Perkembangan Perencanaan Hutan

 

  1. Latar Belakang

Di manapun, pada mulanya pengelolaan hutan selalu dimulai dari penebangan kayu dari hutan alam dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan uang. Karena belum berbekal ilmu pengetahuan yang cukup, maka penebangan kayu dari hutan alam tersebut selalu berakhir dengan kerusakan. Namun pengalaman di Eropah menunjukan bahwa akibat terjadinya kerusakan hutan itu maka akhirnya mendorong lahirnya pengelolaan hutan tanaman. Sesuai dengan latar belakangnya, maka pengelolaan hutan tanaman mulai berkembang di Eropa sejak abad ke-15.

Sejak kerajaan Romawi menguasai hampir seluruh Negara-negara Eropa Tengah dan Barat, penebangan kayu dari hutan alam merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang menghasilkan banyak uang. Pada waktu itu pasar kayu oak telah terbuka untuk memnuhi berbagai kebutuhan, seperti kayu konstruksi untuk perumahan, perkakas rumah tangga, alat-alat pertanian dan sarana angkutan darat (gerobak) maupun angkutan air (perahu dan kapal). Oleh karena itu penebangan kayu dari hutan alam di Eropah telah berkembang, yang melibatkan banyak kalangan, yaitu pengelola hutan, pedagang maupun para industrialis yang mengolah kayu sebagai bahan dasar untuk berbagai kepentingan.

Akan tetapi karena pengetahuan tentang kehutanan pada mulanya belum dimiliki oleh mereka yang terlibat dalam penebangan kayu tersebut, maka akhirnya terjadi kerusakan hutan yang meluas. Namun demikian, adanya kepentingan yang kuat dari berbagai lapisan masyarakat tersebut, adanya kerusakan hutan tadi telah mendorong lahirnya wacana asas kelestarian hasil, khususnya di Jerman pada sekitar abad ke-9. Munculnya wacana tersebut didorong oleh berbagai hal. Kaum industrialis memerlukan kepastian pasokan bahan baku agar regu kerja dan peralatan yang telah dibelinya dapat bekerja secara penuh demi efisiensi pabrik, alat-alat dan buruh yang telah dimiliki. Oleh Karena itu sangat mungkin bahwa wacana tersebut justru muncul dari para industrialis, sebab kalau bahan baku yang diterima di bawah kebutuhan, perusahaannya akan mengalami kerugian, atau paling tidak keuntungan yang diperoleh tidak optimal.

Para penebang kayu pun menghendaki adanya kelestarian pekerjaan tebangan agar setiap bulan mereka dapat menerima upah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dua kelompok itu diikat oleh kaum pedagang yang memperoleh keuntungan dengan menghubungkan kepentingan penebanan kayu dengan kaum industrialis. Dengan demikian semua fihak (stake holders) sepakat untuk mewujudkan asas kelestarian hasil kayu. Dengan asas itu maka kerusakan hutan harus dicegah.

Berlanjut ke bagian 2

Sumber : Buku Perencanaan Pembangunan Sumber Daya Hutan (Timber Management) Karya Hasanu Simon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me