Perayaan Tahun Baru Imlek selalu jadi momen yang ditunggu banyak orang. Bukan cuma oleh masyarakat Tionghoa, tapi juga warga Indonesia lintas latar belakang. Nuansa merah, lampion, barongsai, angpao, sampai aroma makanan khas bikin suasana jadi hangat dan meriah. Tapi di balik kemeriahan itu, Imlek punya sejarah panjang dan tradisi yang sarat makna.
Jejak Sejarah Imlek Dari Tiongkok ke Nusantara
Imlek atau Tahun Baru China berakar dari peradaban kuno Tiongkok yang usianya sudah lebih dari 3.500 tahun. Sejarah mencatat, perayaan ini sudah dikenal sejak masa Dinasti Shang, ketika masyarakat melakukan ritual syukur kepada leluhur dan dewa-dewa demi memohon panen melimpah .
Dalam legenda populer, Imlek juga dikaitkan dengan kisah monster Nian yang suka meneror desa saat pergantian tahun. Warga kemudian memakai warna merah, menyalakan lentera, dan membuat suara keras untuk mengusirnya. Sejak saat itu, warna merah dan petasan jadi simbol utama Imlek .
Di Indonesia, sejarah Imlek mengalami pasang surut. Pada masa kolonial Belanda, perayaan ini sempat dibatasi karena dianggap bisa memicu keramaian. Lalu di era Orde Baru, tradisi Tionghoa, termasuk Imlek, juga dibatasi lewat kebijakan pemerintah. Barulah setelah era reformasi, Imlek kembali dirayakan secara terbuka dan ditetapkan sebagai hari libur nasional lewat Keppres No. 6 Tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur .
Sejarawan budaya Tionghoa-Indonesia, Azmi Abubakar, menyebut Imlek di Nusantara sudah mengalami akulturasi kuat dengan budaya lokal. “Imlek di Indonesia itu unik, karena tradisinya berpadu dengan adat setempat, jadi tampil beda dibanding di Tiongkok,” ujarnya dalam wawancara dengan KompasTV .
Imlek bukan cuma soal pergantian tahun, tapi juga momentum refleksi, harapan, dan kebersamaan. Dalam tradisi Tionghoa, ini jadi waktu terbaik buat berkumpul dengan keluarga, saling memaafkan, dan memulai lembaran baru dengan semangat positif.
Dosen Sastra China Universitas Indonesia, Tuty Enoch Muas, menjelaskan bahwa inti Imlek adalah rasa syukur dan doa agar kehidupan setahun ke depan berjalan lancar. “Imlek itu simbol harapan, kebahagiaan, dan keharmonisan,” katanya .
Tradisi Khas Imlek yang Masih Bertahan
Meski zaman terus berubah, banyak tradisi Imlek yang tetap lestari, bahkan makin semarak. Berikut beberapa tradisi khas yang masih rutin dilakukan:
1. Bersih-Bersih Rumah
Menjelang Imlek, rumah dibersihkan dari ujung ke ujung. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol membuang kesialan dan membuka pintu rezeki baru.
2. Makan Malam Keluarga
Makan malam bersama di malam tahun baru jadi momen sakral. Hidangan seperti ikan, pangsit, mi panjang umur, dan kue keranjang wajib ada karena punya makna keberuntungan dan umur panjang.
3. Bagi-Bagi Angpao
Angpao berisi uang diberikan kepada anak-anak dan orang yang belum menikah sebagai simbol doa dan keberkahan. Warna merah pada amplop melambangkan keberuntungan.
4. Barongsai dan Liong
Atraksi barongsai dan naga jadi ikon perayaan Imlek di berbagai kota di Indonesia. Selain menghibur, tarian ini dipercaya membawa hoki dan menolak bala .
5. Sembahyang Leluhur
Keluarga Tionghoa melakukan sembahyang di rumah atau kelenteng sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Menurut laporan RRI, di berbagai daerah di Indonesia, tradisi Imlek berkembang unik. Di Singkawang, misalnya, ada Festival Cap Go Meh dengan atraksi tatung yang menarik ribuan wisatawan setiap tahun. Sementara di Semarang dan Jakarta, kawasan pecinan selalu dipadati pengunjung yang ingin merasakan suasana Imlek .
Tak cuma bagi warga Tionghoa, Imlek juga dirasakan sebagai momen kebersamaan lintas budaya. Warga Reddit Indonesia dalam sebuah diskusi menyebut Imlek di Indonesia terasa hangat karena melibatkan banyak kalangan. “Di kampung gue, semua ikut ngerayain. Tetangga non-Tionghoa juga datang silaturahmi, jadi suasananya akrab banget,” tulis salah satu pengguna Reddit .
Hal senada disampaikan Liana (32), warga Jakarta Barat. Ia bilang, setiap Imlek, keluarganya selalu membuka rumah buat siapa saja. “Buat kami, Imlek itu soal berbagi. Tetangga, teman, semua kami sambut. Rasanya lebih seru,” katanya.
Di tengah gaya hidup modern, tradisi Imlek tetap bertahan, bahkan makin kreatif. Banyak generasi muda merayakannya dengan cara baru, seperti membuat konten digital, vlog, hingga festival budaya yang dikemas kekinian. Media sosial juga ikut berperan memperluas gaung perayaan ini.
Pengamat budaya dari Universitas Indonesia, Riris K. Toha-Sarumpaet, menilai adaptasi ini justru membuat Imlek tetap relevan. “Tradisi yang bisa beradaptasi biasanya bertahan lebih lama. Imlek contoh nyata bagaimana budaya lama bisa hidup berdampingan dengan modernitas,” ujarnya.
Sejarah panjang dan tradisi kaya membuat Imlek lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia jadi simbol harapan, kebersamaan, dan keberagaman. Di Indonesia, Imlek tumbuh sebagai bagian dari mozaik budaya nasional yang memperkaya identitas bangsa.
Dengan terus melestarikan tradisi ini, generasi mendatang bisa tetap mengenal akar sejarahnya sekaligus merayakannya dengan cara yang lebih segar. Gong xi fa cai, semoga tahun ini membawa kebahagiaan dan keberuntungan untuk semua.

