Implikasi Pemanasan Global

Keamanan Pangan

Mengingat kurangnya informasi yang tepat, dampak terinci dari pemanasan global terhadap pertanian tidak mungkin dihitung dengan benar pada tahap ini. Hanya perampatan luas yang dapat dilakukan.

Namun, sudah jelas bahwa jika iklim berubah seperti yang diramalkan, prospeknya bermacam-macam dan mungkin suram. Penurunan curah hujan jelas akan merupakan bencana bagi petani miskin di daerah anak sahara yang kering dan setengah kering di Afrika, timur laut Brasil dan sebagian Pakistan serta India.

Negara-negara yang tergantung pada hujan musiman akan menemui masalah pelik jika terjadi perubahan besar dalam arah angin musiman atau jumlah hujan yang dibawa musim tersebut.

Dampaknya tidak terbatas pada daerah kering saja. Pemanasan global dapat membuat daerah Barat-Tengah Amerika Serikat menjadi lebih panas dan berangin dengan kemungkinan terjadi kondisi berdebu; contoh dari apa yang akan terjadi dirasakan ketika kekeringan dan suhu tinggi pada tahun 1988 menurunkan hasil panen gabah sebesar 30 persen.

Penurunan hasil panen seperti ini jika berlangsung terus, hampir pasti akan membuat harga melonjak tinggi di pasar gabah internasional yang akan berakibat serius bagi Dunia Ketiga serta negara-negara lain yang tergantung pada impor gabah dari Amerika Serikat.

Mungkin saja bahwa dunia yang lebih panas, lebih lembab dan kaya akan karbon dioksida lamba-laun akan mampu menghasilkan lebih banyak pangan daripada sekarang. Tapi sebelum hal tersebut dapat terjadi, ada kemungkinan bahwa akan ada gangguan besar pada pola pertanian sekarang di sejumlah pasar daerah.

Dampak langsung dan jangka menengah dari pemanasan global hampir pasti merupakan penurunan yang berarti dalam keamanan pangan mungkin bagi mayoritas masyarakat dunia.

Perubahan Permukaan Laut

Banyak dari kawasan pertanian terkaya dan berpenduduk paling pada di dunia terletak di dataran rendah sepanjang pantai. Diperkirakan bahwa sekitar setengah dari umat manusia hidup di daerah-daerah demikian.

Daerah-daerah tersebut meliput delta-delta sungai besar seperti Sungai Gangga-Brahmaputra di Bangladesh, Nil di Mesir, Mekong di Indo-Cina, Indus di Pakistan dan Yangtse serta Hwang Ho di Cina. Daerah-daerah rendah lain yang rentan terhadap peningkatan permukaan laut adalah Guyana, Papua Nugini, Afrika bagian timur, India dan Indonesia.

Peningkatan permukaan laut meningkatkan risiko banjir. Hal ini terutama berlaku jika pemanasan global dikaitkan dengan badai dan topan yang lebih ganas. Beberapa bencana terburuk di Bangladesh, seperti yang terjadi pada tahun 1970 dengan 250.000 orang menjadi korban, dan tahun 1991 dengan korban yang sama jumlahnya, dikaitkan dengan angin puyuh.

Ketika laut memecah pertanian pantai di Belanda dan pantai timur Inggris tahun 1953, hal itu terjadi akibat badai besar di Laut Utara.

Gangguan Ekologis

Kehidupan tumbuhan dan hewan pada daerah tertentu beradaptasi secara biologis terhadap iklim yang ada. Spesies pohon seperti acacia dan baobab, misalnya sesuai untuk daerah curah hukan dan suhu savana. Jika iklim menjadi panas dan lebih kering, spesies ini mengalah terhadap semak rendah yang jarang, yang lebih dapat hidup dalam kondisi yang lebih keras. Demikian pula, jika hujan meningkat, spesies savana akan digantikan oleh yang lain yang lebih mampu memanfaatkan kelebihan persediaan air.

Tetapi, sekal lagi, skala waktunya amat penting. Pohon dapat hidup ratusan tahun. Pergerakan alami dari hutan hanyalah beberapa kilometer per dekade sedangkan laju perubahan dalam kondisi seperti yang diramalkan terjadi akibat pemanasan global lebih tinggi beberapa kali lipat. Dalam banyak hal, hutan tidak akan bergerak secara bertahan menghadapi peningkatan suhu, tapi akan mati.

Dampak Sosial dan Politik

Walaupun rincian dari kemungkinan dampak pemanasan global masih kasar, tetapi informasi menunjukkan bahwa sistem dunia akan mengalami perubahan dan peningkatan tekanan iklim. Lagi pula, banyak daerah yang sedang menghadapi prospek iklim keras yang kian meningkat sudah termasuk dalam daftar yang paling rentan.

Penyesuaian terhadap perubahan iklim merupakan hal yang mungkin, tapi akan makan sumberdaya yang cuku besar yang mungkin seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak. Populasi yang sudah resah dan kecewa terhadap kemajuan pembangunan nasional akan menjadi lebih kecewa jika belanja pemerintah dialihkan pada pembangunan pertahanan laut dan kegiatan serupa lainnya. Ketika prospek perbaikan nyata dalam taraf hidup menurun, kekerasan dan instabilitas politik akan meningkat.

Kejadian-kejadian klimatik yang ekstrem juga mempunyai biaya sosial yang tinggi. Pada tahun 1982 angin topan Isaac merusak lebih dari setengah perumahan dan lebih dari setengah produksi pertanian di Tonga; dan pada tahun 1988 angin topan Gilbert menyebabkan kerugian yang diperkirakan lebih dari US$ 870 juta di Jamaika.

Masalah “pengungsi lingkungan” juga akan menjadi lebih besar jika perubahan iklim mulai menyentuh sistem-sistem produktif yang ringkih ke arah kehancuran. Pada daerah di mana orang menemukan bahwa ladangnya tidak lagi dapat menghidupi mereka, mereka dihadapkan pada pilihan pindah atau mati. Pembatas politik bukanlah hambatan bagi orang yang putus asa.

Kisaran Ketidakpastian

Dampak potensial dari pemanasan globl amat besar dan mempunyai akibat besar bagi semua masyarakat manusia. Tetapi kisaran ketidakpastian dalam analisis ilmiah sampai saat ini berarti bahwa masih tidak mungkin untuk menyatakan dengan tepat apa dampak yang mungkin terjadi, atau apa yang akan dirasakan, bahkan pada tingkat global.

Jika kita mengambil analisis IPCC saja dan mengabaikan skenario yang lebih suram atau optimis yang disarankan oleh pihak-pihak lain, maka pembuat keputusan masih dihadapkan pada pilihan dengan kisaran yang amat luas. Hal ini digambarkan oleh dua skenaria di bawah ini.

Skenario ‘optimis’ IPCC

Pada kisaran bawah, atau ujung optimis dari kisaran prediksi IPCC, kepekaan iklim global terhadap peningkatan gas-gas rumah kaca rendah. Dibawah kondisi ini dan kecenderungan berlangsungnya “bisnis seperti biasa”, peningkatan suhu global pada tahun 2030 adalah 0,5 derajat celsius dan permukaan laut naik 5 cm. Peningkatan suhu yang disetujui pada peralihan ke abad 21 adalah 1,5 C dan peningkatan permukaan laut 45 cm. Jika prediksi ini benar, tidak akan ada atau hanya akan ada sedikit perubahan iklim pada 30 atau 40 tahun mendatang.

Dampaknya baru akan mulai tampak jelas pada paruh kedua abad mendatang.

Skenario ‘pesimis’ IPCC

Pada ujung atas, atau pesimis dari kisaran prediksi IPCC, kepekaan iklim terhadap peningkatan konsentrasi gas rumah kaca tinggi. Di bawah kondisi ini, dengan skenario ‘bisnis seperti biasa’, peningkatan suhu global pada tahun 2030 adalah 1.5 derajat celsius dan permukaan laut naik 45 cm. Peningkatan suhu yang disetujui pada peralihan abad adalah 4.5 derajat celsius dan peningkatan permukaan laut adalah satu meter.

Dalam hal ini, ramalan peningkatan suhu sampai tahun 2030 adalah sekitar 3 kali lebih besar daripada pada abad yang lalu, atau sekitar 0.4 derajat celsius per dekade. Permukaan laut naik lebih dari 10 cm per dekade, 10 kali lebih cepat daripada selama seratus tahun terakhir.

Jika dunia sedang berjalan ke arah ini, dampaknya akan tampak jelas damal kurun waktu 10-15 tahun mendatang. Perubahan-perubahan besar dalam pola cuaca, dan implikasi lain dari pemanasan global, seperti yang digambarkan dalam bab ini, mungkin sudah mulai beralan dalam tahun 2020-an, ketika anak-anak sekarang masih berumur 30-an pada saat itu.

Sumber

Judul Buku : Pemanasan Global – Siapakah yang Merasa Panas?

Penulis : Gerald Foley

Penerjemah : Hira Jhamtani

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!