Kalau biasanya anak umur 19 tahun lagi sibuk-sibuknya jadi maba (mahasiswa baru) atau galau milih jurusan, beda cerita sama sosok yang satu ini. Kenalin nih, Farras Ulinnuha, mahasiswi berprestasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang baru aja bikin publik geleng-geleng kepala karena prestasinya yang nggak main-main.
Farras sukses menyabet gelar Sarjana Kedokteran dari salah satu kampus terbaik di Indonesia pada usia yang masih sangat belia, yaitu 19 tahun 8 bulan. Pencapaian ini nggak cuma bikin bangga keluarga, tapi juga jadi inspirasi buat anak muda di seluruh Indonesia kalau usia bukan batasan buat meraih mimpi besar.
Mungkin banyak yang mikir, “Kok bisa ya secepat itu?” Ternyata, perjalanan Farras buat sampai di titik ini emang udah “ngegas” sejak sekolah dasar. Farras tercatat sebagai alumni kelas akselerasi. Sejak duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA, dia selalu menyelesaikan masa studinya lebih cepat dibanding teman sebaya lainnya.
Farras bercerita kalau sejak kecil dia emang punya ketertarikan yang besar di dunia medis. “Emang dari dulu pengen banget jadi dokter. Makanya pas ada kesempatan masuk kelas akselerasi, aku ambil biar bisa lebih cepat meraih cita-cita,” ungkapnya dengan senyum sumringah saat ditemui setelah prosesi wisuda di Grha Sabha Pramana UGM.
Meskipun terlihat mulus, jangan dikira Farras nggak nemuin tantangan. Kuliah di Kedokteran UGM yang terkenal “berdarah-darah” dengan tumpukan tugas dan ujian blok yang padat tentu bukan hal mudah, apalagi di usianya yang tergolong paling muda di angkatannya.
Banyak yang penasaran, gimana sih pola belajar seorang wisudawati termuda Kedokteran UGM ini? Farras mengaku kalau dia bukan tipe orang yang belajar 24 jam non-stop tanpa istirahat. Menurutnya, kuncinya ada di manajemen waktu dan tau kapan harus fokus.
Tantangan Jadi Mahasiswa Termuda
Jadi yang paling muda di kelas pasti ada rasanya sendiri. Farras mengaku awalnya sempat merasa canggung karena teman-teman seangkatannya secara usia jauh di atasnya. Tapi hal itu nggak jadi hambatan buat dia bergaul. Justru, dia banyak belajar kedewasaan dari kakak-kakak tingkatnya.
“Awalnya ya ngerasa beda sendiri, tapi lama-lama asik juga. Teman-teman di UGM sangat suportif dan nggak memandang usia. Kita semua sama-sama berjuang buat lulus,” tambahnya.
Selama masa kuliah, Farras juga aktif di berbagai kegiatan kampus. Dia membuktikan kalau jadi mahasiswa berprestasi nggak berarti harus jadi “kutu buku” yang ansos (anti-sosial). Keseimbangan antara akademik dan organisasi adalah hal yang dia jaga betul selama 3,5 tahun masa studinya.
Farras punya pesan keren buat teman-teman sebanyanya yang mungkin lagi ngerasa burnout atau kurang percaya diri. Menurutnya, setiap orang punya waktunya masing-masing, tapi jangan pernah takut buat mencoba hal yang dianggap mustahil.
“Jangan pernah dengerin omongan orang yang bilang kamu terlalu muda atau nggak mampu. Fokus aja sama prosesnya, hargai setiap langkah kecil yang kita ambil. Kalau kita mau berusaha dan berdoa, jalan itu pasti ada,” tutupnya.
Pencapaian Farras Ulinnuha ini jadi bukti nyata kalau kualitas pendidikan dan semangat juang yang tinggi bisa menghasilkan generasi emas bagi Indonesia. Siapa sangka, di usia yang bahkan belum menyentuh kepala dua, dia sudah siap melangkah ke dunia profesional medis yang penuh tanggung jawab.
Sumber:
