Ekologi sebagai dasar ilmu lingkungan (Bagian 2)

Ada empat macam pengertian yang penting untuk diketahui, sehubungan dengan pemungutan hasil berbagai bentuk populasi oleh manusia.

Biomasa, ialah berat total populasi. Jadi, sama dengan jumlah individu dalam populasi x berat rata-rata individu tersebut;

Hasil bawaan (standing crop), ialah jumlah individu atau biomasa suatu populasi dalam suatu jangka waktu tertentu;

Produktivitas, ialah jumlah jaringan hidup yang dihasilkan oleh suatu populasi dalam suatu jangka waktu tertentu;

Hasil panen, ialah jumlah jaringan hidup yang dihasilkan oleh suatu populasi dalam suatu jangka waktu tertentu;

Hasil panen, ialah jumlah hasil yang dipungut pada suatu waktu panen bagi kepentingan manusia.

Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulangkali dalam berbagai komunitas dan menjalankan fungsi yang agak berbeda. Kombinasi antara habitat, tempat suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu, memberikan penfertian nicia (niche). Konsep nicia ini penting bagi seorang ahli ilmu lingkungan; selain digunakan meramal macam tumbuhan dan hewan yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas, juga dipakai menaksir kepadatan serta fungsinya pda suatu musim.

Kepadatan individu dalam suatu populasi, langsung dapat dikaitkan dengan pengertian keanekaragaman. Istilah ini dapat diterapkan kepada berbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas. Misalnya, keanekaragaman di dalam spesies, keaneka ragaman dama pola penyebaran, misalnya:

mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya;

menempatkan spesies tersebut ke dalam habitat atau nicianya;

menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut;

menempatkan tiap individu ke dalam tiap habitatnya, dan menentukan fungsinya.

Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut. Biasanya makin beranekaragam suatu komunitas, makin tinggi organisasi di dalam komunitas tersebut. Hal itu menunjukan tingkat kedewasaannya, sehingga keadaannya menjadi lebih mantap.’

Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi jasad hidup lain, mengalami serta menjalani siklus hidup juga; artinya, komunitas itu lahir, meningkat dewasa, dan kemudian bertambah tua. Bedanya, ialah, bahwa komunitas secara alami tidak pernah mati. Apabila sebuah komunitas lahir diatas bongkahan batu lava sebuah gunung berapi yang belum lama meletus, permulaan sekali komunitas itu hanya berupa tumbuhan ‘pelopor’, seperti ganggang, lumut, lumut kerak, dan paku-pakuan. Tumbuhan peolpor ini akan mengubah keadaan lingkungan sedemikian rupa, sehingga tumbuhan dan hewan lain kemudian dapat pindah dan hidup di situ. Lama kelamaan komunitas itu akan dikuasai oleh spesies yang dapat hidup unggul, stabil, dan mandiri didalamnya. Proses semacam ini seluruhnya disebut suksesi, sdangkan komunitas yang sudah mencapai kemantapan disebut komunitas yang sudah mencapai puncak atau klimaks.

Tingkat organisasi yang lebih tinggi lagi dari komunitas, ialah ekosistem. Di sini tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu, dan energi yang menajdi sumber kekuatan bagi ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesa. Pembentukan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan menyerap berbagai bahan mineral dari dalam tanah, yang seterusnya dilah dalam proses metabolisma.

Beberapa bagian jaringan hidup yang dibentuk, seperti daun, buah, biji, dan umbi, dapat dimakan oleh herbivora. Dan, kemudian hewan itu menjadi mangsa karnivora, maupun tumbuhan akan mati, jatuh ke tanah sebagai sampah, dan menjadi bahan makanan bagi anekaragam mikroba tanah.

Sampah tumbuhan dan hewan ini diubah oleh mikroba tanah melalui proses pembusukan menjadi humus, serta diuraikan menjadi bahan mineral melalui proses mineralisasi. Jadi, di dalam tanah itu dapat dijumpai dua jenis golongan mikroba, yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai.

Pada rantai makanan, organisme dalam ekosistem dikumpulkan menjadi bebrapa kelompok, yang masing-masing mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber energi yang masuk ekosistem. Tumbuhan yang dapat membentuk bahan organik dari mineral dan energi amtahari dengan proses fotosintesa, meruapakan komponen produsen dalam ekosistem. Organisme yang menggunakan bahan organik yang telah dibentuk oleh produsen, merupakan komponen kosumen dalam ekosistem.

 

Sumber : Ilmu Lingkungan, R. E. Soeriaatmadja

Ingin mengikuti Training ISO 14001 dan training lainnya? silahkan kunjungi www.multikompetensi.com

Halaman Training ISO 14001:2015 : Training ISO 14001

Halaman Training ISO 9001:2015 : Training ISO 9001:2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me