Ekologi sebagai dasar ilmu lingkungan (Bagian 1)

Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Dalam ilmu lingkungan, seperti halnya dalam ekologi, jasad hidup pada dasarnya dipelajari dalam unit populasi.

Populasi, dapat dikatakan sebagai kumpulan individu suatu spesies organisme hidup yang sama. Timbul pertanyaan, berapa banyakkah individu yang dapat terkumpul menjadi sebuah populasi? Dan berapa luaskah daerah yang dapat dihuni oleh sebuah populasi?

Komodo, Varanus komodoensis, umpamanya, adalah sejenis hewan reptilia yang hanya ditemukan dalam sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur. Jadi, jelas kumpulan komodo ini yang hanya terdiri atas satu spesies dan hidup di sebuah pulau, adalah sebuah populasi.

Lain halnya dengan biawak, varanus salvator, sejenis reptilia lain, yang dijumpai secara tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Sejauh manakah biawak ini akan dianggap sebagai populasi?

Menentukan populasi memang sukar, kalau anggotanya terpisah-pisah dalam sebuah wilayah, dimana jarak menjadi penghalang antar-individu, seperti halnya gajah atau harimau di Asia, pohon cmara di Eropa, bahkan manusia di dunia.

Cara menentukan batasan populasi yang lebih baik didasarkan kepada pengaruh satu individu terhadap individu yang lain dalam suatu populasi. Jadi, populasi dipandang sebagai suatu sistem yang dinamis daripada segala individu yang selalu melakukan hubungan. Maka, populasi adalah kumpulan individu sebuah spesies, yang mempunyai potensi untuk berbiak-silang antara satu individu dengan individu yang lain. Tentu saja antara individu betina dengan individu jantan.

jadi, meskipun banteng di Ujung Kulon dan banteng di Pananjung, Pangnadaran, sama spesiesnya, Bos sondaicus, tetapi karena potensinya untuk berbiak-silang dihalangi oleh jarak yang jauh, dua kumpulan banteng itu merupakan dua populasi. Tentu saja individu dalam sebuah populasi itu tidak nhanya berinteraksi melalui biak-silang saja, tetapi juga berhubungan secara dinamis dalam hal-hal lain.

kalau jumlah individu populasi per unit luas bertambah dalam perjalanan waktu, kita katakan kepadatan* populasi itu naik. Kalau kepadatan populasi itu sedemikian rupa naiknya, sehingga kebutuhan populasi itu akan bahan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lain-lain menjadi diluar kemampuan alam lingkungan untuk menyediakan atau menyokong secukupnya, timbulah persaingan (kompetisi). Persaingan ini menimbulkan dua akibat:

1. dalam jangka waktu yang singkat, menimbulkan akibat (efek) ekologi;

2 dalam jangka waktu yang panjang, menimbulkan akibat evolusi.

Persaingan membangkitkan daya-juang untuk mempertahankan kelangsungan hidup, yang dapat dimenangkan oleh yang ‘kuat’ atas anggota populasi yang ‘lemah’. Dalam waktu yang singkat akibat ekologi itu berupa (1) kelahiran, kelangsungan hidup, da pertumbuhan populasi yang boleh jadi tertekan, dan (2) pemindahan (emigrasi) populasi yang mungkin meningkat.

Persaingan dalam populasi dapat berupa persaingan langsung antar-individu. Misalnya, daya pembiakan menurun atau tertekan oleh kepadatan individu jantan yang begitu besar, sehingga si jantan lebih banyak membuang waktu memperebutkan betina daripada melakukan proses pembiakannya sendiri.

Persaingan tak langsung, misalnya, jika seekor hewan kelaparan karena makanannya dihabiskan oleh hewan lain. Dalam hal ini, hewan yang kelaparan itu tak pernah bersentuhan dengan hewan yang mendahului menghabiskan persediaan makanan.

Persaingan dapat pula berakibat perubahan yang berangsur-angsur pada populasi (efek evolusi). Misalkan dalam sebuah populasi terdapat individu yang berukuran tubuh besar bersaing dengan individu hewan kecil.

Katakanlah hewan yang kecil itu terkalahkan dalam persaingan memperoleh makanan. Maka, hewan yang bertubuh kecil itu tidak hanya terancam bahaya kelaparan saja, tetapi umur dan daya pembiakannya juga akan turun dalam populasi secara keseluruhan. Lama kelamaan (evolusi) populasi itu akan banyak melahirkan individu bertubuh besar, dan yang kecil akan tersisihkan. Akhirnya populasi akan dikuasai oleh populasi hewan bertubuh besar. Bahkan yang kecil akan hilang, akrena tak berkembang.

Satu hal yang penting disini ialah, dalam setiap persaingan antar-individu, kemampuan anggota populasi bersaing pada akhirnya tetap dipertahankan, karena yang menanglah yang meneruskan kelangsungan generasi. Dikenal ada dua faktor lingkungan yang dapat menurunkan daya biak populasi, yaitu :

1 Faktor yang bergantung kepada kepadatan populasi itu sendiri

(density-dependent factor); misalnya, kekurangan bahan makanan, kekurangan ruang untuk hidup karena populasi terlampau padat.

2 Faktor yang tak bergantung kepada kepadatan populasi

(density-independent factor); umpamanya, terdapat penurunan suhu lingkungan secara drastis dan mendadak; atau, angin ribut yang melanda suatu daerah pada suatu musim, sehingga dapat membunuh banyak individu dalam sebuah populasi. Faktor lingkungan semacam itu dapat muncul, bilamana saja.

Ciri penting dalam sebuah populasi, ialah struktur-umur anggotanya. Pada gambar 1, misalny, digambarkan dua struktur-umur populasi manusia. Pada populasi A nampak angka kelahiran (usia-muda) lebih tinggi daripada angka kematian (usia-tua), populasi bertambah dengan cepat; yang menghasilkan daya-tumbuh populasi sebesar 2% per tahun. Struktur umur yang demikian khas bagi populasi di negara yang sedang berkembang.

Dalam populasi A itu 52,4% anggota populasi berumur kurang dari 20 tahun. Sebaliknya, pada populasi B tak nampak perbedaan yang nyata mengenai jumlah penduduk pada berbagai umur, jumlah penduduk naik perlahan-lahan.

Jumlah penduduk di bawah umur 20 tahun hanya 31,0% saja.

Struktur-umur dalam populasi penting, karena dapat memberikan gambaran serta sifat individu populasi itu, sesuai dengan karakter tiap batas-kisar umurnya. Misalnya, hal yang berhubungan dengan derajat angka kelahiran, derajat angka kematian, kecenderungan untuk beremigrasi atau berimigrasi, keperluan bahan makanan, dan potensi kerja serta nilai sosio-ekonominya.

Oleh karena itu struktur umur sangat penting untuk diamati dan diperhatikan dalam perkembangan suatu populasi.

Lanjut bagian 2

Sumber : Ilmu Lingkungan, R. E. Soeriaatmadja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me