Pengertian, Jenis, dan Sejarah Perkembangan Kompetensi

Dewasa ini, definisi dan pengertian kompetensi yang beredar baik di lingkungan masyarakat awam maupun perusahaan sangat beragam. Bahkan, perbedaan antara pengertian yang satu dan yang lain sangat menyolok. Mereka semua menggunakan istilah yang sama, yaitu kompetensi. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila ada dua anggota masyarakat pengguna kompetensi bertemu dan berbicara tentang kompetensi, pada awalnya pembicaraan mereka tidak menyatu satu sama lain. Untuk itu, biasanya mereka sating menyesuaikan dan menyamakan persepsi tentang kompetensi terlebih dahulu agar komunikasi dapat berlangsung lebih efektif. Keadaan seperti ini membuat penulis, melalui buku ini, berkeinginan untuk menjelaskan persoalan tersebut dengan menjawab pertanyaan pertanyaan berikut ini: • Mengapa timbul perbedaan pengertian kompetensi di masyarakat? • Mengapa anggota masyarakat yang satu (terutama yang berada di lingkungan perusahaan) tetap menggunakan pengertian kompetensi yang berbeda dari anggota masyarakat lainnya? • Apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pengertian kompetensi yang mereka gunakan? • Kapan penggunaan pengertian kompetensi yang satu lebih tepat dibanding dengan yang lain? Bagi masyarakat awam tentunya wajar apabila mereka mengaitkan pengertian kompetensi dengan kata competence yang berarti “kemampuan” atau “kapabilitas”. Sama halnya dengan bahasa inggris dalam bahasa Indonesia kata “mampu” dapat dipahami berbeda¬beda sesuai dengan konteks pembicaraan dan penggunaannya. Ada yang menggunakan kata “mampu” sebagai pengganti kata/ kalimat: pintar, ahli, dapat melakukan suatu pekerjaan, serba tahu, terampil, dan lain-lain. Oleh karena itu, mereka banyak yang mengartikan dan menggunakan kata kompetensi sama seperti arti kata mampu tersebut di atas. Atas dasar tingkat kesadaran dalam melakukan pekerjaan, secara awam kita dapat membedakan arti kata kompetensi menjadi:

  • Unconcious incompetence—apabila seseorang tidak menyadari bahwa dia tidak mampu melakukan sesuatu. Sebagai contoh, seorang pembantu yang baru didatangkan Iangsung dari desanya tidak mampu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti yang diharapkan oleh majikannya. Namun, pembantu tersebut tidak menyadari bahwa dia tidak mampu dan tetap mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan cara yang dia ketahui. Hal ini disebabkan karena sewaktu tinggal di desa dia tidak pernah melakukan pekerjaan yang sama dengan pekerjaan yang diberikan di rumah majikannya.
  • Conscious incompetence—apabila seseorang menyadari bahwa dia tidak mampu melakukan sesuatu. Pada contoh di atas, apabila pembantu rumah tangga tersebut diberitahu oleh majikannya tentang apa yang diharapkan atas pekerjaan tersebut,pembantu tersebut mengetahui bahwa dia belum mampu melakukannya
  • Conscious competence—seseorang mampu mengerjakan sesuatu dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Sebagai contoh, seorang pengemudi yang baru raja bisa mengemudi tentu akan mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena khawatir akan terjadi kecelakaan.
  • Unconscious competence—seseorang dapat melakukan pekerjaan dengan mahir sehingga dia dapat melakukannya secara otomatis Misalnya, seorang pengemudi mobil yang telah mahir mengemudi mampu mengendarai mobil dengan mudah tanpa harus bersusah payah untuk berkonsentrasi pada saat mengemudi.

Dari keempat pengertian kompetensi secara awam di atas, per­usahaan lebih menginginkan karyawannya memiliki kompetensi dengan pengertian yang keempat, yaitu unconscious competence. Kompetensi dengan pengertian seperti ini pada umumnya lebih mudah dimiliki oleh karyawan yang mengerjakan pekerjaan standar dan tidak berubah­ ubah, atau pekerjaan-pekerjaan teknis yang memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh, pekerjaan mengecat barang, menempa besi, melem sepatu, dan menjahit pakaian konveksi. Dengan kemampuan seperti ini, mereka dapat bekerja dengan tingkat efisiensi dan kualitas yang tinggi. Di bidang sumber daya manusia, konsep kompetensi biasanya dihubungkan dengan prestasi kerja seseorang. Dalam lingkungan perusahaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, pada awalnya hanya ada 2 jenis definisi kompetensi yang berkembang pesat, yaitu:

