Membangun Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI) yang Berpengetahuan

Perkembangan Sistem Agribisnis Kelapa Sawit Indonesia (SAKSI) ditandai dengan semakin menyempitnya spesialisasi fungsional dan semakin jelasnya pembagian kerja berdasarkan fungsi-fungsi sistem agribisnis. Sebagian usaha agribisnis kelapa sawit Indonesia telah dikembangkan dengan orientasi bisnis untuk mencari keuntungan dengan konsep sistem agribisnis terpadu.

Sayangnya, secara totalitas, SAKSI saat ini belum menjadi organisasi yang berpengetahuan karena beragamnya kualitas modal insani (human capital) yang menjadi pelaku dan penunjang keberadaan ASKSI dalam tiap subsitemnya. Selain itu, adanya fragmentasi dan disharmoni pada tataran proses antar subsistem SAKSI.

Perbedaan orientasi kepentingan pada tataran strukturm serta perbedaan orientasi rentang waktu pada tataran perilaku turut memperlambat terwujudnya SAKSI sebagai organisasi yang berpengetahuan.

Tulisan ini merupakan suatu pemikiran untuk menggunakan kerangka teori organisasi dan manajemen pengetahuan untuk membangun SAKSI yang berpengetahuan. Kerangka ini digunakan sebagai sistem dan proses untuk menadikan organisasi yang merangsang penalaran para anggotanya.

Mengambil dan berbagi aset intelektual sehingga menciptakan kompetensi inti yang unik, serta pengambilan keputusan yang tepat dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi untuk menciptakan hasil yang superior pada tataran implementasinya.

Dalam menulis epilog ini, kami menggunakan latar belakang pengetahuan kami untuk mengembangkan perilaku serta struktur dan proses organisasi yang dibutuhkan dalam memperbaiki SAKSI saat ini sehingga mampu menjadi organisasi yang berkembang.

Pertanyaan utama yang kami gunakan sebagai dasar eksplorisasi, yaitu “Apa yang membuat organisasi berpengetahuan mampu membuat organisasi berkembang?” dan “Bagaimana meningkatkan fleksibilitas dan integrasi antar-subsistem SAKSI sehingga bisnis kelapa sawit Indonesia menjadi bisnis yang mampu menyejahterakan bangsa secara berkelanjutan (sustainable?)”.

Dengan metode pendekatan kualitatif berdasarkan pengalaman praktis di bisnis kelapa


Sawit dan studi kepustakaan ini, kami mengusulkan model SAKSI sebagai organisasi yang berpengetahuan dengan pembentukan wadah Dewan Komoditas seperti yang diamanatkan UU Perkebunan. Dengan demikian, SAKSI mampu berkembang menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis nasional, regional dan global, mengentaskan kemiskinan di Indonesia; dan menadi penghela ekonomi nasional yang menyejahterakan para pelakunya

A. Perilaku, Struktur dan Proses

Organisasi adalah suatu unit terkoordinasi yang setidaknya terdiri dari dua orang untuk mencapai sasaran atau serangkaian sasaran yang ditentukan. Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meriah hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri.

Esensi dasar dari teori organisasi adalah konsep perilaku, struktur dan proses organisasi.

Perilaku organisasi merupakan bidang stuid yang mencakup teori, metode, dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin guna mempelajari persepsi individu, nilai-nilai, kapasitas pembelajaran individu, dan tindakan-tindakan saat bekerja dalam kelompok dan dalam organisasi secara keseluruhan.

Selain itu, analisis akibat lingkungan eksternal terhadap organisasi dan sumber daya, misi, visi, sasaran dan strateginya juga termasuk dalam bidang studi ini.

Struktur dan proses mempengaruhi perilaku dan budaya organisasi. Struktur organisasi adalah pembagian, pengelompokan, dan pengoordinasian tugas-tugas dan jabatan secara resmi dalam suatu organisasi. Struktur diilustrasikan dalam bagan organisasi.

Sementara proses organisasi merupakan aktivitas sumber kehidupan dalam struktur organisasi. Proses organisasi yang umum meliputi komunikasi, pengambilan keputusan, sosialisasi, dan pengembangan karir.

B. The Knowing Organization

Perilaku di dalam organisasi, baik secara individu maupun kelompok, struktur dan desain organisasi serta proses di dalam organisasi yang efektif akan menyebabkan adanya pengembangan organisasi. Organisasi yang berkembang akan menjadi lebih fleksibel serta lebih terintegrasi dan lebih memuaskan para anggotanya.

Organisasi yang berpengetahuan biasanya menerapkan integrasi teknologi informasi sehingga orang-orang didalam organisasi yang melaksanakan aktivitasnya akan selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannnya.

