Pengendalian Risiko (Part 1)

1. Tujuan

Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko. Jika pada tahapan sebelumnya lebih banyak bersifat konsep dan perencanaan, maka pada tahap ini sudah merupakan realisasi dari upaya pengelolaan risiko dalam perusahaan.

Risiko yang telah diketahui besar dan potensi akibatnya harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi perusahaan. Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan berbagai pilihan, misalnya dengan dihindarkan, dialihkan kepada pihak lain, atau dikelola dengan baik.

Dari hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko seekor anjing maka dilakukan pengendalian. Apa yang harus dilakukan agar bahaya digigit anjing dapat dihindarkan? Apakah seluruh anjing yang ada dimuka bumi harus diburu dan dimatikan? Itu tentu bukan solusi yang baik, dan tidak sebanding dengan jumlah korban yang telah digigit anjing atau biaya yang harus dikeluarkan. Karena itu perlu dicari atau cara terbaik dan tepat sasaran. Salah satu bahan pertimbangan adalah hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko. Karena itu, pengendalian dapat lebih terfokus kepada bahaya potensial yang dinilai memiliki risiko tinggi sehingga lebih efektif dan efisien. Misalnya ajing yang agresif dan berbahaya diikat dan dibatasi gerakannya. Semua pemilik aning diminta untuk mengawasi hewannya masing-masing dan lainnya. Hal sama dilakukan untuk bahaya K3 yang ada ditempat kerja.

OHSAS 18001 memberikan pedoman pengendalian risiko yang lebih spesifik untuk bahaya K3 dengan pendekatan sebagai berikut:

  1. Eliminasi
  2. Substitusi
  3. Pengendalian teknis
  4. Pengendalian administratif
  5. Penggunaan alat pelindung diri

Menurut Standar AZ/NZS 4360, pengendalian risiko secara ginerik dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut.

  1. Hindarkan risiko dengan mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan atau penggunaan proses, bahan dan alat yang berbahaya.
  2. Mengurangi kemungkingan terjadi (reduce likelihood)
  3. Mengurangi konsekuensi kejadian (reduce consequences)
  4. Pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer)
  5. Menanggung risiko yang tersisa. Penanganan risiko tidak mungkin menjamin risiko atau bahaya hilang seratus persen, sehingga masih ada sisa risiko (residual risk) yang harus ditanggung perusahaan

Proses pengendalian risiko menurut AS/NZS 4360 adalah sebagai berikut

  • Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi risiko dapat ditentukan apakah suatu risiko dapat diteima atau tidak. Jika risiko dapat diterima, tentunya tidak diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut. Cukup dengan melakukan pemantauan atau monitoring berkala dalam pelaksanaan operasi. Misalnya perusahaan telah memilih menerima risiko penggunaan suatu peralatan mekanis dalam proses tingkat kebisingan antara 90 dB.
  • Dalam peringkat risiko, dikategorikan sebagai risiko sedang (medium) sehingga dapat diterima perusahaan. Karena itu tidak perlu dilakukan tindakan pengendalian lebih lanjut. Perusahaan cukup melakukan pemantauan berkala baik ditempat kerja maupun terhadap tenaga kerja. Sebaliknya jika tingkat kebisingan mencapai 100-110 dB, maka risiko ini tidak dapat diterima karena mengandung risiko tinggi terhadap pendengaran dan kesehatan pekerja. Karena itu harus dilakukan tindakan pengendalian.
  • Jika risiko berada di atas batas yang dapat diterima (ALARP) maka perlu dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu:- Mengurangi Kemungkinan (Reduce Likelihood)
    – Mengurangi Keparahan (Reduce Consequence)
    – Alihkan sebagian atau seluruhnya
    – Hindari (Avoid)
2. Strategi Pengendalian Risiko

2.1 Menekan Likelihood

Strategi pertama dalam pengendalian risiko adalah dengan menekan kemungkinan terjadinya (likelihood). Pengurangan kemungkinan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yaitu secara teknis, administratif dan pendekatan manusia.

Pendekatan Teknis (Engineering Control)
  • Eliminasi
    Risiko dapat dihindarkan dengan menghilangkan sumbernya. Jika sumber bahaya dihilangkan maka risiko yang akan timbul dapat dihindarkan. Beberapa contoh teknik eliminasi antara lain.
    – mesin yang bising dimatikan atau dihentikan sehingga tempat kerja bebas dari kebisingan.
    – lobang bekas galian ditengah jalan ditutup dan ditimbun.
    – penggunaan bahan kimia berbahaya dihentikan
    – proses yang berbahaya didalam perusahaan dihentikan. Perusahaan tidak memproduksi bahan berbahaya sendiri tetapi memesan dari pemasok. Dengan demikian, perusahaan bebas dari kegiatan yang berbahaya
  • Substitusi
    Teknik substitusi adalah mengganti bahan, alat atau cara kerja dengan yang lain sehingga kemungkinan kecelekaan dapat ditekan. Sebagai contoh penggunaan bahan pelarut yang bersifat beracun diganti dengan bahan lain yang lebih aman dan tidak berbahaya.
  • Isolasi
    Kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kejadian dapat dikurangi atau dihilangkan menggunakan teknik isolasi artinya sumber bahaya dengan penerima diisolir dengan penghalang (barrier) atau dengan pelindung diri. Jika sumber bahaya dan penerima dipasang barrier atau alat pelindung diri, maka kemungkinan bahaya dapat dikurang.
  • Pengendalian Jarak
    Kemungkinan kecelakaan atau risiko dapat dikurangi dengan melakukan pengendalian jarak antara sumber bahaya (energi) dengan penerima. Semakin jauh manusia dari sumber bahaya semakin kecil kemungkinan mendapat kecelakaan. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kontrol jarak jauh (remote control) dari ruang kendali. Dengan demikian, kontak manusia dengan sumber bahaya dapat dikurangi.
Pendekatan Administratif
  • Pengendalian Pajanan
    Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi kontak antara penerima dengan sumber bahaya. Sebagai contoh untuk mengendalikan proses yang berbahaya didalam pabrik, dapat dilakukan dengan memasang pembatas operator memasuki area berbahaya hanya sewaktu-waktu untuk memeriksa dan melakukan pemantauan berkala. Dengan demikian kemungkinan terjadinya insiden dapat dikurangi.
Pendekatan Manusia (Human Control)
  • Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai cara kerja yang aman, budaya keselamatan dan prosedur keselamatan.

Ingin memahami Pengendalian Risiko K3? Ikuti training Multikompetensi dengan mengklik Link ini

Sumber

Judul Buku: Pedoman Praktis Manajamen Risiko Dalam Perspektif K3

Penulis : Soehatman Rmai, BE, SKM, MBA

Penerbit : Dian Rakyat

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!