Lean System

Sistem Produksi Toyota adalah konsep yang dikembangkan oleh perusahaan Toyota, Jepang. setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu adalah kondisi yang memengaruhi perusahaan manufaktur Jepang untuk bersaing, yaitu tingkat penjualan yang rendah sehingga sulit mengembangkan pasar dan produktivitas industri Jepang yang hanya 1/9 dari produktivitas industri Amerika Serikat. Toyota kemudian menerapkan target untuk meningkatkan produktivitasnya dan menurunkan biaya produksi untuk meraih untuk dengan tingkat penjualan yang rendah tadi.

Keuntungan Toyota pada akhir 2003 sama dengan laba gabungan dari perusahaan mobil saingannya, yaitu General Motors, Chrysler dan Ford. Margin keuntungannya pun 8,3 kali lebih tinggi daripada rata-rata industri.

Sistem produksi Toyota sering dikenal dengan sebutan Lean Manufacturing. Keunggulan sistem berpusat pada konsep mengurangi pemborosan, sehingga menghasilkan kualitas yang tinggi dengan biaya yang rendah. Selain itu, Toyota memiliki proses pengembangan produk baru tercepat didunia yang hanya memerlukan waktu 18-24 bulan, bahkan bisa kurang, sementara pesaingnya perlu waktu sampai 36 bulan.

Value dari Lean Manufacturing merupakan pendekatan kerja sama, menghargai pendapat, tidak saling menyalahkan, keberhasilan dan kegagalan adalah hasil kerja tim. Ketika anggota tim saling menyalahkan atau perusahaan mengurangi karyawan, kegiatan perbaikan sistem akan berhenti.

Budaya Lean Manufacturing dilakukan dengan menyebar nilai-nilai perusahaan, menyatukan tujuan dan strategi antar karyawan dan antar bagian di organisasi, mendorong orang untuk bekerja lebih baik. Berikut beberapa karakteristik industri otomotif.

  1. Kondisi/pertumbuhan pasar mobil sangat bergantung pada perekonomian nasional. Penjualan mobil dunia menurun ketika terjadi krisis oli di tahun 1974, dan di Indonesia ketika krisis ekonomi tahun 1997.
  2. Diverifikasi permintaan konsumen tinggi. Konsumen ingin jenis mobil yang beragam. Bahkan permintaan untuk 1 tipe mobil membutuhkan jenis mesin yang beraneka ragam.
  3. Proses manufaktur merupakan proses yang panjang dan saling berkaitan. Proses dimulai dari casting, stamping, body welding, machining, painting sampai assembly.
  4. Jumlah item dan pemasok banyak. Ada lebih dari 100 pemasok dalam dan luar negeri, dengan jumlah item lebih dari 3.000 jenis. Tingkat ketergantungan pada pemasok mencapai 70%.

Tingkat penjualan di Jepang sendiri relatif kecil, dan perusahaan sulit mengembangkan pasar jika hanya menjual didalam negeri. Maka, perlu perluasan produksi dan penjualan produk ke mancanegara. Semangat kerja manajemen Toyota adalah meningkatkan proses bisnis secara dramatis dengan

  • menghilangkan pemborosan waktu dan SDM;
  • membangun kualitas ke dalam sistem tempat kerja;
  • menemukan alternatif yang murah tetapi andal untuk mengganti teknologi baru yang mahal;
  • menyempurnakan proses bisnis;
  • membangun budaya belajar untuk peningkatan berkesinambungan.

Awal mulanya adalah kunjungan Toyota yang dipimpin oleh Kiichiro Toyoda ke pabrik mobil Ford di Amerika Utara. Kemudia dia mengambil konsep conveyor sistem Ford untuk memproduksi mobil. Selanjutnya sistem ini diterjemahkan ke dalam konsep Just-In-Time (JIT) melalui sistem produksi massal.

Sistem produksi Toyota sebenarnya merupakan sebuah filosofi dan budaya hidup yang ditanamkan didalam organisasi perusahaan tentang bagaiman perusahaan menjalankkan operasinya. Sistem ini bukan merupakan sebuah teknik yang mampu meningkatkan produktivitas dalam waktu singkat, melainkan sebuah pendekatan filosifs dan proses jangka panjang. Proses dalam waktu singkat belum tentu menghasilkan perbaikan yang signifikan, tetapi akumulasi kemampuan dan tertanamnya filosofi ini pada tiap orang akan memberikan dampak yang nyata pada jangka panjang, yaitu menghasilkan produk dan jasa yang efisien dari sisi biaya, memiliki kualitas yang diinginkannya oleh konsumen, dan secara fleksibel mampu memenuhi perubahan kebutuhan konsumen. Kemampuan karyawan yang ditunjang oleh budaya disiplin dan keinginan untuk selalu berkembang setiaps aat adalah kunci dari penetapan sistem ini.

