Mengapa Capung Disebut Bioindikator Kesehatan Lingkungan?

Pernah nggak sih kalian kalau lagi nongkrong di pinggir sungai atau taman, terus tiba-tiba ada capung yang hinggap di ujung ranting? Buat sebagian orang, mungkin itu cuma pemandangan biasa. Tapi bagi para ahli lingkungan, kehadiran serangga ramping ini adalah kabar bahagia.

Banyak yang belum tahu kalau capung bukan sekedar penghias foto estetik kamu, tapi mereka punya peran vital sebagai bioindikator. Tapi, kenapa sih harus capung? Kenapa bukan lalat atau kecoa yang jumlahnya jauh lebih banyak? Yuk, kita bedah tuntas kenapa serangga ini jadi “detektif” andalan buat ngecek kesehatan alam!

Si Kecil yang Super Pilih-Pilih Tempat Tinggal

Capung itu bisa dibilang serangga yang “picky” banget soal urusan tempat tinggal, terutama pas mereka masih bayi (fase nimfa). Berbeda sama nyamuk yang bisa hidup di got mampet sekalipun, capung butuh air yang kualitasnya jempolan buat berkembang biak.

Getty Images

Kalau sebuah ekosistem perairan sudah tercemar limbah kimia, sampah plastik, atau kadar oksigennya rendah, capung nggak bakal mau mampir, apalagi bertelur di situ. Jadi, kalau di lingkungan rumah kamu masih banyak capung seliweran, itu tandanya kualitas air dan udara di sekitar situ masih dalam kondisi oke banget.

Kenapa Harus Capung? Ini Alasannya!

Ada beberapa alasan teknis yang bikin capung dinobatkan jadi indikator alami yang paling valid:

  1. Siklus Hidup Dua Alam: Capung hidup di air saat jadi nimfa dan di udara saat dewasa. Artinya, mereka memantau kesehatan dua elemen sekaligus.

  2. Sensitif Terhadap Polusi: Mereka sangat peka sama perubahan suhu air dan tingkat keasaman (pH).

  3. Predator Puncak di Kelasnya: Sebagai pemakan jentik nyamuk, kehadiran capung menandakan rantai makanan di area tersebut berjalan normal.

Menariknya, banyak peneliti yang mulai serius mendalami pergerakan capung buat memetakan kerusakan lingkungan sejak dini. Mengutip dari laman resmi Mongabay Indonesia, keberadaan serangga dari ordo Odonata ini emang nggak bisa disepelekan.

“Capung sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Ketika air tercemar, nimfa capung tidak akan bertahan hidup. Itulah mengapa hilangnya capung dari sebuah kawasan sering kali jadi sinyal pertama bahwa lingkungan tersebut sedang tidak baik-baik saja,” tulis laporan dalam salah satu artikel edukasi lingkungan mereka.

Bukan cuma di Indonesia, secara global pun capung diakui sebagai alat ukur kesehatan bumi. Melansir dari National Geographic, capung sudah ada sejak zaman purba, bahkan sebelum dinosaurus muncul. Ketahanan mereka selama jutaan tahun ini membuktikan kalau mereka adalah penyintas sejati, tapi sekalinya mereka hilang dari suatu lokasi, itu berarti ada “error” besar di alam tersebut.

Ancaman Nyata di Balik Hilangnya Capung

Sayangnya, pemandangan capung yang terbang bebas makin susah ditemui di area perkotaan besar. Pembangunan beton di mana-mana dan hilangnya lahan basah bikin mereka kehilangan “rumah”. Penggunaan pestisida yang berlebihan di taman-taman kota juga jadi musuh utama yang bikin populasi mereka drop drastis.

Kalau capung hilang, dampaknya apa ke kita? Salah satunya adalah ledakan populasi nyamuk. Ingat, satu ekor capung dewasa bisa melahap ratusan nyamuk dalam sehari. Jadi, kalau capung pergi, siap-siap aja stok obat nyamuk di rumah makin cepat habis.

Gimana Cara Kita Jaga Mereka?

Nggak perlu jadi aktivis lingkungan kelas berat buat bantu jaga populasi capung. Kamu bisa mulai dari hal simpel:

  • Jangan buang sampah ke sungai: Hal kecil ini bakal ngebantu nimfa capung bertahan hidup.

  • Bikin kolam kecil di halaman: Kalau punya lahan sisa, kolam ikan dengan tanaman air bisa jadi tempat mampir yang asik buat capung.

  • Kurangi penggunaan bahan kimia keras: Terutama buat kamu yang hobi berkebun, coba deh beralih ke pupuk organik.

Capung adalah pengingat bahwa alam punya cara sendiri buat bicara sama kita. Kehadiran mereka adalah sertifikat “Lolos Uji Lingkungan” yang diberikan langsung oleh alam tanpa perlu bayar mahal. Jadi, mulai sekarang kalau lihat capung, jangan diganggu ya! Itu tandanya kamu masih menghirup udara yang relatif bersih dan tinggal di lingkungan yang sehat.

Sumber:

Tak Perlu Mobile Banking, Begini Cara Mudah Cek THR Pensiunan 2026

Kampung Inovasi IPB Subang Berhasil Kirim 100 Ton Benih Padi Unggul ke Luar Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *