Industri Manufaktur (Part 1)

Pembangungan nasional bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pemerataan pembangunan dalam bentuk penyediaan lapangan pekerjaan maupun penyediaan barang dan jasa. Industri menempati posisi penting dalam pembangunan dan merupakan motor penggerak yang memperkuat dasar bagi peningkatan kemakmuran. Industri juga berfungsi memperluas landasan pembangunan dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Berbagai kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi oleh barang dan jasa yang disediakan dari sektor industri.

Industri mengekstrasi material dari basis sumber daya alam, dan memasukkan baik produk maupun limbah ke lingkungan hidup manusia. Industri mengakibatkan berbagai perubahan dalam pemanfaatan energi dan sumberdaya alam dan industri juga telah meningkatkan permintaan akan sumberdaya alam yang tidak diperbaharui.

Menurut beberapa definisi industri adalah suatu sistem yang merupakan perpaduan subsistem fisis seperti komponen-komponen lahan, bahan mentah atau bahan baku, sumber daya energi, iklim dengan segala alamiahnya dan subsistem manusia tenaga kerja, kemampuan teknologi, budaya, keadaan politik, keadaan pemerintahan, transportasi dan komunikasi, konsumen dan pasar. Industri juga dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk memproduksi barang jadi, bahan baku, atau barang mentah melalui proses penggarapan dalam jumlah besar sehingga barang tersebut dapat diperoleh dengan harga serendah mungkin tetapi dengan mutu sebaik mungkin. Industri bukan lagi sekedar mengarah pada bagaimana cara menghasilkan produk seefisien mungkin, melainkan juga pada bagaimana cara memberi fungsi yang diminta konsumen serta meminimalkan konsumsi energi dan material.

Pada dasarnya kegiatan suatu industri adalah mengolah material menjadi produk. Spesifikasi dan jenis limbah yang diproduksi pada sektor industri dapat diamati pada proses masukan, pengolahan maupun pada keluarannya. Pencemaran yang ditimbulkan oleh industri diakibatkan adanya limbah yang keluar dari pabrik dan mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Bahan bangunan yang keluar dari pabrik dan masuk ke lingkungan dapat diidentifikasikan sebagai sumber pencemaran. Sebagai sumber pencemaran perlu diketahui jenis bahan pencemar yang dikeluarkan, kuantitas dan jangkauan pemaparannya.

Pencemaran terjadi akibat limbah beracun dan berbahaya masuk ke dalam lingkungan sehingga terjadi perubahan terhadap kualitas lingkungan. Lingkungan sebagai wadah penerima akan menyerap bahan limbah tersebut sesuai dengan kemampuan asimilasinya, dimana wadah penerima berupa air, udara dan tanah masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda, misalnya air pada suatu saat dan tempat tertentu akan berbeda karakteristiknya dengan air pada tempat yang sama tetapi pada saat yang berbeda.

Kemampuan lingkungan untuk mendukung aktifitas manusia dan memulihkan diri sendiri disebut dengan daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya berbeda. Beberapa komponen lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya akan menetapkan nilai daya dukung lingkungan.

Bahan pencemar yang masuk kedalam lingkungan akan berinteraksi satu atau lebih komponen lingkungan. Perubahan komponen lingkungan secara fisika, kimia dan biologi sebagai akibat dari adanya bahan pencemar akan mengakibatkan perubahan nilai lingkungan yang disebut dengan perubahan kualitas lingkungan. Limbah yang mengandung bahan pencemar akan mengubah kualitas lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada padanya. Oleh karena itu, sangat perlu diketahui sifat limbah dan komponen bahan pencemar yang terkadung di dalam limbah tersebut. Penggunaan air yang berlebihan, sistem pembuangan yang belum memenuhi standar, sumber daya manusia yang belum terampil adalah beberapa faktor yang harus dijadikan pertimbangan dalam mengidentifikasi sumber pencemaran.

