Industri Manufaktur (Part 2)

3. Industri Pariwisata

Pembangunan pariwisata merupakan salah satu pembangunan yang perlu dikembangkan karena dari sektor ini dapat meningkatkan penerimaan devisa negara, memperluas lapangan kerja serta memperkenalkan kebudayaan bangsa dan tanah air. Penanaman modal di bidang pariwisata ini secara finansial akan menguntungkan bagi penyelenggara dan secara langsung lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar objek pariwisata. Disamping itu adanya keuntungan secara ekonomi tadi tidak mengabaikan kemungkinan baik secara fisik maupun sosial budaya.

4. Industri Manufaktur

Manufaktur adalah suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan sumber daya manusia dan suatu proses untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi untuk dijual. Istilah ini bisa digunakan untuk aktivitas manusia, dari kerajinan tangan sampai ke produksi dengan teknologi tinggi, namun demikian istilah ini lebih sering digunakan untuk dunia indsutri, dimana bahan baku diubah menjadi barang jadi dalam skala besar.

Kata manufaktur berasal dari bahasa Latin manus-factus yang berarti dibuat dengan tangan. Kata manufaktur pertama kali digunakan tahun 1756. Manufaktur, dalam arti luas, adalah proses merubah bahan baku menjadi produk. Proses ini meliputi:

  1. Perancangan produk
  2. Pemilihan material
  3. Tahap-tahap proses dimana produk tersebut dibuat

Manufaktur ada dalam segala bidang sistem ekonomi. Dalam ekonomi pasar bebas, manufakturing biasanya berarti produksi secara masal untuk dijual ke pelanggan untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa industri seperti semikonduktor dan baja lebih sering menggunakan istilah fabrikasi dibandingkan manufaktur.

Pada konteks yang lebih modern, manufaktur melibatkan pembuatan produk dari bahan baku melalui bermacam-macam proses, mesin dan operasi, mengikuti perencanaan yang terorganisasi dengan baik untuk setiap aktifitas yang diperlukan. Manufaktur pada umumnya adalah suatu aktifitas yang kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas sebagai berikut:

  • Perancangan produk, pembelian dan pemasaran
  • Mesin dan perkakas, manufakturing dan penjualan
  • Perancangan proses, production control, dan pengiriman
  • Material, support services, dan customer service

Basis industri manufaktur terdiri atas kelompok-kelompok industri:

  1. Industri material dasar, yang terdiri dari: industri besi dan baja, industri semen, industri petrokimia, dan indsutri keramik;
  2. Industri permesinan, yang meliputi: industri peralatan listrik dan mesin listrik, industri mesin dan peralatan umum;
  3. Industri manufaktur padat tenaga kerja, merupakan penghasil produk sandang, pangan, bahan bangunan, kesehatan dan obat, dan sebagainya, yang meliputi antara lain: industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, dan industri farmasi dengan bahan baku dalam negeri.

Peran industri manufaktur sebagai berikut:

  1. Menyerap banyak tenaga kerja;
  2. Memenuhi kebutuhan dasar dalam negeri seperti makanan, minuman dan obat-obatan;
  3. Mengolah hasil pertanian, perikanan dan sumber-sumber daya alam lain dan;
  4. Memiliki potensi pengembangan ekspor.

Pada era industrialisasi, peran industri manufaktur dalam penciptaan produk domistik bruto baik secara nasional maupun regional cukup besar. Hingga akhir 2008 lalu sektor ini mampu memberi peran berarti dalam perekonomian dan memiliki kontribusi hingga 23% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan tingkat penyerapan tenaga kerja mencapai 12 juta orang. Pada tahun 2010, total ekspor nasional senilai $157,8 miliar dan sebesar $129,7 miliar berasal dari non-oil dan gas. Sementara dari total tenaga kerja nasional yang 108.207.767 pekerja, sebesar 12,8% bekerja pada industri manufaktur.

Dalam 10 tahun (1987-1996) industri manufaktur non migas tumbuh rata-rata 12% per tahun, lima poin lebih tinggi dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 6,9%. Setelah krisis (2000-2004) industri manufaktur non migas masih tumbuh rata-rata 5,7% per tahun, sedikit lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan PDB yang mencapai 5,2%. Namun pada lima tahun terakhir (2004-2008) pertumbuhan industri manufaktur non migas tumbuh rata-rata 5,6% pertahun, lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan PDB yang mencapai 5,7%.

Visi pembangunan industri nasional dalam jangka panjang adalah membawa Indonesia pada tahun 2025 untuk menjadi “sebuah negara industri tangguh di dunia”. Untuk mewujudkan visi tersebut, sektor industri mengemban misi, sebagai berikut:

  1. Menjadi wahan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat
  2. Menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi nasional
  3. Menjadi pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi masyarakat
  4. Menjadi wahana untuk memajukan kemampuan teknologi nasional
  5. Menjadi wahana penggerak bagi upaya modernisasi kehidupan dan wawasan budaya masyarakat
  6. Menjadi salah satu pilar penopang penting bagi pertahanan negara dan penciptaan rasa aman masyarakat
  7. Menjadi andalan pembangunan industri yang berkelanjutan melalui pengembangan dan pengelolaan sumber bahan baku terbarukan, pengelolaaan lingkungan yang baik, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.

Beberapa kendala industri manufkatur:

  1. Bahan baku indsutri kimia hulu, khususnya naphta dan kondensat, masih diimpor, sedangkan kemampuan pasok gas bumi dalam negeri masih dibawah kebutuhan industri pemakai sebagai bahan baku maupun energi. Sedangkan di sisi lain industri primer migas nasional masih mengekspor gas bumi, naphta dan kondensat;
  2. Belum terintegrasinya industri primer pengolah sumber daya tambang mineral dengan industri hulu, industri antara dan industri hilir. Hal ini berlaku untuk sumber daya mineral migas maupun non migas serta bahan galian non logam;
  3. Perlindungan produk lokal terhadap persaingan bebas sepenuhnya optimal dan berarti, terutama karena fakotr pemberlakuan bebearpa perjanjian perdagangan bebas secara bilateral dan regional (Free Trade Agreement) dan atau belum bersaingnya produk lokal terhadap produk impor, disamping beredarnya produk impor karena faktor produk lokal belum sepenuhnya yang membanjiri pasar lokal dengan harga 20% lebih murah dengan kualitas yang sama; membanjirnya aneka produk konsumsi impor, seperti garmen, alas kaki dan sebagainya;
  4. Belum optimalnya dukungan ketersediaan infrastruktur yang memadai, seperti ketersediaan prasarana transportasi jalan terutama di wilayah pengembangan industri, ketersediaan dan pasok energi gas dan tenaga listrik, jaringan distribusi gas belum merata menjangkau wilayah pengembangan industri seperti jaringan pantura jawa terputus di wilayah Jawa Tengah. Ditambah lagi kebijakan daerah terhadap pencadangan lahan bagi lokasi industri belum optimal dan sebagainya;
  5. Kebijakan intensif investasi baru dan pengembangan belum optimal, baik yang menyangkut administrasi, pajak dan fiskal, seperti belum luasnya cakupan bidang usaha yang mendapat pengurangan pajak atau tax allowance, terbatasnya cakupan bidang usaha yang mendapatkan pembebasan pajak atau tax holiday, masih relatif tingginya bunga investasi, belum dikembangkannya instrument kebijakan insentif usaha di daerah;
  6. Kegiatan riset dan pengembangan teknologi industri masih terbatas dan belum sepenuhnya berkaitan dengan aspek kebutuhan dunia usaha industri.
Perancangan Sistem Manufaktur

Manufaktur fokus pada analisa perencanaan, pengembangan, dan penggunaan metode dan alat produksi yang tepat agar produk tersebut dapat diproduksi dengan selalu mempertimbangkan profitability, realibility, pemeliharaan, kemampuan dari proses manufakturnya. Dalam beberapa hal, regulasi pemerintah juga menjadi pertimbangan yang penting dalam perancangan proses manufaktur.

A. Proses dalam sistem manufaktur

Banyak perusahaan besar di Indonesia menerapkan sistem manufaktur untuk mempermudah pekerjaan seperti:

  1. Desain Produk
    Industri merancang sedemikian rupa sehingga barang yang di produksi dapat diterima oleh konsumen. Miaslkan pada industri minuman kaleng perusahaan harus merancang jenis minum yang mereka buat, bahan-bahan yang diperlukan, mutu kaleng, nama minuman, logo minuman dan sebagainya. Perancangan produk yang sesuai dengan keingingan perusahaan.
  2. Persiapan material atau bahan mentah
    Yang terpenting dalam proses manufaktur adalah persiapan material yang akan digunakan pada proses barang. Hal ini dilakukan berdasarkan desain produk yang sebelumnya sudah dirancang dengan matang. Pemilihan bahan mentah sangat berpengaruh pada hasil akhir, sehingga perusahaan harus berhati-hati dalam proses pemilihan bahan mentah.
  3. Proses pembuatan
    Setelah tahap perancangan dan pemilihan bahan mentah tahap berikutnya adalah pengerjaan proses produksi. Pada sistem manufaktur pembuatan barang dilakukan secara fisik, alat atau mesin namun pada penggunaan mesin harus tetap di bawah pengawasan ketat oleh perusahaan.
  4. Pemeriksaan Kualitas atau Quality Control
    Setelah barang jadi selesai dibuat selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas barang tersebut karena bisa saja terdapat cacat pada barang jadi tersebut. Pengecekan ini dilakukan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan harapan dan dapat di pasarkan dengan mudah.

B. Penyusunan Strategi Sistem Manufaktur

Penyusunan strategi sistem manufaktur perlu disesuaikan dengan pola permintaan produk yang diinginkan konsumen. Ada beberapa tipe lingkungan manufaktur yang diklasifikasikan.

Production Machine

Mesin produksi merupakan mesin yang digunakan dalam proses produksi yang mendukung produksi barang.

Mesin dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Manually Operated Machine, yaitu mesin dioperasikan dan disupervisi oleh pekerja dimana mesih memberikan kekuatan untuk beroperasi dan pekerja melakukan pengawasan. Pekerja harus selalu berada terus menerus didekat mesin.
  • Semi-Automated Machine, yaitu mesin dioperasikan dengan suatu kontrol program dan pekerja melakukan loading/unloading atau tugas lain dalam setiap work cycle.
  • Fully automated, yaitu mesin dapat dioperasikan dalam periode waktu yang lama tanpa perlu perhatian dari seorang pekerja. Pekerja hanya diperlukan setelah mesin beroperasi setiap 10 atau 100 cycle.

Material Handling

Material Handling System pada umunya merupakan aktivitas pemindahan suatu material dengan metode yang benar yang sesuai dengan material yang digunakan untuk memindahkan material, work-in-process, produk antara mesin, workstations dan support services (Heragu, 2006).

Ingin memahami jenis dan ciri limbah pada setiap Industri? Ikuti training Multikompetensi dengan mengklik Link ini.

Sumber

Judul Buku : Pengelolaan Limbah Berkelanjutan

Penulis : Arif Zulkifli

Penerbit : Graha Ilmu

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!