yang berpendapat bahwa proses pemecahan atas masalah yang well defined maupun yang ill defined sama, hanya saja dalam masalah yang ill defined konsepsi seseorang tentang masalah berubah bertahap seiring dengan ditemukannya unsur unsur baru baik dari ingatan jangka panjang maupun dari sumber sumber di luar ingatan itu. Namun ada juga yang berpendapat, bahwa proses pemecahan kedua jenis masalah di atas berbeda.

Daftar Pustaka

Borich, G.D. 1996. Effective Teaching Methods. Third Edition, NJ: Prentice Hall

Frederiksen, N. 1984. Implications of Cognitive Theory for Instruction in Problem Solving; Review of Educational Research; Vol. 54 (3): 363-407.

Fuchs, L.S. et all. 2003. Explicitly Teaching for Transfer: Effects on Third-Grade Students’ Mathematical
Problem Solving; Journal of Educational Psychology; Vol. 95 (2): 293 – 305.

Gagne, R.M. & Briggs, L.J. 1979. Principles of Instructinal Design. Second Edition; New York: Holt, Rinehart and Winston.

Ge, Xun & Land. S.M., 2004. A Conceptual Framework for Scaffolding Ill-Structured Problem solving Processess Using Question Prompts and Peer Interactions; ETR&D: Vol. 52 (2) pp 5-22.

Greeno, J.G. 1978. Natures of Problem Solving Abilities. Dalam W.K. Estes (ed)Handbook of Learning and Cognitive Processes. Volume 5. Human Information Processing; New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publisher.

Girl, T.A., Wah, L.K.M., Kang, G.Ng., & Sai, C.L. 2002. New Paradigm for Science Education. A Perspective of Teaching Problem-Solving, Creative Teaching and Primary Science Education; Singapore: Prentice Hall.

Hokanson, B. & Hooper, S. 2004. Level of Teaching: A Taxonomy for Instructional Design.Educational Technology; November-December.

Jonnasen, D.H. & Serrano, J.H. 2002. Case-Based Reasoning and Instructional Design: Using Stories to Support Problem Solving; ETR&D: Vol. 50 (2) pp 65 – 77.

Kemp. J.E., Morrison, G.R. & Ross, S.M. 1994. Designing Effective Instruction; New York: Maxwell Macmillan International.

Lampert. M, 1990. When the Problem Is Not the Question and the Solution Is Not Answer: Mathematical Knowing and Teaching.American Educational Research Journal ; Spring. Vol. 27 (1), pp 29 –63.

Marzano, R.J. et all, 1988. Dimension of Thinking: A Framework for Curriculum and Instruction.

Viginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

McLellan, H. 2004. The Case for Case-Based Teaching in Online Classes; Educational Technology: July – August.
Nastasi, B.K., Clements, D.H. & battista, M.T. 1990. Social-Cognitive Interactions, Motivation, and Cognitive Growth in Logo Programming and CAI Problem-Solving Environments. Journal of Educational Psychology; Vol. 82 (1): 150-158.

Palumbo.D.B. 1990. Programming Language/Problem-Solving Research: A Review of Relevant Issue. Review of Educational Research; Spring. Vol. 60 (1), pp 65 –89.

Qin, Z., Johnson, D.W. & Johnson R.T. 1995. Cooperative Versus Competitive Effort and Problem Solving; Review of Educational Research, Vol. 60 (2): 129 –143.

Steinberg, R.J. 1999. Cognitive Psychology. Second Edition. Philadephia: Harcout Brace College Publishers.

Sumber:

Judul: Problem Solving: Signifikasi, Pengertian dan Ragamnya

Penyusun: Bambang Suteng Sulasamono, Program Studi S1 PPKn – FKIP Universitas Kristen Satya Wacana

Leave a Comment