Pengolahan Kelapa Sawit

A. Prosedur Pengolahan

Prosedur Pengolahan TBS menjadi CPO dan kernel sebagai berikut

a. Penerimaan Bahan Baku

Penimbangan Tandan Buah Segar

Tandan buah segar segar (TBS) yang masuk ke pabrik mula-mula ditimbang di jembatan timbang untuk mengetahui jumlah berat TBS yang diterima oleh pabrik

Penimbunan Tandan Buah Segar (TBS)

Setelah ditimbang, TBS dipindahkan ke loading ramp sebagai tempat penimbunan sementara sebelum tandan buah dimasukkan ke dalam lori rebusan. Untuk mengetahi mutu TBS yang akan diolah perlu dilakukan srtasi di loading ramp.

Pengisian Buah ke Dalam Lori

Lori diisi penuh dengan buah yang akan diolah. Pengisian yang baik jika lori dapat memuat tandan buah sebanyak kapasitas nominal. Pengisian yang tidak penuh akan menyebabkan penurunan kapasital olah sterilizer atau sebaliknya pengisian yang terlalu penuh akan mengakibatkan pintu, maupun pelat (water plate) rusak atau buah terjatuh dalam rebusan.

Pengisian Lori ke Dalam Sterilizer

Lori yang telah penuh berisi buah dimasukkan ke dalam sterilizer menggunakan capstand. Kemudian, pintu sterilizer ditutup dan dikunci menggunakan handle, sehingga kemungkinan terbuka pada saat proses perebusan tidak terjadi.

b. Perebusan

Pola perebusan yang umumnya digunakan ada dua yaitu double peak (dua puncak) atau triple peak (tiga puncak). Jumlah puncak dalam pola perebusan ditunjukkan dari jumlah pembukaan atau penutupan dari uap masuk atau uap keluar selama perebusan berlangsung yang diatus secara manual atau otomatis. Waktu perebusan triple peak berlangsung 80-85 menit.

No Perlakuan Waktu
1 Deaerasi 2,5 menit
2 Pemasukan uap dan pembuangan pada puncak I, II 25 menit
3 Penahanan tekanan 2,8-3 kg/cm2 50 menit
4 Pembuangan uap air 7,5 menit
  Total Waktu 85 menit


1.Daearasi

Pipa uap masuk dibuka, katup daearasi dan atau katup kondensat dibuka, udara dibuang dengan cara memasukkan uap. Karena lebih berat, udara akan berada di lapisan bawah dan dibuang melalui katup daearasi atau melalui pipa kondensat, Daearasi akan berlangsung pada saat pembuangan air kondesat selama sistem perebusan berlangsung.

2.Pemasukan Uap dan Pembuangan Puncak I dan II

Frekuensi pembuangan air kondensat dan pembuangan uap bekas selama perebusan tergantung pada pola perebusan. Puncak pertama dicapai dengan membuka pipa uap masuk selama 7 menit (umumnya tekanan mencapai 1,5 kg/cm2), kemudian pipa uap masuk ditutup dan pipa kondensat.

Pipa buang (exhaust pipe) dibuka dengan tiba-tiba sehingga tekanan turun hingga 0,5 kg/cm2 (sekitar 3 menit), kemudian pipa kondensat ditutup. Pipa uap masuk dibuka setelah 10 menit puncak kedua dicapai (tekanan 2-2,5 kg/cm2), kemudian pipa uap masuk ditutup dan pipa kondensat dan exhaust pipe dibuka hingga tekanan 1kg/cm2 (sekitar 3 menit).

3.Penahanan Tekanan

Setelah melalui satu puncak atau dua puncak awal, pemasakan dapat dilanjutkan dengan membuka pipa uap masuk dan pipa kondensat “by pass” untuk membuang air kondensat. Masa Penahanan tekanan dihitung setelah mencapai puncak tertinggi hingga awal pembuangan uap terakhir.

4.Pembuangan Uap Air

Setelah penahanan tekanan uap selesai, uap yang berada dalam sterilizer dibuang dengan membuka katup pipa kondensat, kemudian setelah tekanan menjadi 2,5 kg/cm2 pipa pembuangan uap yang berada diatas sterilizer dibuka dengan tiba-tiba. Setelah tekanan sama dengan tekanan atmosfer, pintu rebusan dibuka.

c. Pengeluaran Lori dari Sterilizer

Buah yang telah masak dikeluarkan dari dalam sterilizer dengan membuka pintu rebusan secara perlahan-lahan, agar packing door lebih aman. Setelah itu lori ditarik menggunakan tali, berasamaan dengan pemasukan buah yang akan direbus.

d. Penebahan Buah

Buah rebus dari sterilizer diangkat dengan hoisting crane atau melalui tipper dituangkan ke dalam thresher melalui hopper yang berfungsi untuk menampung buah rebus, kemudian autofeeder akan mengatur peluncuran buah agar tidak masuk sekaligus.