Pengolahan informasi didalam organisasi dapat dibagi dalam tiga arena yaitu :

  1. Interpretasi informasi melalui penalaran terhadap lingkungannya
  2. Konversi informasi melalui penciptaan pengetahuan baru dan
  3. Pengolahan informasi melalui pengambilan keputusan.

Arena penalaran, penciptaan pengetahuan dan pembuatan keputusan secara tipikal telah diuji sebagai sekelompok aktivitas diskrit yang terjadi didalam organisasi. Walaupun ketiga elemen pengolahan informasi diatas memiliki nilai sendiri-sendiri, dinamika gabungan antar tiga elemen tersebut menghasilkan potensi penciptaan nilai organisasi yang lebih besar.

C. Patok Duga

Patok duga merupakan suatu proses yang digunakand alam manajemen (terutama manajemen strategis). Dalam hal ini, perusahaan mengevaluasi berbagai aspek proses bisnis untuk menghasilkan praktik terbaik didalam industri dengan membuat perbandingan sistematik kinerja dan proses organisasi untuk menghasilkan standar baru atau penyempurnaan proses.

Model patok duga bermanfaat untuk menentukan seberapa baik kinerja suatu perusahaan dibandingkan dengan organisasi yang serupa didalam industrinya.

Patok duga merupakan titik referensi pengukuran. Kemudian dilanjutkan dengan rencan pengenmbangan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut. Patok duga mungkin merupakan proses sekali jadi, tetapi biasnya diperlakukan sebagai proses berkesinambungan sehingga perusahaan secara terus-menerus menyempurnakan praktik-praktiknya.

Patok duga bisnis berhubungan dengan konsep kaizen dan keunggulan kompetitif. Istilah kaizen berasal dari istilah agam Buddha yang berarti “memperbaharui hati dan membuatnya baik”. Dalam bisnis, konsep kaizen diubah menjadi “hati perusahaan”. Kaizen berarti pengembangan dan kemajuan berkesinambungan yang menentukan keberhasilan jangka panjang.

Prinsip implementasi kaizen adalah modal insani (human capital) yang merupakan aset perusahaan terpenting. Prosesnya harus dilakukan secara bertahap dan kemajuannya harus dihitung secara kuantitatif berdasarkan proses kinerja. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan atau kondisi perusahaan yang lebih baik dari pesaingnya.

Dalam konteks SAKSI, keunggulan kompetitif kita adalah iklim yang sangat menunjang pertumbuhan kelapa sawit sehingga biaya produksi menjadi murah.

Manfaat dari penggunaan patok duga adalah meningkatkan komunikasi, membuat organisasi atau proses menjadi lebih profesional, pertimbangan anggaran (supaya lebih kompetitif) dan dasar untuk melakukan outsourcing proyek.

Ada lima jenis patok duga yang umum dilakukan dalam dunia bisnis, yaitu

  1. Patok duga internal (patok duga di dalam perusahaan, misalnya diantara unit bisnis)
  2. Patok duga kompetitif (patok duga kinerja dengan kompetitor)
  3. Patok duga fungsional (patok duga proses-proses yang serupa didalam suatu industri)
  4. Patok duga generik (membandingkan operasional antara industri-industri yang tidak berhubungan) dan
  5. Patok duga kolaboratif (dilaksanakan secara bersama-sama oleh kelompok perusahaan seperti anak perusahaan multinasional di beberapa negara, atau dalam suatu organisasi industri).

Langkah-langkah umum dalam suatu proses patok duga dapat dilihat pada Gambar. Biaya untuk melaksanakan patok duga terdiri dari biaya kunjungan, biaya waktu, dan biaya basis data patok duga. Biaya kunjungan mencakup biaya hotel, perjalanan, makan, souvenir dan jam kerja yang hilang.

Biaya waktu adalah investasi waktu yang dilakukan oleh anggota tim patok duga untuk melakukan penelitian masalah, mencari perusahaan yang baik untuk studi, kunjungan dan implementasi. Tim ini harus bekerja secara purnawaktu untuk proyek patok duga sehingga mereka harus ditarik dari pekerjaan utamnya dan harus ada tenaga pengganti supaya operasional tidak terganggu.

Organisasi yang melembagakan patok duga ke dalam prosedur hariannya menemukan manfaat dari penciptaan dan pemeliharaan basis data praktik terbaik sehingga mereka termotivasi untuk mencapai dan bahkan melebihinya.

Penciptaan dan pemeliharaan basis data ini memerlukan biaya yang cukup mahal karena melibatkan intelejen industri dan asosiasi industri. Patok duga adalah proses yang sulit dan membutuhkan komitmen bersama untuk keberhasilannya.

