Etika dan Perkebunan (Perspektif Tugas dan Tanggung Jawab Staf Perkebunan)

Etika dan Perkebunan (Perspektif Tugas dan Tanggung Jawab Staf Perkebunan)

Bekerja sangat penting artinya bagi setiap orang. Dengan bekerja kita menghasilkan sesuatu untuk hidup dan kehidupan. Sejak zaman purba, manusia juga bekerja, apakah berburu, mengumpulkan buah-buahan, dan seba­gainya. Paling tidak, mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Jika nenek moyang kita dahulu pemalas, mungkin kita akan punah lebih dahulu diban­dingkan spesies dinosaurus. Untungnya, keadaan pada waktu itu seakan memaksa manusia untuk setiap hari bekerja agar dapat bertahan hidup. Namun, setelah peradaban semakin berkembang dan maju, manusia bekerja tidak hanya sekadar bertahan hidup. Manusia juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier seperti TV plasma yang dapat digantung di dinding, siaran DBS multi channel, home theatre, mobil mewah, pent house, dan kenikmatan rekreasi di pulau antah-berantah. Logikanya sudah jelas, hanya dengan bekerja maka manusia bisa hidup layak atau bahkan hidup di atas rata-rata (mewah).

Tak pelak lagi, manusia berlomba-lomba menggapai keberhasilan dalam pekerjaan. Sayangnya, hal tersebut bukan perkara mudah. Selalu saja banyak masalah yang menjadi halangan dan rintangannya. Berikut ini masalah­masalah yang selalu saja mengikuti ke mana manusia pergi, tidak peduli apa pun pekerjaan dan jabatannya.

  • Anda selalu merasa bahwa tidak ada yang
    dapat diselesaikan dalam satu hari ini.
  • Anda mendapat kesulitan pada saat mengerjakan sebuah pekerjaan besar.
  • Anda menghadapi masalah dengan interupsi-interupsi
  • Anda mendapat masalah dalam pekerjaan administrasi dan pembuatan laporan.
  • Anda merasa bahwa alat komunikasi ( hand phone dan handy talky radio) anda menjadi menjengkelkan atau mengganggu
  • Anda mengulur-ulur pekerjaan yang berat dan tugas-tugas yang tidak Anda sukai.
  • Dan masalah lainnya yang bisa jadi 1001 jenis banyaknya

Untuk mengukur efektivitas Anda, jawablah pertanyaan berikut ini, “Jika aku melaku dengan efektif maka hasilnya adalah……….”. Mengapa orang lain dapat mengerjakannya 1 baik dariku? Mereka adalah orang yang bekerja lebih cerdas (bukan kerja keras) dan mereka menggunakan waktunya dengan efektif.

Waktu adalah sumber daya yang paling ditakuti para staf perusahaan di seluruh dunia. Waktu adalah pasokan yang bersifat tidak elastis (inelastic), yang tidak dapat dibeli atau disewa.

Waktu bersifat tidak dapat digantikan, mudah rusak (perishable), dan tidak dapat disimpan. Setiap manusia di bumi telah diberikan oleh Tuhan waktu yang jumlahnya sama, yaitu 24 jam sehari. Hidup ini adalah sebuah permainan dan setiap permainan ada peraturannya. Untuk memenangkan permainan hidup ini, Anda harus membuat strategi dan taktik untuk meraih kejayaan.

Apakah yang Anda inginkan dalam kehidupan ini? Ke mana Anda harus pergi? Hal-hal apa saja yang membuat Anda merasa tenang dan senang?

Tanyalah kepada diri sendiri, “Apakah aku telah menggapai tujuan yang benar-benar pen­ting bagi diriku?”. Dan kemudian, buatlah peren­canaan hidup Anda.

Jika Anda adalah orang yang berorientasi pada karir,

  • apakah Anda sudah berada pada jenjang kepangkatan yang seharusnya dapat Anda raih?
  • apakah Anda sudah melewatinya ataukah Anda sudah tidak dapat maju lagi (mentok)?

Jika Anda merupakan orang yang berorien­tasi pada penghasilan,

  • apakah tingkat kompensasi Anda sesuai dengan yang diharapkan?
  • apakah kenaikan gaji Anda tampaknya sudah berangsur-angsur berkurang?