Penebahan buah dilakukan dengan membanting buah dalam drum berputar dengan putaran (23-25 rpm). Buah lepas akan masuk melalui kisi-kisi dan ditampung oleh fruit elevator untuk didistribusikan ke setiap unit digester ole distributing conveyer.

Selanjutnya, tandan kosong melalui empty bunch conveyer dibawa ke incenerator atau ke empty bunch bopper.

e.Pelumatan Buah

Buah yang masuk kedalam digester disebut dengan material passing to digester (MPD), diaduk sedemikian rupa sehingga sebagian besar daging buah sudah terlepas dari biji. Proses pengadukan dan pelumatan buah dapat berlangsung dengan baik bila isi digester selalu dipertahankan penuh.

Minyak bebas dibiarkan keluar secara kontinu melalui lubang dasar digester. Terhambatnya pengeluaran minyak akan menyebabkan minyak berfungsi sebagai pelumas pisau sehingga mengurangi efektivitas pelumatan pisau digester. Suhu massa digester harus selalu dipertahankan pada 90-95 derajat celsius.

f.Pengempaan Buah

Massa yang keluar dari digester diperas dalam screw press pada tekanan cone 30-50 bar menggunakan air pengencer screww press bersuhu 90-95 derajat celsius sebanya 15-20% TBS. Untuk menurunkan viskositas minyak, penambahan air dapat pula dilakukan di oil gutter kemudian dialirkan melalui oil gutter ke stasiun klarifikasi.

Sedangkan ampas kempa dipecahkan menggunakan cake breaker conveyer untuk mempermudah pemisahan biji dan serat.

g.Pemecahan Ampas Kempa (Cake Breaker Conveyer)

Ampas pres masih bercampur dengan biji berbentuk gumpalan-gumpalan, dipecah dan dibawa untuk dipisah antara ampas dan biji. Alat ini terdiri atas pedal-pedal yang diikat pada poros yang berputar.

Kemiringan pedal diatur sehingga pemecahan gumpalan-gumpalan terjadi dengan sempurna, sambil mendorongnya pelan-pelan menuju depericarper agar penguapan air dapat berlangsung dengan lancar

h.Pemisahan Ampas dan Biji (Depericarper)

Depericarper adalah alat untuk memisahkan ampas dan biji, serta membersihkan biji dari sisa-sisa sarabut yang masih melekat pada biji. Alat ini terdiri atas kolam pemisah (separating column) dan drum pemolis (polishing drum).

Ampas dan biji dari konveyor pemecah apas kempa (cake breaker conveyer) masuk ke dalam kolam isapan blower. Ampas kering (berat jenis kecil) masuk kedalam siklon ampas ke dalam conveyer bahan bakar, sedangkan biji yang berat jenisnya lebih besar jatuh ke bawah dan dihantar oleh conveyer ke dalam drum pemolis.

i.Klarifikasi Minyak Sawit

1.Pemisahan Pasir

Minyak yang keluar dari screw press melalui oil gutter dialirkan ke dalam sand tank dengan tujuan untuk mengendapkan pasir.

2.Penyaringan Bahan Padat

Crude oil yang telah diencerkan dialirkan ke vibrating screen yang berukuran 20-40 mesh untuk memisahkan bahan asing seperti pasir, serabut, dan bahan-bahan lain yang masih mengandung minyak dan dapat dikembalikan ke digester.

Untuk mengetahui ketepatan penambahan air pengencer, setiap dua jam sekali diambil sampel crude oil sebelum masuk vibrating screen. Selanjutnya, menggunakan hand centrifuge (electric centrifuge) dapat diketahui komposis, minyak NOS (non-oily solid), dan air.

Komposisi yan tepat diperoleh jika perbandingan minyak dan sludge 1 : 2 (konvensional) dan jika dengan decanter perbandingan minyak dan sludge 1 : 1. Minyak kasar yang telah disaring dialirkan ke dalam crude oil tank dan suhi dipertahankan 90-95 derajat celsius, selanjutnya crude oil dipompa ke settling tank.

