Mengapa mesti Sustainable?

Karena memang sudah dibutuhkan demikian. Siapa yang membutuhkan? Planet bumi, kehidupan mahluk hidup di dalamnya. Dan ini termasuk kita ini, keluarga kita, dan seluruh anak, cucu, cicit, dan mantu-mantunya, juga spesies yang lain, yang ikut tinggal bersama-sama kita di bumi ini, dari semut sampai gajah, termasuk rumput dan pohon jeruk, semua flora maupun fauna.

Baiklah kita tidak ngobrol soal perusahaan dulu. Kita obrolkan masalah kehidupan kita, supaya tidak terlalu kering obrolan kita ini.

Seorang teman pernah bertugas di Timor Timur (sebelum Timor Leste lepas dari Indonesia tahun 1999(, ia seorang dokter, seorang perempuan berbadan besar tetapi berhati lembut. Sekarang, dia bertugas di Denpasar, namanya dokter Lana. Nah, suatu kali dia bercerita, dia menolong  seorang ibu yang melahirkan. Anak itu sudah di luar, masih tersangkut umbili cord dan utuh dengan placenta-nya. Cerita punya cerita, ibu ini sudah naik turun bukit untuk mendapatkan pertolongan. Sori, ini di gunung. Jadi, dokter yang dipanggil untuk menolong. Tidak perlu dihitung menit kontraksinya, karena anak sudah terlanjut keluar, brol. Bahkan setelah naik turun gunung pun, anak dan ibu sehat.

Dua hari kemudian, si ibu sudah naik turun gunung lagi. Saya tanya, apa obatnya? Tidak, jawab Bu dokter ini. Itu hal umum di sana, karena udara masih bersih, air masih jernih, manusia tidak menelan segala macam asap hitam, dan itu membuat manusia sehat.

Anak-anak kita sekarang tidak boleh minum hujan. Para ibu paling cerewet soal ini, karena mereka yang paling repot kalau anak sakit. Iklan di televisi pun ceritanya sama, sedikit kena hujan, pilek, demam. Vitamin dalam botol jadi pelindung anak-anak. Padahal main air hujan adalah keasykan masa kanak-kanak semua orang yang seumur saya. Kita tidak pernah sakit, kok. Asyik aja. Melihat gelembung-gelembung air yang timbul dari tetesan hujan. Masih adakah sekarang yang bisa mengamati kejadian-kejadian kecil menakjubkan seperti gelembung air ini? Bisa main kapal kertas yang semenit kemudian sudah hancur. Namun, tidak pernah sakit gara-gara main hujan-hujanan.

Kita juga tidak perlu pelembab, lotion segala macam supaya kulit tidak kering. Sekarang, mau tidak mau Anda harus menggunakannya untuk menutup kulit dari serangan panas terik dan asap hitam.

Di obrolan kita sebelumnya, saya menyebutkan para pedagang di pasar menggunakan bungkus dari daun, baik daun jati maupun daun pisang, bahkan ada yang menggunakan daun dari tanaman obat seperti jahe dan lengkuas. Yang penting daunnya lebar, bisa untuk membungkus. Menjual daun menjadi salah satu pilihan mata pencarian. Nasi, daging, tempe tidak terkecuali, semua dibungkus daun. Ibu pergi berbelanja menggunakan keranjang sendiri, leranjang anyaman dari rotan, yang bisa dipakai bertahun-tahun sampai jebol.

Dalam rentang 30 tahun terakhir ini, ada banyak kebiasaan kita yang berubah, karena industri, karena kepraktisan. Orang bahkan suka makan dengan piring kertas. (Saya heran juga dengan fenomena ini, fast food resto dengan piring kertas ini tidak pernah sape pembeli. Mau-maunya juga para manusia bermobil ikut makan di sini. Apa bedanya dengan nasi bungkus yang selalu muncul setiap kali ada aksi sosial atau penataran P4?.) Piring daun hanya bisa Anda dapatkan di dua macam tempat yang sangat berseberangan yakni dari ibu penjual nasi pecel pinggir jalan, atau dari restoran mahal yang classy, yang menjual piring daun dengan harga bangsawan.

Lalu dampak kehebatan industri ini juga jelas. Anak-anak kita memang lebih cantik dan ganteng tetapi ringkih; kena senggol sedikit pilek, kebentur sedikit bonyok nga sembuh-sembuh. Mau bernafas susah, malah hidung bisa jadi hitam-hitam kena asap. Wow, mestinya ini bukan ide sustainable. Karena sustainable artinya memberi kehidupan. Kekeringan, dan lawan katanya, yaitu banjir, susah napas, ringkih pasti bukanlah ide sustainable.

Jadi, mengapa mesti sustainable? karena sudah waktunya, sebelum semuanya terlambat.

 

Sumber : Buku Pebisnis Bermartabat bukan Perusak Hutan karya Peni R. Pramono

Picture by :¬†<a href=”https://www.freepik.com/free-photo/hands-holding-small-plant_2169907.htm”>Designed by Freepik</a>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me