Manfaat dan Prospek Kelapa Sawit

Manfaat Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit menghasilkan buah yang disebut tandan buah segar (TBS). Setelah diolah, tandan buah segar akan menghasilkan minyak.

Minyak yang berasal dari kelapa sawit terdiri atas dua macam. Pertama, minyak yang berasal dari daging buah (mesocarp) yang dihasilkan melalui perebusan dan pemerasan (press). Minyak jenis ini dikenal sebagai minyak sawit kasar atau crude palm oil (CPO). Kedua, minyak yang berasal dari inti sawit, dikenal sebagai minyak inti sawit, atau palm kernel oil (PKO).

CPO dan PKO dapat dibuat menjadi berbagai jenis produk. Pabrik pengolahan CPO dan PKO disebut refineri dan ekstrasi, yang menghasilkan beberapa jenis minyak siap pakai seperti minyak goreng dan beberapa jenis minyak yang harus diproses lebih lanjut untuk menghasilkan produk lain. Selain minyak dan bahan solid lain, dihasilkan juga beberapa jenis padatan yang dapat langsung digunakan atau harus diproses lebih lanjut. Berikut ini beberapa manfaat minyak kelapa sawit :

a. Bahan Baku Makanan

Minyak kelapa sawit dapat diolah menjadi bahan makanan seperti mentega, lemak untuk masakan (shortening), bahan tambahan cokelat, bahan baku es krim, pembuatan asam lemak, vanaspati, bahan baku berbagai industri ringan dan bahan makanan ternak.

b. Bahan Baku Kosmetika dan Obat-obatan

Krim, shampoo, lotion, dan vitamin A adalah beberapa produk yang berasal dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit jauh lebih mudah diserap kulit dibandingkan dengan jenis minyak lain.

c. Bahan Baku Industri Berat dan Ringan

Pada industri kulit, minyak kelapa sawit digunakan sebagai bahan pelembut dan pelunak. Minyak kelapa sawit juga digunakan pada industri tekstil karena mudah dibersihkan. Sebagai pelumas, minyak kelapa sawit cukup baik digunakan karena tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi.

Minyak kelapa sawit digunakan sebagai “cold rolling” dan “fluxing agent” pada industri kawat dan perak dan sebagai bahan flotasi pada pemisahan biji tembaga dan kobalt. Pada industri ringan, minyak kelapa sawit dijadikan salah satu bahan baku pembuatan sabun, semir sepatu, lilin, deterjen, dan tinta cetak.

d. Biodiesel

Biodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel yang dibuat dari minyak nabati atau lemak hewani. Biodiesel minyak sawit merupakan biodiesel yang dibuat dengan cara esterifikasi dan atau transesterifikasi minyak sawit dan alkohol rantai pendek.

Dalam rangka memacu industri kelapa sawit nasional, PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) sejak tahun 1992 secara khusus mengembangkan biodiesel minyak sawit (BMS). Pada prinsipnya, proses utama untuk memproduksi biodiesel adalah reaksi transesterifikasi antara minyak nabati (kandungan asam lemak bebas <1%) dengan methanol, menggunakan katalis biasa.

Gliserol (gliserin) yang terbentuk pada reaksi tersebut tidak larut dalam metal ester, tetapi terpisah di bagian bawah reaktor, sehingga dapat dipisahkan dengan mudah. Ester yang terbentuk selanjutnya dicuci menggunakan air, untuk menghilangkan sisa katalis dan methanol. Proses ini dapat dilakukan secara curah (batch) atau sinambung (continous).

Apabila CPO digunakan sebagai bahan baku, perlu dilakukan pretreatment terlebih dahulu, karena CPO yang digunakan sebagai bahan baku umumnya memiliki kandungan asam lemak lebih dari 1% (umumnya 3-4%). Penurunan asam lemak bebas dapat dilakukan dengan cara penyabunan, distilasi vakum, atau esterifikasi dengan methanol menggunakan katali asam. Cara yang paling tepat adalah esterifikasi.

Proses pembuatan biodiesel dari CPO cukup sederhana dan tidak memerlukan peralatan canggih. Produksi biodiesel dari CPO dapat dilakukan dari skala kecih hingga skala besar.

Biodiesel memiliki sifat fisika kimia yang mirip dengan petrodiesel, sehingga dapat dicampur dengan petrodiesel maupun langsung digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Meskipun memiliki sifat yang mirip petrodiesel, biodiesel memiliki nilai titik nyala lebih tinggi daripada petrodiesel, sehingga tidak mudah terbakar. Biodiesel juga tidak mengandung sulfur dan benzena yang karsinogenik, sehingga lebih bersih dan aman dibandingkan dengan petrodiesel. (PKKS brosur biodiesel, bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan).