3.Pemisahan Minyak Dengan Sludge Settling Tank/Clarifier Tank

Fungsi settling tank adalah untuk mengendapkan sludge (minyak kotor atau lumpur) yang terkandung dalam crude oil. Temperatur minyak dalam settling tank harus dipertahankan 90-95 derajat celsius. Minyak yang berada di lapisan atas dikutip dengan bantuan skimmer ke oil tank, sedangkan sludge yang masih mengandung minyak dialirkan ke sludge tank.

Secara periodik, sesuai kondisi masing-masing pabrik, sludge dan pasir di dasar bejana harus dibuang (flushed out) agar pemisahan minyak dapat berjalan dengan baik.

4.Pemurnian Minyak (Oil Purifier)

Fungsi oil purifier adalah untuk memisahkan sludge yang melayang (emulsi) dalam minyak dan mengurangi kadar air yang terkandung dalam minyak sehingga kadar kotoran minyak produksi menjadi < 0,02%. Suhu minyak dalam oil purifier 90-95 derajat celsius. Selanjutnya, minyak dari oil purifier dimasukkan ke dalam vacuum oil dryer.

5.Pengeringan Minyak (Oil Dryer)

Minyak dari oil purifier dengan suhu 90-95 derajat celsius dipompa dan ditampung dalam float tank untuk seterusnya diisap oleh vacuum dryer. Dibawah pelampung terpasang toper spindle untuk mengatur minyak yang disalurkan kedalam bejana vacuum dryer sehingga kehampaan dalam vacuum dryer tetap terkendali (< 50 TORR).

Selanjutnya, melalui nozzle minyak akan disemburkan ke dalam bejana sehingga penguapan air menjadi lebih sempurna. Untuk menjaga keseimbangan minyak masuk dan keluar dari bejana, digunakan float valve di bagian bawah bejana.

6.Penimunan Minyak Produksi

Minyak yang terkumpul di dasar bejana akan disalurkan ke pompa di lantai bawah, selanjutnya dipompakan ke tangki timbun. Pada tangki timbun secara periodik dilakukan pengurasan mengikuti prosedur pencucian tankgi. Suhu penyimpanan hendaknya 40-50 derajat celsius.

j. Pengolahan Sludge

1. Sand Cyclone

Sludge dari sludge tank sebelum dimasukkan ke sludge separator dipompakan ke sand cyclone. Ditempat ini pasir halus akan terpisah oleh gaya sentrifugal. Pasir halus yang berhasil dipisahkan kemudian di blow down secara berkala. Sand cyclone berfungsi dengan baik jika perbedaan tekanan inflow dan out flow sludge 2 bar.

Untuk memisahkan atau mengambil minyak yang masih terkandung pada sludge, sludge diperoses pada sludge separator.

2.Pemisahan Lumpur (Sludge Separator)

Cairan sludge yang telah melalui precleaner dimasukkan ke dalam sludge separator untuk dikutip minyaknya. Akibat gaya sentrifugal, minyak yang berat jenisnya lebih kecil bergerak menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (disc) ke ruang pertama tangki pisah (settling tank).

Cairan dan ampas yang memiliki berat jenis lebih berat dari minyak terdorong ke bagian bowl dan keluar melalui nozzle. Padatan yang menempel pada dinding bowl dicuci secara manual atau otomatis.

Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan.

  1. Suhu sludge dijaga 90-95 derajat celsius
  2. Pengunaan air untuk balancing harus menggunakan air panas dengan suhu 90-95 derajat celsius dengan besar aliran 10-15 derajat pada gelas duga (alfa laval) atau berpedoman pada pelampung
  3. Pembebanan baru dapat dilaksanakan setelah mesin berputar normal dengan menghitung petunjuk putaran (revolution counter)
  4. Pencucian bowl dilakukan secara periodik sesuai dengan kebutuhan
  5. Pembersihan dan pemeriksaan menyeluruh dilaksanakan setiap hari

3.Penampungan Limpahan Minyak (Preclaim Oil Tank)

Endapan-endapan dari clarifier tank, oil tank, dan sludge tank yang di drain setiap pagi sebelum diolah, ditampung di dalam tangki penampungan limpahan minyak. Demikian juga minyak kutipan dari bak penampungan sludge (fat pit), jika ALB (Asam Lemak Bebas) masih memenuhi syarat.

Untuk pemanasan, tangki ini dilengkapi dengan sistem pemanas uap injeksi. Minyak yang terapung di bagian atas dialirkan ke clarifier tank, sedangkan lumpur pekat dibuang ke bak penampung sludge, yaitu fat pit. Pembersihan dan pemeriksaan keseluruhan dilakukan seminggu sekali.