Kebanyakan proyek-proyek patok duga selalu berakhir dengan sindrom “Mereka memang berbeda dengan kita” atau adanya sensitivtas persaingan yang menyebabkan tidak terhadinya aliran informasi bebas. Membandingkan kinerja dan proses dengan “yang terbaik di kelasnya” adalah penting dan idealnya dilakukan secara terus-menerus, suatu hal yang gampang diucapkan tetapi sulit dijalankan secara konsisten

D. Transformasi Organisasi

Metafora organisasi sebagai mahluk hidup adalah organisasi memiliki badan, pemikiran dan roh. Organisasi bisa lahir, tumbuh, sakit, sembuh, tua dan mati. Organisasi bisa berpikir, memilih, belajar, bekerja dan memiliki perasaan.

Organisasi dapat dibuat lebih cepat, lebih pintar, lebih sehat, dan lebih bermoral. Hal-hal inilah yang mendasari proses transformasi organisasi.

Transformasi organisasi seperti perancangan ulang bangungan secara harmonis terhadap arsitektur/kerangka organisasi secara genetik (bekerja secara simultan walaupun dengan kecepatan yang berbeda). Transformasi organisasi dapat dilakukan dengan reframe, restrukturisasi, revitalisasi dan pembaharuan.

Dalam konsep transformasi organisasi, hanya bagian bermasalah saja yang diubah, sedangkan bagian yang masih baik tidak perlu diubah. Dalam metafora kehidupan, refram adalah otak, restrukturisasi adalah badan, revitalisasi adalah penyesuaian badan dengan lingkungan dan pembaharuan adalah roh. Bila yang sakit adalah pikiran maka hanya bagian otak yang diperbaiki. Sementara bagian lain seperti tubuh dan roh tidak perlu diutak atik.

  • Reframe dianalogikan sebagai pikira, yaitu proses menyatukan kekuatan mental yang ditumbuhkan untuk proses transformasi, pemantapan visi dan pengembangan sistem pengukuran
  • Restrukturisasi dianalogikan sebagai badan yaitu proses membentuk suatu model ekonomi yang lebih efisien, menyesuaikan prasarana fisik di dalam sistem sesuai kebutuhan dan merancang bangun ulang kerangka kerja dalam sistem
  • Revitalisasi dianalogikan sebagai penyesuaian badan dengan lingkungan, yaitu proses pemberdayaan sistem melalui fokus pasar, menemukan kembali bisnis baru, dan merubah aturan melalui teknologi informasi. Dengan teknologi informasi yang bagus maka organisasi selalu dapat menyesuaikan diri dengan pasar
  • Sementara pembaharuan dianalogikan sebagai roh, yaitu proses menciptakan struktur imbalan, membangun pembelajaran individu, dan mengembangkan kelembagaan

Untuk keberhasilan pelaksaan transformasi organisasi diperlukan empat tahapan pelaksanaan, yaitu :

  1. Penelitian dan uji tuntas
  2. Alat-alat untuk melakukan penilaian diri
  3. Pengembangan keterampilan dan pengembagan organisasi dan
  4. Titik periksa kinerja dan mengukur hasil

Penelitian dan uji tuntas harus dilaksanakan secara mendalam dengan menggunakan visi kelompok, analisis SWOT, wawancara satu persatu, dan studi lapangan. Informasi yang didapat dari tahap pertama ini digunakan untuk meningkatkan dan menyesuaikan tujuan program.

Kebanyakan orang mempunyai keinginan alamiah untuk memahami diri mereka sendir, memiliki hubungan yang berhasil dengan orang lain, karir yang berkembang dan sejahtera. Dengan menggunakan pendekatan diatas serta produk-produk pembelajaran yang tersedia di pasar, peningkatan dan pengembangan modal insani di dalam organisasi akan sangat terbantu.

Instrumen-instrumen penilaian diri ini menawarkan desain fitur yang secara positif memotivasi orang dewasa untuk belajar, mencipta, beradaptasi dan berkontribusi.

Setiap organisasi memiliki perbedaan. Berdasarkan fase 1 dan 2, setiap programpengembangan keterampilan dan pengembangan organisasi harus disesuaikan. Pada saat menerapkan perencanaan strategis atau memfasilitasi sesi pelatihan, program yang dibuat harus selalu membuat organisasinya menemukan dan menjalankan solusi yang tepat dan kreatif.