Industri yang banyak berkembang di Indonesia dapat diklasifikasikan kedalam berbagai bidang antara lain:

1. Industri Pertanian

Pembangunan pertanian yang ditujukan untuk meningkatkan produktifitas pertanian yaitu dengan mengadakan perbaikan pada proses pengelolaannya dari pengunaan alat-alat tradisional ke pengunaan teknologi modern. Produksi yang ditingkatkan ini dapat memberikan keuntungan pada lingkungan melalui perbaikan unsur hara tanah, teknik pengelolaan air, atau melalui frekuensi penggunaan tanah. Tetapi disisi lain, penggunaan alat modern dapat pula menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak negtif tersebut dapat bersifat sementara maupun permanen. Penggunaan zat-zat tertentu seperti insektisida, fungsida dan herbsid untuk membasmi hama tanaman, hewan dan gulma yang bisa mengganggu produksi tanaman merupakan hal negatif yang menimbulkan masalah lingkungan.

2. Industri Pertambangan

Industri pertambangan, yaitu industri yang mengolah bahan mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Industri pertambangan dibedakan menurut jenisnya antara lain pertambangan minyak dan gas bumi, logam-logam mineral, bahan organik dan lain-lainnya.

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi, kelayakan , konstruksi, penambangan, pengelolaan dan pemurnian. pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. (UU Minerba No.4 Tahun 2009).

Tahapan kegiatan pertambangan yaitu:

  • Penyelidikan Umum adalah kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
  • Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
  • Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pascatambang.
  • Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.
  • Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
  • Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
  • Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.
  • Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengelolaan dan pemurnian sampai tempat penyerahan.
  • Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan mineral atau batubara.
  • Kegiatan Pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang adalah kegiatan terencana, sistematis dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal diseluruh wilayah penambangan.
  • Kegiatan pascatambang salah satunya adalah reklamasi. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas dan ekosistem agar dapat berfungsi kembail sesuai peruntukannya.
  • Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya.

Aktifitas industri penambangan menimbulkan pengaruh baik itu positif maupun negatif. Pengaruh positif kegiatan penambangan yaitu memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah, membuka keterisolasian wilayah, menyumbangkan devisa negara, membuka lapangan kerja, pengadaan barang dan jasa untuk konsumsi dan yang berhubungan dengan kegiatan produksi, serta dapat menyediakan prasaran bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya.

Pencemaran lingkungan sebagai akibat pengelolaan pertambangan umumnya disebabkan oleh faktor kimia, faktor fisik dan biologis. Keadaan tanah, air dan udara setempat dari tambang mempunyai pengaruh yang timbal balik dengan lingkungannya. Sebagai contoh pencemaran lingkungan oleh CO sangat dipengaruhi oleh keadaan suhu, kelembaban, kerenggangan udara, tekanan panas dan aliran udara setempat.

Menurut Noor (2006) permasalahan yang kerapkali terjadi pada kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral adalah terjadinya penurunan kualitas lingkungan seperti pencemaran pada tanah, polusi udara dan hidrologi air. Beberapa contoh lokasi tambang yang telah mengalami penurunan kualitas lingkungan, antara lain tambang timah di Pulau Bangka, tambang batu bara di Kalimantan Timur, tambang Emasi di Sumbawa Barat, tambang nikel di Sulawesi dan tambang tembaga di Papua. Pembukaan lapisan tanah yang subur pada saat penambanganm dapat mengakibatkan daerah yang semula subur menjadi daerah yang tandus. Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikan tanah tandus menjadi subur kembali. Lubang-lubang bekas penambangan mengganggu pemandangan, flora dan fauna tidak lagi dapat memanfaatkan lahan tersebut, dan genangan air yang terdapat pada lubang tersebut menimbulkan penyakit baru. Polusi dan degradasi lingkungan terjadi pada semua tahap dalam aktivitas pertambangan. Tahap tersebut dimulai pada tahap prosesing mineral dan semua aktivitas yang menyertainya seperti penggunaan peralatan survei, bahan peledak, alat-alat berat, limbah mineral padat yang tidak dibutuhkan (Noor, 2006).

Ingin memahami setiap limbah B3 pada industri? Ikuti training Multikompetensi dengan mengklik Link ini.

Sumber:

Judul Buku: Pengelolaan Limbah Berkelanjutan

Penulis : Dr. Arif Zulkifli, S.T., M.M.

Penerbit : Graha Ilmu

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!