4.Pengutipan Minyak Parit (Fat Pit)

Fat pit dipergunakan untuk menampung cairan-cairan yang masih mengandung minyak berasal dari air kondensat dan stasiun klarifikasi. Minyak yang terkutip akan dipompa ke preclaim oil tank. Pembersihan bak dan pemeriksaan dilakukan setiap satu bulan.

k. Pengolahan Biji

1.Pemeraman Biji (Nut Silo)

Alat ini berfungsi sebagai tempat pemeraman biji. Biji yang telah keluar dari depericaper perlu diperam agar lebih mudah dipecah dan kernel terlepas dari cangkang.

Lapisan biji dalam alat umumnya terdiri atas tiga tingkat suhu yang berbeda sebagai berikut :

  • Bagian atas 70 derajat celsius
  • Bagian tengah 60 derajat celsius
  • Bagian bawah 50 derajat celsius

2.Pemecahan Biji

Alat pemecah biji terdiri atas dua tipe, yaitu tipe nut cracker dan ripple mill. Nut cracker sebaiknya diperasikan dengan mengatur kecepatan putar sesuai dengan ukuran biji sebagai berikut.

  • Fraksi kecil < 13 mm : 1.400 rpm
  • Fraksi sedang 13 – 15 mm : 1.300 rpm
  • Fraksi besar > 15 mm : 1.250 rpm

Jika pemecahan biji menggunakan ripple mill, magnet yang terdapat pada corong pemasukan harus sering dibersihkan dari logam yang melekat. Efisiensi nut cracker atau ripple mill dinyatakan dengan peresentase biji yang dapat dipecah terhadap umpan.

3.Pemisahan Basah atau Kering

Kernel yang masih bercampur dengan cangkang dapat dipisahkan melalui pemisahan basah atau kering seperti berikut

  • Pemisahan basah menggunakan tanah liat atau air pusingan
  • Pemisahan kering menggunakan isapan angin

Pemisahan dengan Tanah Liat

Cracked mixture dipisahkan menggunakan larutan tanh liat dengan berat jenis 1,13 yaitu dengan mencampurkan tanah liat dengan air. Campuran kernel dimasukkan ke dalam bak dan massa yang memiliki berat jenis 1,13 akan turun menuju dasar cone, kemudian dipompa ke alat penapis cangkang.

Selanjutnya, dikirim ke shell bopper. Sementara kernel yang mengapung karena berat jenisnya kurang dari 1,13 dialirkan melalui talang penapis dan dikirim ke kernel dryer untuk dikeringkan. Pemisahan kernel dapat berlangsung dengan baik jika berat cairan 1,13 dan tetap menggunakan tanah liat yang dapat membentuk larutan koloid.

Pemisahan dengan Hydrocyclone

Cracked mixture masuk ke dalam tabung winnowing. Karena gaya berat, kernel dan cangkang kasar masuk kedalam air hydrocyclone. Benda berat lain seperti batu jatuh dan ditampung, sedangkan benda ringan seperti abu, cangkang dan kernel halus terisap masuk ke dalam cyclone, kemudian melalui air lock masuk ke dalam silo cangkang.

Sampah yang melekat pada dewatering drum harus selalu dibersihkan. Penambahan air dilakukan secara kontinu agar permukaan air tetap pada batas yang ditentukan. Jika presentasu kernel dalam cangkang terlalu tinggi vortexfinder diturunkan. Sebaliknya, jika persentase cangkang dalam kernel tinggi vortexfinder dinaikkan.

4.Pengeringan Kernel

Pengeringan kernel sawit dilakukan secara bertingkat. Pada kernel hasil pemisahan cara basah, suhu pada tingkat atas, tengah dan bawah berturut-turut 60-70 derajat celsius, 70-80 derajat celsius dan 50-60 derajat celsius.

Sementara, suhu alat pengering yang mengeringkan kernel dari hasil pemisahan kering adalah 60-70 derajat celsius, 70-80 derajat celsius dan 50-60 derajat celsius.

5.Penimbunan Kernel

Produksi kernel ditimbun dalam kernel bin, selanjutnya disimpan dalam karung goni dengan kelembapan udara diatur, sehingga tidak lebih dari 70%, atau ditimbun di silo kernel untuk pengiriman ke tempat penjualan dengan sistem curah.

Ingin mengetahui pemahaman tentang produksi minyak kelapa sawit lebih dalam? Ikuti training Multi Kompetensi dengan mengklik Link ini

Sumber

Penulis : Maruli Pardamean

Penerbit : PT AgroMedia Pustaka


Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!