  1. Kompetensi yang didefinisikan sebagai gambaran tentang apa yang harus diketahui atau dilakukan seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik (Miller, Rankin and Neathey, 2001). Pengertian kompetensi jenis ini dikenal dengan nama kompetensi teknis atau fungsional (technical/ functional competencies) atau dapat juga disebut dengan istilah hard skills/ hard competency (kompetensi keras). Kompetensi jenis ini bermula dan berkembang di Inggris dan banyak digunakan di negara-negara Eropa dan di negara-negara Commonwealth. Konsentrasi kompetensi teknis adalah pada pekerjaan, yaitu untuk menggambarkan tanggung jawab, tantangan, dan sasaran kerja yang harus dilakukan atau dicapai oleh si pemangku jabatan agar si pemangku jabatan dapat berprestasi dengan baik.
  2. Kompetensi yang menggambarkan bagaimana seseorang diharapkan berperilaku agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik (Miller, Rankin and Neathey, 2001). Pengertian kompetensi jenis ini dikenal dengan nama kompetensi perilaku (behavioural competencies) atau dapat juga disebut dengan istilah kompetensi lunak (soft skills/ soft competency). Perlu diketahui di sini bahwa perilaku rnerupakan suatu tindakan (action) sehingga kompetensi perilaku akan teridentifikasi apabila seseorang memeragakannya dalam melakukan pekerjaan. Kompetensi ini lahir dan berkembang di Amerika Serikat. Pemberi kontribusi awal dalam pengembangan kompetensi ini adalah Prof. Mc. Clelland (1973) dari Harvard University Amerika Serikat, kemudian dilanjutkan oleh Boyatzis (1982), Woodruffe (1999) dan Spenser & Spenser (1993). Para ahli ini telah banyak mengembangkan konsep kompetensi didasarkan atas hasil penelitian mereka. Secara umum definisi kompetensi yang mereka buat tidak jauh berbeda dari definisi kompetensi yang dibuat oleh Miller, Rankin, and Neathey (2001). Sebagai contoh :a. Boyatzis (1982) Kompetensi didefinisikan sebagai “kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan”.b. Woodruffe (1991) and Woodruffe (1990) Mereka membedakan antara pengertian competence dan compe­tency, yang many competence diartikan sebagai konsep yang berhubungan dengan pekerjaan, yaitu menunjukkan “wilayah kerja di mana orang dapat menjadi kompeten atau unggul”. Sedangkan competency merupakan konsep dasar yang ber­hubungan dengan orang, yaitu menunjukkan “dimensi perilaku yang melandasi prestasi unggul (competent)”c. Spenser & Spenser (1993) Menurut mereka, kompetensi adalah “karakteristik dasar sese­orang yang ada hubungan sebab-akibatnya dengan prestasi kerja yang luar biasa atau dengan efektivitas kerja”.

Secara umum, kompetensi perilaku lebih menekankan pada perilaku produktif yang harus dimiliki serta diperagakan oleh seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan agar dapat berprestasi luar biasa. Perilaku produktif ini dibuat atas dasar basil penelitian terhadap karakter produktif para pemangku jabatan yang memiliki kinerja yang istimewa atau luar biasa. Menurut hasil penelitian Prof. Mc. Clelland, apabila pada saat melaksanakan pekerjaan seseorang dapat memiliki dan memeragakan karakter kerja produktif yang sama dengan karakter kerja produktif pemangku jabatan sebelumnya yang memiliki prestasi yang luar biasa, orang tersebut akan berprestasi lebih unggul daripada orang lain yang tidak memiliki karakter kerja produktif tersebut. Dari waktu ke waktu, penggunaan kompetensi teknis atau fungsional berkembang begitu pesat. Yang semula hanya menitik­beratkan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan karakter untuk mencapai efektivitas kerja, pengguna­annya berkembang untuk tujuan lain, seperti untuk pengembangan pendidikan sebagaimana halnya yang diterapkan di Indonesia. Sehubungan dengan itu muncul satu jenis kompetensi lagi dengan definisi yang lebih umum, yaitu:

  1. Kompetensi yang diartikan sebagai “pengetahuan atau keterampilan individu”.

Penekanan pengertian kompetensi jenis ini adalah kepemilikan pengetahuan dan keterampilan. Salah seorang ahli yang memberikan pengertian kompetensi senada dengan pengertian ini adalah Dave Ulrich, Profesor dari University of Michigan (1995), yang mendefinisikan kompetensi sebagai “pengetahuan, keterampilan atau kemampuan individu yang diperagakan” (an individual’s demonstrated knowledge, skills or abilities). Di Australia dan di Inggris (UK), kompetensi dengan pengertian seperti ini banyak digunakan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah. Perlu diketahui bahwa berdasarkan informasi dari lapangan, praktik penggunaan kompetensi berjalan lebih cepat daripada pengembangan konsep dan teori kompetensi. Mengapa hal itu terjadi? Hal itu terjadi karena kebanyakan dari pengguna kompetensi memperoleh pengertian kompetensi dari para konsultan mereka, yang mana para konsultan tersebut mengembangkan konsep kompetensi mereka sendiri sesuai dengan kepentingan mereka dan pelanggannya. Informasi kompetensi tersebut menyebar secara tidak formal dan tidak ilmiah ke masyarakat sehingga dewasa ini kita menjumpai adanya berg am penggunaan kompetensi. Hal ini merupakan salah satu penyebab terbatasnya ketersediaan literatur tentang kompetensi sehingga menjadi kendala bagi para pengembang konsep kompetensiyang menggunakan jalur ilmiah.

Ingin menambah kompetensi dibidang Health and Safety? silahkan klik Disini

 

Sumber Buku : KOMPETENSI Plus

Teori, Desain, Kasus dan Penerapan untuk HR serta Organis yang Dinamis

Penulis            : Parulian Hutapea, MBA dan Dr. Nurianna Thoha, MBA

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
WhatsApp chat