Negeri Sakura dan Langkah Besar Wisata Kuliner Halal yang Kian Mendunia

Siapa sangka, jalan-jalan ke Jepang sekarang nggak cuma soal foto di depan Torii merah atau belanja skincare. Tren liburan ke Negeri Sakura makin seru, terutama buat teman-teman Muslim. Jepang lagi serius banget garap potensi wisata kuliner halal yang bikin turis mancanegara, khususnya dari Indonesia, makin betah berlama-lama di sana.

Bukan Cuma Isu, Tapi Aksi Nyata

Dulu mungkin kita sering dengar kalau cari makanan halal di Jepang itu susahnya minta ampun. Tapi kalau kita lihat kondisi sekarang di tahun 2026, situasinya sudah berubah total. Pemerintah Jepang lewat organisasi seperti The Japan Food Product Overseas Promotion Center (JFOODO) makin gencar promosiin bahan makanan mereka yang aman dikonsumsi umat Muslim.

Bahkan, Eizo Kobayashi, President JFOODO, sempat bilang kalau Indonesia itu pasar yang super penting. Makanya, mereka nggak cuma jualan pemandangan, tapi juga jualan “rasa” yang aman di lidah dan hati.

Caption: Chef di Jepang kini semakin teliti memilih bahan baku bersertifikasi halal untuk menu autentik mereka.

Transformasi Menu: Ramen Tanpa Babi, Wagyu yang Halal

Salah satu gebrakan yang paling terasa adalah adaptasi menu lokal. Kalau biasanya ramen identik dengan kaldu babi (tonkotsu), kini banyak banget kedai ramen di Tokyo, Osaka, hingga Kyoto yang pakai kaldu ayam atau seafood yang sudah tersertifikasi halal.

Nggak tanggung-tanggung, Wagyu Jepang yang terkenal mahal dan lumer di mulut itu sekarang sudah banyak yang punya sertifikat halal dari lembaga resmi. Jadi, mimpi makan steak mewah di Ginza bukan lagi sekadar angan-angan buat para hijaber dan traveler Muslim.

“Kami menyadari betapa pentingnya pilihan makanan halal bagi wisatawan Muslim. Kami ingin kalian merasakan kenikmatan makanan Jepang tanpa rasa khawatir,” ujar Eizo Kobayashi dalam sebuah acara kuliner di Jakarta baru-baru ini.

Caption: Ramen halal kini menjadi primadona baru di kalangan turis Muslim yang berkunjung ke Jepang.

Bukan Jepang namanya kalau nggak pakai teknologi. Buat kalian yang mau ke sana, sudah ada layanan keren bernama Halal Travel Japan Planner. Ini adalah platform berbasis AI yang membantu turis cari restoran halal, tempat salat terdekat, sampai bikin itinerary yang Muslim-friendly.

Data terbaru menunjukkan kalau jumlah restoran bersertifikat halal di Jepang melonjak drastis. Kalau tahun-tahun sebelumnya cuma ada di kota besar, sekarang di pinggiran kota pun sudah mulai bermunculan kedai-kedai kecil yang punya label “Muslim Friendly”.

Kenapa Jepang Begitu Berambisi?

Menurut analisis dari Global Muslim Travel Index (GMTI), Jepang terus nangkring di posisi atas sebagai destinasi non-OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) yang paling ramah Muslim. Mereka paham kalau ekonomi syariah itu gurih banget. Diperkirakan pada tahun 2026 ini, ada lebih dari 230 juta turis Muslim di seluruh dunia yang siap belanja, dan Jepang mau ambil kue besar dari sana.

Nggak cuma dari sisi pemerintah, pengamat pariwisata juga kasih jempol. Menurut laporan dari Salaam Gateway, Jepang sukses melakukan “Diplomasi Kuliner”. Mereka nggak cuma ubah menu, tapi juga edukasi warganya soal apa itu halal.

“Masyarakat Jepang mulai paham kalau halal itu soal kebersihan dan kualitas, bukan cuma soal agama. Ini yang bikin ekosistemnya jadi makin kuat,” tulis salah satu laporan riset dari Universitas Diponegoro mengenai perkembangan Halal Tourism di Jepang.

Jadi, buat kamu yang punya rencana ke Jepang, jangan ragu lagi soal urusan perut. Dari sushi yang nggak pakai mirin, sampai yakiniku wagyu yang disembelih secara syar’i, semuanya sudah tersedia. Langkah besar Jepang ini bener-bener ngebuktiin kalau makanan enak itu harus bisa dinikmati sama siapa saja, tanpa batasan.

Sumber:

Saat Laut Berubah Arah: Cerita dari Pangandaran 2006

Indonesia dan Ancaman Megathrust

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *