Industri Mebel: Kayu Ilegal Jadi Tantangan Utama

JAKARTA – Selain masalah inovasi desain produk yang bisa dipasarkan (marketable) untuk konsumen internasional, kasus perdagangan kayu ilegal dinilai menjadi salah satu tantangan masa depan industri mebel di Indonesia.

Hal itu terungkap saat pembukaan International Furniture & Craft Fair Indonesia (Iffina) 2013 di Jakarta, Senin (11/3). Hadir dalam pembukaan itu, antara lain Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono.

Zulkifli Hasan mengatakan guna menghadapi tantangan perdagangan kayu ilegal, pemerintah telah menetapkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) melalui Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 38 Tahun 2009.

Komitmen pemerintah itu, lanjutnya, digunakan untuk menjamin kelegalan produk perkayuan Indonesia. Upaya itu, menurut dia, juga berguna untuk meningkatkan daya saing produk, mencegah pembalakan liar, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pengelolaan hutan lestari.

Zulkifli juga menuturkan saat ini, tren perdagangan kayu dunia menunjukkan bahwa hampir semua negara mulai menggunakan sistem legalitas kayu. “Hampir seluruh negara di seluruh dunia kini sepakat untuk melindungi kayu alam dengan sistem legalitas itu, terutama karena saat ini perubahan iklim terus terjadi,” katanya.

Berbagai negara utama tujuan ekspor perkayuan Indonesia seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia, saat ini, telah mengadopsi sistem legalitas kayu tersebut. “Uni Eropa misalnya yang per 3 Maret 2013 ini telah menetapkan European Union Timber Regulation (EUTR) untuk semua produk perkayuan yang masuk ke negaranya,” paparnya.

Oleh karena itu, pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, terus mendorong penerapan SVLK untuk semua pelaku industri perkayuan, termasuk industri mebel dan kerajinan berbahan dasar kayu.

“SLVK tadi akan membantu mereka karena negara lain sudah punya aturan itu. Nantinya SVLK untuk usaha kecil dan menengah (UKM) akan bisa disubsidi. Izinnya juga bisa atas nama asosiasi yang menaungi mereka,” ujarnya.

MS Hidayat mengungkapkan Indonesia memiliki keunggulan yang tak tersaingi oleh negara lain untuk mengembangkan industri mebel, yakni produksi kayu tropis lokal yang melimpah.

Hanya saja, kata dia, perlu adanya inovasi desain produk yang bisa dipasarkan (marketable) untuk konsumen internasional. Inovasi, lanjut Hidayat, selain bisa digunakan untuk meningkatkan daya saing produk untuk dipasarkan, juga mendorong hilirisasi yang terus digalakkan pihaknya.

“Kita butuh inovasi dari desain kita yang bisa marketable, kerja sama dengan konsultan atau desainer asing buat saya sangat dianjurkan agar seluruh produk bisa marketable,” tukasnya.

Ekspor Mebel

Terkait ekspor mebel, MS Hidayat mengatakan tahun ini ekspor mebel bisa mencapai 2 miliar dollar AS. Hal ini seiring dengan pemulihan ekonomi dunia. “Saya kira pertumbuhan industri kayu akan melonjak tinggi karena market sudah mulai normal, jadi bisa menuju angka di atas dua miliar dollar AS,” katanya.

Menurut dia, pasar global terus menunjukkan adanya pemulihan. Pasar tradisional Eropa, termasuk Eropa Timur, Amerika Serikat, Jepang dan Timur Tengah sudah semakin membaik. Dengan kondisi demikian, diharapkan ekspor mebel Indonesia bisa mendekati angka yang sama sebelum krisis ekonomi melanda dunia pada 2008.

“Sebelum 2008, saat krisis keuangan itu, ekspor mebel kita sekitar 2,2 miliar dollar AS. Kemudian turun hingga 1,5 miliar dollar AS. Sekarang ini kira-kira 1,6 miliar dollar AS tapi bisa menuju ke 2 miliar dollar AS,” paparnya.

Ambar Tjahyono menambahkan dengan digelarnya International Furniture & Craft Fair Indonesia (Iffina) 2013 bisa menjadi ajang promosi budaya dan kerajinan Indonesia di dunia internasional.

“Selain menjadi tujuan utama pembeli dari seluruh dunia, pameran ini juga akan menjadi pameran budaya dan kerajinan terbesar dari Indonesia,” katanya.

Dalam Iffina 2013 ini pihaknya menargetkan meraup transaksi hingga 400 juta dollar AS atau naik dari pencapaian tahun lalu yang sekitar 300 juta dollar AS.

sumber : Koran jakarta, Website Kemenperin

photo : <a href=’https://www.freepik.com/free-photo/sunlight-in-the-forest_800478.htm’>Designed by Danmir12</a>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me