Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia yang Tak Pernah Lepas dari Konflik

Kalau bicara soal harga BBM yang naik-turun atau tarif listrik yang bikin dompet menjerit, mata kita harusnya tertuju ke sebuah titik kecil di peta: Selat Hormuz. Jalur yang lebarnya cuma sekitar 33 kilometer di titik tersempit ini punya pengaruh yang nggak main-main. Bayangin saja, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia alias sekitar 20 juta barel per hari lewat sini. Kalau jalur ini “batuk” dikit aja, seluruh dunia bisa meriang.

Selat Hormuz Selalu Jadi Rebutan?

Secara geografis, selat ini ada di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Ini adalah satu-satunya jalan keluar buat minyak dari produsen raksasa kayak Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak buat nyampai ke pasar Asia, Eropa, hingga Amerika.

Masalahnya, Selat Hormuz itu ibarat “leher” dalam sistem pernapasan energi global. Siapa yang pegang kontrol di situ, dia yang punya posisi tawar paling tinggi. Iran, yang punya garis pantai panjang di sisi utara selat, sering banget pakai ancaman penutupan jalur ini sebagai senjata diplomasi kalau lagi ditekan sama Barat.

Belakangan ini, situasi di sana makin nggak menentu. Melansir dari laporan Kompas.com (3/3/2026), Selat Hormuz sempat dinyatakan tertutup buat pelayaran internasional setelah adanya serangan udara gabungan yang bikin tensi antara Iran sama Amerika Serikat plus Israel meledak. Efeknya? Harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak tajam, bahkan diprediksi bakal nembus angka 100 dollar AS per barel.

Nggak cuma minyak, pengiriman Liquefied Natural Gas (LNG) juga keganggu parah. Menurut analisis dari Goldman Sachs, kalau gangguan ini berlanjut sampai sebulan, harga gas di Eropa bisa meroket sampai 130 persen. Kebayang kan gimana pusingnya industri di sana kalau biaya energinya naik segila itu?

Krisis di Hormuz ini bukan cuma urusan orang Timur Tengah. Kita di Indonesia juga kena getahnya. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, lewat keterangannya di Kompas nyebutin kalau Hormuz itu bukan sekadar perairan biasa, tapi “titik cekik” ekonomi dunia. Gangguan di situ bakal langsung memicu inflasi global yang ujung-ujungnya bikin harga barang-barang di pasar lokal ikutan naik.

Senada dengan itu, pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga ngingetin kalau penutupan selat ini berlangsung lama, pemerintah kita bakal dihadapkan pada pilihan sulit: naikin subsidi BBM yang bakal bikin APBN boncos, atau naikin harga BBM yang bakal bikin daya beli masyarakat anjlok. Apalagi, menurut data dari Kemen ESDM, stok cadangan energi nasional kita cuma bertahan sekitar 21 sampai 26 hari aja.

Cari Jalur Alternatif?

Menanggapi situasi yang makin chaos, pemerintah nggak tinggal diam. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sempat bilang kalau Indonesia mulai ngelirik impor minyak dari Amerika Serikat sebagai langkah diversifikasi supaya nggak terlalu bergantung sama pasokan dari Timur Tengah.

“Diversifikasi itu penting banget buat jaga kepastian suplai energi kita di tengah ketidakpastian geopolitik yang makin nggak jelas kayak sekarang,” ujar salah satu pengamat energi dalam rilis persnya baru-baru ini.

Selat Hormuz emang bakal terus jadi pusat perhatian selama dunia masih butuh bahan bakar fosil. Konflik yang terjadi di sana bukan cuma soal perebutan wilayah, tapi soal siapa yang pegang kendali atas ekonomi global. Selama belum ada transisi energi total ke energi terbarukan, kita semua bakal tetap “disandera” oleh apa yang terjadi di selat sempit tersebut.

Sumber :

Capung: Serangga Cantik Penjaga Keseimbangan Alam yang Jarang Disadari

Mengulik Sejarah Kerajaan Salakanagara, Dari Legenda Hingga Catatan Sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *