Dahulu kala, di pesisir selatan Tanah Pasundan, hiduplah sebuah masyarakat yang menyandarkan nyawanya pada pelukan Samudra Hindia. Pangandaran namanya sebuah semenanjung molek di mana matahari terbit dan terbenam seolah bisa disentuh dengan tangan. Di sana, ombak adalah musik pengantar tidur, dan bau garam adalah napas kehidupan.
Namun, alam memiliki rahasianya sendiri. Cerita ini bukan sekadar tentang air yang meluap, melainkan tentang saat di mana laut memutuskan untuk “berubah arah” dan bagaimana manusia belajar tentang arti sujud kepada Sang Pencipta.
Kidung Sang Nelayan Tua
Di tepi Pantai Barat, duduklah Aki Sastra, seorang sesepuh yang kulitnya sudah serupa kulit kayu jati—pecah-pecah dimakan garam dan matahari. Sore itu, 17 Juli 2006, langit sebenarnya tampak sangat cerah. Namun, Aki Sastra merasakan ada yang ganjil. Burung-burung camar yang biasanya berebut sisa ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) tiba-tiba terbang menjauh ke arah perbukitan hutan cagar alam.
“Aki, kenapa melamun? Ikan sedang melimpah, ayo turunkan jaring!” seru pemuda bernama Jaka yang sedang bersiap melaut.
Aki Sastra hanya menggeleng. Matanya menatap cakrawala yang tampak terlalu tenang. “Jaka, laut sedang menarik napas panjang. Biasanya, setelah napas panjang, ada hembusan yang dahsyat. Ulah jauh-jauh ti darat (Jangan jauh-jauh dari darat),” bisiknya parau.
Jaka hanya tertawa. Baginya, laut adalah kawan lama yang tak mungkin berkhianat. Namun, tepat pukul 15.19 WIB, bumi tiba-tiba bergoyang. Bukan goyangan yang hebat memang, hanya sebuah getaran halus yang membuat kaca-kaca hotel bergetar. Orang-orang di pasar dan di pinggir pantai sempat terdiam sejenak, lalu kembali tertawa. Mereka pikir, itu hanyalah sapaan rutin dari perut bumi.
Detik-Detik Air yang Hilang
Sekitar setengah jam setelah getaran itu, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi. Air laut yang tadinya menjilat-jilat pasir pantai tiba-tiba surut dengan sangat cepat. Seolah-olah ada raksasa di tengah samudra yang sedang meminum habis air laut itu dalam sekali teguk.
Ikan-ikan menggelepar di atas karang yang mendadak muncul ke permukaan. Anak-anak kecil berlarian kegirangan, memunguti kerang dan ikan yang terjebak di sela batu. Mereka tidak tahu bahwa laut sedang mengumpulkan tenaga.
“Lumpat! Lumpat ka pasir luhur!” (Lari! Lari ke tanah tinggi!)
Suara itu bukan datang dari manusia, melainkan seperti gemuruh ribuan kuda yang berlari di kejauhan. Aki Sastra berdiri tegak, tangannya menunjuk ke arah kaki langit. Di sana, garis putih panjang muncul. Semakin dekat, garis itu berubah menjadi tembok air yang hitam pekat, membawa segala sampah, lumpur, dan amarah samudra.
Amukan Nyi Roro Kidul
Masyarakat pesisir sering menyebut laut selatan sebagai kekuasaan Nyi Roro Kidul. Sore itu, sang ratu seolah sedang membersihkan berandanya. Tembok air setinggi pohon kelapa itu menghantam daratan tanpa ampun.
Jaka, yang tadi masih berada di pinggir perahu, tak sempat lagi menghindar. Ia melihat hotel-hotel megah hancur seperti istana pasir yang disapu kaki bocah. Suara jerit manusia beradu dengan suara kayu yang patah dan beton yang runtuh. Air masuk ke sela-sela pemukiman, menggulung apa saja yang dilewatinya: motor, mobil, kios-kios suvenir, hingga nyawa manusia.
Pangandaran yang tadinya berwarna-warni oleh payung pantai seketika berubah menjadi cokelat berlumpur. Orang-orang berlarian menuju arah Pananjung, wilayah hutan lindung yang lebih tinggi. Di sana, di bawah rindangnya pohon-pohon besar, mereka hanya bisa melihat ke bawah—melihat rumah dan harta benda mereka ditelan oleh air yang “berubah arah” masuk ke daratan.
Hikmah di Balik Prahara
Setelah air surut, yang tersisa hanyalah kesunyian yang mencekam. Bau lumpur laut yang anyir memenuhi udara. Banyak keluarga yang terpisah, banyak tangis yang pecah di kegelapan malam tanpa listrik.
Namun, di tengah duka itu, muncul sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh masyarakat adat. Mereka yang selamat saling berbagi sarung, berbagi nasi bungkus yang tersisa, dan saling menguatkan tanpa memandang siapa kaya siapa miskin. Aki Sastra, yang selamat karena sejak awal sudah naik ke perbukitan, duduk di antara para pengungsi.
Ia memandang ke arah laut yang kini sudah kembali tenang, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Bulan muncul dengan malu-malu di atas Samudra Hindia, memantulkan cahaya pada puing-puing yang berserakan.
“Ini bukan laut yang jahat,” ujar Aki Sastra pada anak-anak yatim yang meringkuk di dekatnya. “Ini adalah cara alam mengingatkan kita bahwa kita hanyalah tamu di sini. Kita seringkali terlalu sombong, merasa memiliki pantai, merasa menguasai ombak, padahal kita hanya menumpang hidup.”
Pengingat Keur Urang Sarerea (Untuk Kita Semua)
Kejadian Pangandaran 2006 bukanlah sekadar catatan sejarah dalam buku-buku kebencanaan. Bagi masyarakat Sunda, itu adalah sebuah “pepeling” atau peringatan yang sangat dalam. Cerita ini diwariskan dari mulut ke mulut agar anak cucu kelak tidak lupa cara membaca tanda-tanda alam.
Dalam budaya kita, ada sebuah kearifan yang sering terlupakan:
“Kudu bisa nitih wanci, njaga bumi. Ulah sangeunahna ka alam, bisi alam nembongkeun taringna. Sing eling, sing waspada, sabab mahluk mah ngan saukur darma, Gusti nu nangtukeun sagalana.”
(Harus bisa membaca waktu, menjaga bumi. Jangan semena-mena terhadap alam, khawatir alam menunjukkan taringnya. Selalulah ingat dan waspada, sebab makhluk hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segalanya.)
Penutup
Hari ini, Pangandaran telah bangkit kembali. Hotel-hotel berdiri lebih megah, pantai kembali bersih, dan wisatawan datang berbondong-bondong. Namun, jika Anda berjalan di sepanjang bibir pantai saat senja mulai turun, lihatlah ke arah laut lepas. Ingatlah bahwa di balik keindahannya yang menawan, ada kekuatan besar yang harus kita hormati.
Laut tidak pernah berubah arah tanpa alasan. Ia bergerak untuk menyeimbangkan diri. Tugas kita bukanlah melawan kekuatannya, melainkan hidup berdampingan dengannya dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati.
Semoga cerita dari tahun 2006 ini tetap hidup, bukan sebagai ketakutan, melainkan sebagai kebijaksanaan agar kita selalu eling (ingat) kepada Sang Pencipta dan menjaga alam yang telah memberi kita kehidupan.
