Komunikasi dan Konsultasi Manajemen Risiko

Komunikasi dan Konsultasi Manajemen Risiko

Pendahuluan

Hasil Manajemen risiko harus dikomunikasi dan diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan sehingga akan memeberikan manfaat dan keuntungan bagi semua. Manaemen harus memperoleh informasi yang jelas mengenai semua risiko yang ada di bawah kendalinya.

Demikian pula dengan para pekerja, perlu diberi informasi mengenai semua potensi bahaya yang ada di tempat kerjanya sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan aman.

Pihak lainpun, seperti pemasok, kontrakotr dan masyarakat sekitar aktivitas perusahaan juga perlu mendapat informasi yang jelas tentang kegiatan perusahaan dan potensi bahaya yang dapat timbul dan akan membawa pengaruh terhadap keselematannya.

Dengan mengetahui dan memahami semua risiko yang ada di lingkungannya, maka semua pihak akan dapat bertindak hati-hati. Upaya pencegahan kecelakaan akan dapat dilakukan dengan efektif

Komunikasi dan Manajemen Risiko

Hasil manajemen risiko harus dikomunikasikan sehingga dapat diketahui oleh semua pihak.

Komunikasi yang digunakan dapat berupa edaran, petunjuk praktis, forum komunikasi, buku panduan atau pedoman kerja. Komunikasi harus mudah dipakai oleh semua pihak sehingga perlu dirancang sesuai dengan sasaran yang diinginkan.

Untuk pekerja tingkat bawah, aspek manajamen risiko harus dikomunikasikan dengan bahasa praktis dan sederhana sehingga mudah dipahami. Sebagai contoh, dapat dibuat pedoman pengoperasian mesin atau peralatan yang dilengkapi dengan gambar atau petunjuk praktis seperti, Safety Alert : Bahaya Penggunaan HP di Kendaraan.

Untuk tingkat yang lebih tinggi dan khusus, komunikasi manajemen risiko dapat dilakukan dalam bahasa dan lingkup yang lebih rinci dan teknis.

Sebagai contoh, hasil identifikasi dan evaluasi bahaya dengan menggunakan berbagai teknik dan metoda, harus disampaikan kepada semua pihak secara lengkap.

Dengan demikian mereka akan memahami apa risiko yang ada dalam kegiatan, tingkat risiko serta dampak yang ditimbulkannya, serta strategi untuk mengendalikannya.

Dengan mengetahui hasil identifikasi bahaya, manajemen dapat menyusun langkah strategis untuk melakukan perbaikan, peningkatan atau pengembangan fasilitias operasi, prosedur atau manajemen.

Partisipasi

Manajemen risiko mengisyaratkan perlunya partisipasi semua pihak dalam pengembangan dan penerapan. Tanpa partisipasi aktif, manajemen risiko tidak akan dapat berhasil dengan baik.

Oleh karena itu, dalam proses manajemen risiko semua pihak harus dilibatkan sesuai dengan porsinya masing-masih dan lingkup kegiatannya.

Misalnya untuk melakukan identifikasi bahaya, perlu dimintakan saran dan masukan dari para pekerja yang setiap saat terlibat atau mengetahui kondisi tempat kerja. Mereka paling mengetahi kondisi bahaya yang dapat terjadi dalam kegiatannya.

Bentuk konsultasi atau partisipasi dalam pengembangan manajemen risiko dapat dilakukan melalui berbagai bentuk antara lain :

A. Membentuk Tim Manajemen Resiko

Penerapan manajemen risiko harus dilakukan secara terencana dan terpadu dengan melibatkan banyak pihak. Karena itu, manajemen perlu membentuk tim implementasi yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan menerapkan manajemen risiko di lingkungan perusahaan atau organisasi.

Tim ini dapat dipilih atau disusun berdasarkan kompetensi atau menurut disiplin sehingga diharapkan dapat mewakili semua unsur sehingga tingkat partisipasi akan lebih tinggi.

B. Tim Identifikasi Bahaya

Perusahaan juga dapat membentuk tim khusus untuk menangani aspek tertentu, misalnya tim identifikasi bahaya.

Tim ini dapat dibentuk khusus untuk melakukan identifikasi bahaya diseluruh area kegiatan, misalnya tim khusus untuk kajian HAZOPS, Analisa Risiko Pekerjaan (Job Safety Analysis).

Ingin memahami cara manajemen risiko dalam dunia kerja? Ikut training Job Safety Analysis dengan mengklik Link ini.

Sumber :

Penulis : Soehatman Ramli, BE, SMK, MBA

Penerbit : Dian Rakyat

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!