Namaku Ibnu, umurku 45 tahun dan tak terasa kini aku sudah mulai menjelang senja. Aku empat bersaudara dan aku yang paling tua, saat ini aku bekerja disebuah perusahaan tambang yang cukup ternama di daerah Kalimantan. Adik dibawahku bernama Nurhayati dan berprofesi sebagai seorang bidan yang sukses, usianya sekitar 42 tahun. Sementara adikku yang nomor tiga bernama Muhammad Arif dan saat ini ia telah menjadi seorang Manajer di sebuah perusahaan penelitian kelapa sawit di Medan, Sumatera Utara. Sedangkan si bungsu bernama Zulkipli, Ijul biasa kami memanggilnya. Ia bekerja sebagai seorang manager pergudangan di sebuah perusaan retail raksasa di daerah Cikarang Jawa Barat. Itu adalah kami, empat bersaudara…saat ini.
Seorang lelaki setengah baya tampak termenung di depan beranda rumah. Pandangan matanya menatap ke atas langit-langit rumah. Tatapan matanya kosong dan ia tak bersuara. Hembusan nafas terkadang terdengar dan dilepaskan satu persatu, tanda kegalauan pikiran menyelimutinya. Ia adalah ayahku, seorang satpam sebuah pabrik dipinggiran Jakarta. Tatapan mata yang tajam dan guratan wajahnya cerminan kerasnya kehidupan.
Disela lamunan ayah, ibu rupanya diam-diam memperhatikannya. Beliau menghampiri dan bertanya “ada apa Yah…? Ibu perhatikan ayah sedang memikirkan seuatu ya?. Ayah tidak langsung menjawab pertanyaan ibu, beliau hanya senyum tipis yang tersungging di wajahnya. “Ah Ibu ini…bikin kaget ayah saja…hehe”. Ayah melanjutkan pembicaraannya “itu lho Bu…ayah lagi pusing…beberapa hari lagi Yati harus membayar uang kuliahnya dan jumlahnya cukup besar Bu”. Yati adalah adikku yang saat itu sedang kuliah di sebuah akademi keperawatan swasta, sangat banyak biaya yang dikeluarkan untuk kuliah Yati, biaya SPP apalagi biaya praktek yang cukup besar. Ayah dan Ibu tampaknya sangat sayang kepada Yati, karena ia anak perempuan satu-satunya dan kami anak-anak laki-laki yang lain sangat memakluminya.
“Bagaimana ya Bu? Untuk gaji ayah bulan ini ngga cukup untuk membiayai kuliah anak-anak” sambung Ayah. “Bersabar Yah… tapi memang Ibu juga pusing Yah, perhiasan Ibu sudah terjual juga semuanya. Ayah kan juga tahu pengeluaran kita memang banyak, Yah… dan Ibnu dan Yati sudah mulai kuliah, sementara Arip dan Ijul juga sudah sekolah di SMA” tambah Ibu. Suasana hening sejenak dan mereka larut dengan pikirannya masing-masing. Diam-diam aku mendengar pembicaraan mereka. Sebagai anak yang tertua, aku tertuegun tetapi aku juga tidak tahu harus bagaimana membantu mereka. Dan suasana kembali hening….ayah dan ibu dengan kegelisahan masing-masing. Tanpa terasa air mata ibu menetes …”Sabar ya Yah,,,,semoga ada jalan dari Allah jika kita bersabar” Ibu berusaha menenangkan hati ayah. Ayah tersenyum mendengar kalimat menguatkan dari ibu. Semoga ada jalan….atau akankah adikku gagal melanjutkan kuliahnya?
Hari berganti hari…waktu terus berlalu. Uang masuk kuliah adikku yang harus segera dibayarkan. Sementara ayah belum mendapatkan solusinya, beliau makin bersedih karena berharap anak-anaknya dapat bersekolah lebih tinggi dari dirinya. Dalam keadaan yang seperti itu, tiba-tiba Ibu berkata “Yah…Alhamdulillah, mungkin ini jalannya Yah. Orang tua Ibu telah membagi-bagi waris ke anak-anaknya. Untuk keluarga kita dapat empat petak kontakan Yah” Ah, ibu begitu bergembiranya. Ayah terlihat begitu senangnya karena ada jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi dan beliau langsung bersujud syukur. Kalimat-kalimat pujian kepada Sang Pencipta mengalir deras dari mulutnya. Bahagianya hati beliau… Yaa Allah betapa mulianya..
Dari satu petak rumah kontrakan yang diberikan kakek untuk keluarga kami, akhirnya satu petak dijuial untuk membiayai kuliah adikku Yati. Yati pun semangat belajarnya tinggi dan sangat bersyukur dengan karunia ini. Satu petak ayah dan ibu jual untuk menunaikan ibadah haji dan dua petak lagi dikontrakkan untuk menambah pemasukan keluarga kami. Ini adalah cerita bertahun-tahun silam, tepatnya di tahun 1995…mengenang perjuangan ayah dan ibu tercinta,
Hari ini,kami berempat saudara telah mencapai cita-cita kami semua. Kedudukan dunia yang kami capai dan tak kalah pentingnya adalah bekal pendidikan dan agama juga terpatri di hati kami. Hari ini awal Ramadhan 1443 H kami berada di sebuah pemakaman unum di pinggiran Jakarta. Dua buah pusara ada dihadapan kami, ya…pusara ayah dan bunda yang sangat kami cintai. Nisan mereka berdua tidaklah berjauhan, sedekat ketika mereka hidup didunia. Tunai sudah kehidupan dan janji mereka, tuntas sudah membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan pendidikan dan ilmu agama. Yati adik perempuan yang kusayangi menitikkan air matanya,dan aku juga….disisi lain kedua adikku lainnya tampak mulutnya komat-kamit memanjatkan doa untuk mereka berdua. Siang yang panas perlahan berganti senja…suasana pekuburan juga perlahan sepi, satu persatu kami beranjak meninggalkanya. Abadi dan pahala yang terus mengalir…untukmu duhai ayah dan bunda. Aamiin yaa Robbal alamiin.
Kapuas, di Bulan Ramadhan 1445 H