Jika Anda orang yang sangat memuja kepuasan kerja,

  • apakah sejujurnya Anda menikmati apa yang Anda kerjakan?
  • apakah Anda tenggelam dalam rutinitas dan tugas-tugas yang tidak menantang?
  • apakah Anda mencari kebanggaan diri dari luar komitmen kerja Anda seperti menulis di koran, menjadi tetua adat masyarakat setem­pat, atau menjadi hacker di cyber space?

Jika sukses bersaing ingin dicapai melalui orang lain maka keterampilan orang-orang terse­but di atas akan menjadi sangat penting bagi perusahaan. Implikasinya jelas, perusahaan harus memiliki tenaga kerja dengan keterampilan yang memadai. Persyaratan keterampilan tenaga kerja ini sudah semakin meluas dan berkembang sehingga perusahaan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk mengatasi masalahnya (di antaranya dengan seleksi dan pelatihan).

Sebagai contoh, dari sekitar 1.00o pelamar yang berpendidikan sarjana dan Diploma III, hanya sekitar 10% yang dapat diterima di Salim Plantation pada tahun 1997. Hal yang kurang lebih sama juga dilaporkan terjadi di Amerika Serikat New York Telephone Company menguji 57.00o pelamar kerja di tahun 1987 dan mene­mukan bahwa 54.900 orang(96,3%) tidak memiliki keterampilan dasar di bidang matematika,membaca, dan logika. Sementara di perusahaan ponsel Motorola, 80% dari pelamarnya tidak lulus tes pemahaman bahasa Inggris sederhana kelas 7 dan tes matematika kelas 5.

Dalam setiap sesi awal pelatihan regular staf perkebunan di Salim Plantation, sasaran pelatihan ditekankan pada domain kognitif, psikomotorik, dan afektif sebagai seorang (calon) staf perkebunan nantinya. Malangnya, selalu  saja dalam setiap sesi ada sarjana yang gagal menjawab soal Ebtanas SD, baik itu matematika maupun pengetahuan umum. Bahkan ada trainee dari etnis Batak yang tidak tahu ibu kota Kabupaten Labuhan Batu (di Sumut) dan wong Ngayogyakarta yang tidak tahu berapa jumlah kabupaten di D.I. Yogyakarta. Bombastis, tetapi ironis!

Pengalaman menunjukkan bahwa sebenar­nya tidaklah sulit memimpin bawahan apabila kita dapat memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Dengan kata lain, kita memberikan contoh pada diri kita sendiri atau menjadikan diri kita sebagai suri teladan. Keteladanan ini harus konsisten dilaksanakan dan ditunjukkan dengan kedisiplinan yang tinggi. Hal inilah yang menjadi tujuan penulisan buku ini dan semoga semakin dekat dengan perspektif kita bersama.

Motivasi kerja yang kuat timbul dari lingkungan kerja yang kondusif dan tidak terlepas dari budaya perkebunan. Hal ini akan merangsang karyawan untuk menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan produktivitas kerja.

Seseorang akan berhasil mencetak personil yang berkualitas, minimal sama dengan dirinya. Dengan catatan, dirinya sendiri harus berkuali­tas terlebih dahulu (ingat: Anda harus membagi hal ini dengan orang lain). Apabila pelaku yang mencetak tidak berkualitas maka hasil cetakannya pun tidak akan berkualitas. Tugas, tanggung jawab, dan kedisiplinan merupakan hal yang harus benar-benar dilaksanakan dengan baik, sejalan dengan budaya perkebunan.

Budaya perkebunan merupaka budaya yang berlaku di lingkungan perkebunan (termasuk di dalamnya PKS, traksi, dan unit usaha lainnya). Budaya perkebunan merupakan pola sikap, keyakinan, asumsi, dan harapan yang dimiliki bersama (oleh orag kebun). Mungkin pola tersebut tidak tercatat, tetapi membentuk cara bertindak dan berinteraksi dan mendukung bagaimana segalanya dilakukan. Budaya perkebunan merupakan ideologi yang dominan dalam perkebunan dan dapat diekspresikan melalui mitos, pahlawan, cerita, istilah, ritus, dan legenda.

 

Sumber :

Buku : Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir

Penyusun : Iyung Pahan

Penerbit : Penebar Swadaya

 

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!