Sertifikasi Meribetkan, Tetapi Harus

Mengurusnya ribet tetapi…. Haruskah?

Kenapa harus ribet? Di balik idealisme sertifikasi, pastilah banyak yang mencurigai bahwa gerakan sertifikasi ini adalah lahan baru mencari duit. Ya, tapi betul tidaknya kecurigaan itu, sertifikasi ini tetap akan diperhitungkan dalam beberapa tahun ke depan. Apalagi setelah Indonesia digembor-gemborkan dengan ilegal logging-nya yang mengerikan.

Para eksportir produk berbahan kayu sekarang tidak bisa sembarang kirim barang. Mereka di luar sana yang menginginkan barang dari Indonesia memberlakukan peraturan, harus ada sertifikasi, memiliki bukti bahwa barang yang mereka dapat kan itu adalah barang yang “bermartabat”.

Sayangnya, mesti diakui, saat ini barang bermartabat belum dihargai dengan dolar yang bermartabat pula. Padahal untuk membuat barang bermartabat diperlukan rupiah yang lebih besar, sertifikasi itu sendiri mesti bayar, belum lagi barang-barang yang sumbernya jelas, sudah pasti lebih mahal.

Jadi, di satu sisi sertifikasi tetap harus dilalui, toh tanpa sertifikat itu ekspor kayu kita susah. Di sisi lain, gerakan untuk membuat barang bermartabat lebih dihargai dalam bentuk dolarnya juga harus dipercepat. Supaya dihargai martabatnya, barang kita tetap terus-menerus bermartabat. Kita perlu memiliki banyak duit untuk bisa menjadi bermartabat.

 

Sumber : Buku “Pebisnis Bermartabat bukan Perusak Hutan” by Peni R. Pramono

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
chat with me