Definisi Sistem Produksi Toyota adalah usaha untuk menghilangkan pemborosan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan (continous improvement).

Konsep ini merupakan sistem manufaktur yang bertujuan mengoptimalkan proses dan prosedur dengan cara menghilangkan pemborosan. Yang diproduksi dan dikirim kepada konsumen hanya produk yang sesuai jenis, umlah, dan waktu yang dibutuhkan. Semangat kerja yang ditanamkan adalah “Hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini”, “Menuju kesempurnaan”, “Tidak ada cara terbaik, tapi selalu ada cara yang lebih baik” dan sebagainya.

Pada perkembangannya, konsep Lean diterapkan pada industri lain, seperti rumah sakit dan perbankan. Disini efisiensi proses dapat mengurangi biaya proses secara signifikan.

Pencapaian sasaran dalam Sistem Produksi Toyota:

Harga Jual = Biaya Produksi + Keuntungan

Maka,

Keuntungan = Harga Jual (ditentukan pasar) – Biaya Produksi (ditentukan cara produksi)

Dengan demikian, ada dua cara meningkatkan keuntungan:

  • Meningkatkan harga jual naik (jika permintaan > produksi);
  • Mengurangi biaya proses (jika permintaan < produksi, harga jual ditentukan oleh pelanggan)

Menurut penelitian J. Kilpatrick (2006) yang dimuat dalam “The National Institute of Standards and Technology”, 40 perusahaan menerapkan filosofi Toyota ini mampu melakukan improvement sebagai berikut:

  • Mengurangi lead time sebesar 90%
  • Meningkatkan produktivitas sebesar 50%
  • Mengurangi WIP inventory sebesar 80%
  • Meningkatkan kualitas sebesar 80%
  • Mengurangi penggunaan ruang untuk proses operasional sebesar 75%

Untuk mengetahui letak terjadinya pemborosan, kita bisa membagi aktivitas kedalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Value added activity, yaitu kegiatan yang memberikan nilai tambah dari proses transformasi; kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang konsumen rela membayarnya untuk memperolehnya.
  2. Non value added activity, yaitu kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah kepada proses, tapi perlu dilakukan.
  3. Waste, atau pemborosan, yaitu kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah dan tidak perlu dilakukan di dalam proses

Contoh: seseorang ingin mengirim sebuah surat. Prosesnya dimulai dari mengambil kertas dan alat tulis, lalu mulai menulis, setelah selesai, surat dikirim ke kantor pos dan menunggu beberapa saat sampai surat dikirim oleh petugas di kantor pos. Yang termasuk dalam value added activities adalah menulis surat, mengirim surat ke kantor pos dan pengiriman surat oleh petugas. Yang termasuk non value added activites adalah mengambil kertas. Yang termasuk waste adalah menunggu di kantor pos sampai dengan dikirim oleh petugas.

Tujuan dari Sistem Produksi Toyota/Lean adalah membuat aliran/flow barang dari satu proses ke proses berikutnya sampai barang diterima oleh konsumen berjalan selancar mungkin, dengan menghilangkan atau meminimakan pemborosan (waste). Strategi produksinya adalah assembly-to-order (ATO), yaitu merakit modul standar untuk menghasilkan bermacam varian produk akhir. Pengelolaan inventor dan sistem produksi bersifat pull system (menarik/pull permintaan konsumen ke produksi, dan dari produksi ke pemasok).

Kebanyakan organisasi lebih berkonsentrasi mengefektifkan atau mempercepat proses yang memberikan nilai tambah (value added activities) dari pada mengurangi pemborosan. Hal ini dikarenakan kegiatan yang memberikan nilai tambah tampak dan dirasakan oleh langsung oleh manusia, sementara pemborosan biasanya tidak tampak. Pada contoh kegiatan menulis surat, kegiatan menulis dilakukan dan tampak oleh si penulis. Karena itu, dia ingin memperbaiki proses menulis untuk mempercepat penyelesaian tugas. Yang tidak tampak adalah proses lamanya menunggu dikantor pos ketika ingin mengirim surat, karena itu dia tidak berpikir tentang cara memperbaiki surat atau mempercepat proses menunggu antrean dalam mengirim surat.

Ingin memahami produktivitas karyawan didunia industri? Ikut training Multikompetensi dengan mengklik Link ini

Sumber

Judul Buku: Analisis Produktivitas & Efisiensi

Penulis : Ricky Virona Martono

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!