Filosofi Keselamatan

Pertanyaan klasik yang sering timbul adalah apakah kecelakaan dapat dicegah?

Dalam masyarakat tradisional, anggapan bahwa kecelakaan merupakan nasib atau takdir masih banyak terjadi sehingga seolah-olah kecelakaan tidak dapat dihindarkan. Kecelakaan dimaknai sebagai takdir (Kompas, 18 Oktober 2003). “Inilah cara pandang yang masih begitu dihayati oleh masyarakat seindonesia. Cara pandang ini harus dibongkar habis sebab kecelakaan bukan (semata) takdir. Yang harus bertanggung jawab bukanlah Tuhan, tetapi manusia  sendiri yang dibekali akal untuk mampu berbuat preventif”.

Untuk menjawab pertanyaan ini, Heinrich seorang ahli keselamatan, pada tahun 1930 dalam bukunya Accident Prevention mengemukakan:

  • Bahwa setiap kecelakaan pasti ada sebabnya. Tidak ada kejadian apapun yang tanpa sebab sebagai pemicunya.
  • Jika faktor penyebab tersebut dihilangkan, maka dengan sendirinya kecelakaan dapat dicegah. Sebagai contoh, lantai yang licin karena ceceran minyak merupakan faktor penyebab kecelakaan atau terpeleset. Jika lantai dibersihkan dan ceceran minyak dibuang, maka dengan sendirinya kemungkinan kecelakaan akibat terpeleset dapat dihindarkan.

Atas dasar tersebut di atas, maka menurut Heinrich, setiap kecelakaan dapat dicegah.

Selanjutnya Heinrich mengemukakan 10 aksioma sebagai berikut.

  1. Bahwa kecelakaan merupakan rangkaian proses sebab dan akibat. Tidak ada kecelakaan yang hanya disebabkan oleh faktor tunggal, namun merupakan rangkaian sebab dan akibat yang saling terkait. Sebagai contoh, adanya ceceran minyak di lantai kemungkinan disebabkan peralatan yang rusak atau bocor, sistem penimbunan yang tidak baik, prosedur pembersihan tidak ada atau karena pengawasan yang kurang baik.
  2. Bahwa sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia dengan tindakannya yang tidak aman yang menurut penyelidikan mencapai 85% dari seluruh kecelakaan.
  3. Bahwa kondisi tidak aman dapat membahayakan dan menimbulkan kecelakaan. Dari setiap 300 tindakan tidak aman, akan terjadi 1 (satu) kali kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan hari kerja.
  4. Bahwa tindakan tidak aman dari seseorang dipengaruhi oleh tingkah laku, kondisi fisik, pengetahuan dan keahlian serta kondisi lingkungan kerjanya.
  5. Untuk itu upaya pencegahan kecelakaan  harus mencakup  berbagai usaha antara lain dengan melakukan  teknis, tindakan persuasif, penyesuaian individu dengan pekerjaannya dan dengan melakukan penegakan disiplin (law enforcement).
  6. Keparahan suatu kecelakaan berbeda satu dengan lainnya, dan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama kondisi lingkungan kerja dan potensi bahaya serta ketahanan manusia menerima bahaya tersebut.
  7. Program pencegahan kecelakaan harus sejalan dengan program lainnya dalam organisasi seperti program produksi, penekanan biaya dan produktivitas. Hal ini sangat jelas, karena aspek K3 berkaitan dengan seluruh proses bisnis dalam organisasi, sehingga berkembang konsep integratedsafety sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
  8. Pencegahan Kecelakaan atau program keselamatan dalam organisasi tidak akan berhasil tanpa  dukungan dan peran serta manajemen puncak dalamorganisasi. Manajemen harus memiliki komitemen nyata mengenai K3 sebagai bagian penting dalam keberhasilan usahanya, sehingga bukan sekadar untuk memenuhi formalitas.
  9. Pengawas merupakan unsur kunci dalam program K3, karena pengawas adalah orang yang langsung berhubungan dengan tempat kerja dan pekerjanya. Pengawas paling tahu mengenai kondisi tempat kerja,dan memiliki otoritas untuk melakukan pengawasan dan pembinaan.
  10. Bahwa usaha keselamatan menyangkut aspek ekonomis yang berkaitan dengan produktivitas serta biaya kecelakaan yang harus dikeluarkan. Namun demikian, biaya langsung yang terlihat hanya sebagian kecil dari kerugian kecelakaan yang sebagian besar merupakan kerugian tidak langsung atau “hidden cost“.

Dari teori klasik Heinrich ini terlihat bahwa upaya pencegahan kecelakaan tidaklah mudah dan memerlukan upaya terencana dan menyeluruh. Bahkan Prof. James Reason dari Universitas Manchester menyatakan: Managing Safety is like “fighting a geurilla war in which there are no final victory”. it is a never ending struggle to identify and eliminate or control hazards.

Pencegahan kecelakaan ibarat perang gerilya yang tidak pernah berkahir, selama organisasi masih eksis dan menjalankan aktivitasnya. Upaya pencegahan kecelakaan tidak akan berhasil dengan upaya satu dua hari atau hanya bersifat program sesaat, tetapi memerlukan kegiatan yang terus menerus selama operasi masih berlangsung.

Sumber :

Buku Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS 18001  karya Soehatman Ramli

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me