Badan Akreditasi dan Badan Sertifikasi

Dalam dunia sertifikasi ada kelompok pembuat standar, ada kelompok yang memastikan bahwa kita mengikuti standar itu, dan ada kelompok yang membantu kita supaya kita bisa mencapai standar itu. Berikutnya juga ada kelompok yang membiayai kita untuk mendapatkan sertifikat tersebut.

Di Indonesia kita mengenal LEI (Lembaga Ekolabeling Indonesia). Di dunia internasional kita mengenal yang namanya FSC (Forest Stewardship Council). Keduanya adalah kelompok pembuat standar atau yang dinamakan lembaga akreditasi.

Kelompok ini membawahi kelompok-kelompok yang memastikan bahwa kita mengikuti standar tersebut. Tidak secara langsung seperti atasan dan bawahan, yang menggaji dan yang digaji, tetapi keduanya lebih berperan sebagai kepala kampung atau ketua RT (rukun tetangga) dari beberapa kepala-kepala rumah tangga yang bergabung di RT mereka. Kelompok-kelompok baru ini disebut dengan kelompok pemberi sertifikat atau kelompok auditor.

Namun, karena sertifikasi ini didasarkan pada standar yang dibuat oleh LEI dan FSC, maka sertifikat yang terbit berjudul “sertifikat FSC” atau “sertifikat LEI”. Prosesnya pun dinamakan “proses sertifikasi LEI” atau “proses sertifikasi FSC”. Lembaga sertifikasi yang menerbitkan sertifikat itu boleh siapa saja sepanjang lembaga itu diakui oleh badan LEI atau FSC.

Mengenai pembuat standar, pada tahun 1990, sebuah pertemuan dilakukan di California, Amerika Serikat (AS). Yang mengikuti pertemuan tersebut adalah para produsen yang menggunakan bahan baku kayu, para pedagang, wakil-wakil dari penggerak dan pemerhati lingkungan, dan beberapa organisasi yang perhatian dengan hak-hak manusia. Mereka mengatakan bahwa diperlukan suatu standar yang bisa menunjukkan bahwa hutan telah dikelola dengan baik seiring dengan pemakaian bahan-bahan dari hutan tersebut, bukan sekedar dikelola baik, si pengelola hutan dan si pekerja yang menggunakan hutan sebagai sandang pangannya juga harus berstandar hidup layak.

Berlanjut ke bagian 2

 

Sumber : Buku Pebisnis Bermartabat bukan Perusak Hutan karya Peni R. Pramono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me