Titik periksa kinerja dan mengukur hasil sangat diperlukan untuk melihat keberhasilan transformasi yang dijalankan. Sesi tindak lanjut penyempurnaan setiap program sebaiknya dilakukan untuk mempertahankan momentum dan meningkatkan pembelajaran.

E. Kondisi SAKSI Saat Ini

Kondisi organisasi SAKSI saat ini belum merupakan organisasi yang berpengetahua. Hal tersebut disebabkan oleh beragamnya kualitas modal insani yang menadi perilaku dan penunjan keberadaan SAKSI dalam tiap subsistemnya. Disamping itu, adanya fragmentasi dan disharmoni pada tataran proses antarsubsistem SAKSI, perbedaan organisasi, serta perbedaan orientasi tentang waktu pada tataran perilaku organisasi (lihat tabel) turut mempengaruhi kondisi SAKSI.

Untuk meningkatkan efektivitas organisasi SAKSI saat ini, diperlukan intervensi pada

tingkat organisasi dengan melibatkan tiga pilar utama yang dinamakan ABG (academician, businessman dan government) untuk melaksanakan 8P (Program, Politik, People, Planet, Profit, Pengolahan, Pemasaran, dan Penelitian). Mohon maaf bila bahasanya campur aduk demi memudakan pengingatan istilah 8P.

Peran utama government adalah membuat program yang tepat dengan memperhatikan keseimbangan aspek politik, people, planet dan profit dalam SAKSI, guna membuat bisnis minyak sawit sustainable, mampu mengentaskan kemiskinan dan pemasaran dengan baik sehingga program pemerinah dapat berjalan dan memberikan efek sinergi kepada SAKSI.

Sementara peran academician adalah melakukan penelitian yang tepat guna sehingga dapat dimanfaatkan oleh para businessman untuk memperbesar skala penelitian menjadi skala industri sehingga mendapat nilai tambah yang lebih besar bagi SAKSI secara keseluruhan.

F. Cara Membangun SAKSI yang berpengetahuan

Berdasarkan hasil pengalman pribadi serta pemetaan kondisi SAKSI saat ini yang dikombinasikan dengan sistem ABG dalam mendukung 8P, kondisi ideal untuk menjadikan SAKSI sebagai organisasi yang berpengetahuan yaitu dengan menciptakan organisasi yang lebih fleksibel dan lebih terintegrasi.

Organisasi SAKSI yang berpengetahuan dapat mengentaskan kemiskinan di Indonesia dan menjadi penghela ekonomi nasional yang sustainable. Segala tindakan untuk membangun organisasi SAKSI yang berkembang dapat dilakukan dengan cara cara berikut :

  1. Pemerintah secara sistematis meningkatkan kuantitas dan kualitas modal insani dengan melakukan transformasi organisasi pendidikan umum melalui penekanan pada aspek penalaran, penciptaan pengetahuan dan pengambilan keputusan yang akan berdampak pada ketersediaan modal insani organisasi SAKSI yang berkualitas dan lebih fleksibel
  2. Pemerintah melakukan transformasi organisasi SAKSI dengan membentuk Dewan Komoditas sebagai regulator dan fasilitator yang profesional dan adli antar subsistem SAKSI tanpa mengorbankan salah satu subsistem sehingga SAKSI menjadi lebih terintegrasi
  3. Dewan Komoditas merubah budaya organisasi SAKSI melalui mekanisme organisasi pembelajaran sehingga mampu menambah luas areal tanaman dan meningkatkan produktivitas lahan kelapa sawit yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Dewan Komoditas secara sistematis menganggarkan dan untuk pembinaan petani pekebun (rakyat) sehingga menjadi lebih produktif, sekaligus memfasilitas ketersediaan benih unggul bersertifikat dan dana peremajaan (lebih memuaskan anggotanya)
  4. Intervensi yang dilakukan menyebabkan organisasi SAKSI semakin fleksibel dan mampu menciptakan stabilitas harga MKS internasional dengan harga dasar diatas USD 375/ton MKS dengan memfasilitasi pengembangan biodiesel (lebih memuaskan anggotanya)
  5. Volume produksi dan perdagangan SAKSI secara nyata akan meningkat sehingga menjadi penghela ekonomi nasional dengan kontribusi nilai produk per kaipita yang sama dengan angka pato duga Malaysia yaitu sebesar USD 7 milliar/30 juta penduduk atau USD 233/kapita (dibandingkan Indonesia saat ini USD 4 miliar/220 juta penduduk atau USD 18/kapita).

Ingin mengetahi pemahaman industri perkebunan kelapa sawit? ikuti training Multi Kompetensi dengan mengklik Link ini

Sumber

Penulis : Iyung Pahan

Penerbit : Penebar Swadaya

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!