Berikut ini kutipan dari peneliti PPKS, Ansori Nasution, Jumat (7/12) di kantornya. “Biodiesel lebih ramah lingkungan karena emisi gas buangnya rendah, Namun, pengembangannnya terkendala harga minyak sawit. Biaya mengolah biodiesel Rp 1.500 per liter, yaitu untuk mencampur bahan bakar methanol, pengadaan katalis air, dan listrik. Pabrik biodiesel milik PPKS berhenti beroperasi awal 2007 karena harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) terus naik. Harga biodiesel di pasaran mencapai Rp 9.500 per liter. Harga ini lebih tinggi daripada harga solar untuk sektor industri yaitu Rp 6.700 per liter”.

e. Pemanfaatan Limbah

Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit antara lain janjang kosong, limbah cair, limbah solid (padatan) dan cangkang.

Sumber energi ketel boiler dapat dihasilkan dari serat janjang kosong dan cangkang. Pupuk kompos dapat dibuat menggunakan janjang kosong, abu janjang, limbah pada, dan cair. Gas yang dihasilkan dari kolam proses limbah juga dapat digunakan sebagai sumber energi (biogas). Janjang kosong juga dapat diproses menjadi industri fultural.

Fultural dapat digunakan sebagai bahan dasar pakan ternak. Janjang dapat diproses menjadi pulp, bahan baku pembuatan kertas, karena TBS mengandung serat kasar (crude fibre) lebih dari 20%, yang diperoleh melalui proses kimia. Vitamin, protein dan bahan industri kimia lain dapat diperoleh dari limbah pabrik melalui proses fermentasi atau proses enzymatic hidrolisa. Batang tanaman kelap sawit dapat diolah menjadi kayu untuk bahan pembuatan rumah dan perabotan.

Prospek Kelapa Sawit

Hingga saat ini Indonesia lebih banyak mengekspor CPO (90% ekspor minyak sawit Indonesia terbentuk CPO, 10% sisanya berupa produk turunan), karena pasar dunia lebih banyak meminta CPO dibandingkan produk turunannya. Salah satu sebabnya, industri hilir pengolahan oleo-kimia masih sedikit. Hal ini menyebabkan CPO yang diproses menjadi kebutuhan non-makanan baru sekitar 15%. Indonesia memiliki 62 industri hilir CPO dengan kapasitas terpasang sebesar 21 juta ton per tahun, tetapi tingkat utilitasnya baru 25%. Kondisi ini semakin dikhawatirkan dengan adanya kebijakan tarif pajak ekspor (PE) produk turunan yang sama dengan CPO.

Berbeda dengan Indonesia, sebagai pesaing utama, Malaysia membutuhkan lebih banyak bahan mentah. Menghasilkan bahan mentah dengan menanam atau membuka lahan baru tampaknya kurang menarik bagi Malaysia. Selain kesuburuan tanah yang kurang, tenaga kerja sulit didapatkan. Karena itu, Malaysia lebih memilih mengimpor bahan mentah dari Indonesia.

Namun, sebaiknya Indonesia juga mengembangkan industri hilir CPO, karena akan menghasilkan nilai tambah secara maksimal. Dengan begitu, Indonesia juga membutuhkan lebih banyak bahan mentah. Kondisi tanah dan iklim yang menguntungkan, tenaga kerja yang tersedia, serta teknologi yang memungkinkan dapat mempercepat perkembangan industri hilir CPO di Indonesia. Tidak hanya itu, masih terdapat jutaan hektare lahan yang sesuai untuk dikembangkan di Kalimantan dan Papua.

Meskipun merupakan produsen utama CPO di dunia, produktivitas Indonesia masih tertinggal dari Malaysia. Tingkat produktivitas kebun kelapa sawit di Indonesia sekitar 2,5 ton per hektare per tahun, sementara di Malaysia mencapai 3,5 ton per hektare per tahun.

Produksi per hektare kebun kelapa sawit di Indonesia masih berpeluang untuk ditingkatkan. Makin berkurangnya cadangan minyak bumi sebagai sumber energi serta kepedulian masyarakat internasional yang semakin meningkat menyikapi polusi dan pencemaran lingkungan, menjadikan prospek CPO sebagai bahan pengganti bahan bakar, pelumas dan deterjen yang selam ini berasal dari minyak bumi menjadi sangat baik. Hal ini dapat dilihat fakta semakin membaiknya harga CPO.

Harga CPO di Rotterdam, Belanda pada awal september 2007 sekitar 815 dollar AS per ton. Satu bulan kemudian, yakni pada minggu pertama November 2007 harganya telah mencapai 960 dollar AS per ton. Sementara, harga CPO di pasar lokal, misalnya di pelabuhan Belawan, pada minggu pertama bulan November 2007 mencapai Rp 8.018/Kg. Harga tandan buah segar (TBS) yang semakin “menarik” membuat para petani semakin bergairah merawat kebun kelapa sawit.

 

Ingin memperdalam pengetahuan industri kelapa sawit? Ikuti training Multi Kompetensi dengan mengklik Link ini

Sumber

Penulis : Maruli Pardamean

Penerbit : PT AgroMedia Pustaka

 

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!