Nama Adimas Muhammad Wibisana belakangan jadi perbincangan di kalangan pegiat agribisnis muda. Pemuda asal Subang, Jawa Barat ini berhasil membalik cara pandang banyak orang soal dunia tani. Lewat konsep agrowisata cerdas berbasis teknologi, ia membuktikan kalau bertani bisa tampil modern, efisien, dan punya nilai bisnis tinggi.
Berangkat dari lahan 1,3 hektare, Adimas mengembangkan rumah kaca modern yang dilengkapi sistem Internet of Things (IoT). Di sana, blewah tumbuh dalam kontrol suhu dan irigasi yang terukur. Hasilnya bukan cuma panen berkualitas, tapi juga pengalaman edukasi buat pengunjung yang ingin melihat langsung bagaimana smart farming bekerja.
“Banyak yang mikir pertanian itu identik dengan kotor dan ribet. Padahal kalau pakai teknologi, semuanya bisa lebih simpel dan terkontrol,” begitu kira-kira pandangannya saat berbagi cerita.
Dukungan Program YESS dari Kementerian Pertanian
Perjalanan bisnis Adimas makin melesat setelah mendapat dukungan dari Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Program ini digagas oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Program YESS dirancang untuk membuka peluang usaha dan kerja bagi generasi muda di sektor pertanian. Targetnya cukup ambisius: puluhan ribu anak muda diharapkan bisa terserap di dunia agribisnis, baik sebagai petani milenial maupun wirausaha desa. Berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian, sektor pertanian masih menjadi sumber penghidupan bagi sekitar sepertiga penduduk Indonesia. Namun kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini bikin regenerasi petani jadi tantangan serius.
Lewat YESS, ribuan pemuda sudah mendapat pelatihan, peningkatan literasi keuangan, hingga akses hibah kompetitif untuk modal usaha. Adimas termasuk salah satu penerima hibah tersebut.
Menariknya, Adimas tidak langsung terjun ke pertanian sejak awal. Ia sempat menjalani usaha di bidang alat kesehatan. Saat pandemi melanda, ia mulai melirik pertanian sebagai peluang baru. Dari situ, ia belajar, bereksperimen, lalu memutuskan membangun greenhouse modern.
Teknologi IoT yang dipakai memungkinkan sistem penyiraman berjalan otomatis sesuai kebutuhan tanaman. Kelembapan dan suhu terpantau lewat sensor digital. Jadi, risiko gagal panen bisa ditekan dan penggunaan air lebih hemat.
Tak cuma blewah, ia juga mengembangkan pisang cavendish serta berbagai sayur dan buah lain. Produksinya bisa tembus hingga dua ton per bulan. Angka yang cukup besar untuk skala usaha rintisan anak muda.
Agrowisata Cerdas, Bukan Sekadar Kebun
Yang bikin beda, konsepnya tidak berhenti di budidaya. Lokasi ini juga dibuka sebagai pusat edukasi agribisnis. Pengunjung bisa melihat langsung sistem tanam modern, belajar soal manajemen greenhouse, sampai diskusi peluang bisnis pertanian.
Model seperti ini dikenal sebagai agrowisata berbasis teknologi. Pengunjung bukan cuma datang foto-foto, tapi juga dapat insight. Buat pelajar, mahasiswa, bahkan komunitas, tempat ini jadi ruang belajar yang relevan dengan perkembangan zaman. Konsep ini juga menjawab tantangan minat generasi muda yang cenderung menjauh dari sektor tani. Dengan pendekatan visual yang modern dan dukungan teknologi, pertanian terasa lebih dekat dengan gaya hidup digital.
Peluang Bisnis Pertanian untuk Gen Z
Cerita Adimas memberi pesan kuat bahwa sektor pertanian bukan lahan usang. Justru di sinilah ruang inovasi terbuka lebar. Smart farming, precision agriculture, sampai integrasi data digital jadi peluang yang belum banyak digarap maksimal.
Dengan dukungan program seperti YESS, akses modal dan pelatihan makin terbuka. Anak muda yang punya ide dan kemauan bisa memulai tanpa harus punya lahan luas atau modal besar di awal. Adimas sendiri punya rencana memperluas greenhouse dan menggandeng investor agar skala usahanya meningkat. Ia ingin menjadikan proyeknya sebagai model percontohan agribisnis modern di daerah. Langkah seperti ini bisa mendorong tumbuhnya ekosistem pertanian baru di Subang dan wilayah lain. Ketika satu berhasil, biasanya yang lain ikut tergerak.
Kisah sukses ini menunjukkan bahwa transformasi pertanian bukan sekadar wacana. Dengan teknologi dan dukungan kebijakan yang tepat, sektor ini bisa kembali jadi primadona. Subang memberi contoh bahwa desa pun bisa jadi pusat inovasi. Bukan cuma kota besar yang punya peluang berkembang. Buat anak muda yang masih ragu masuk dunia agribisnis, cerita ini layak jadi bahan pertimbangan. Bertani bukan lagi soal cangkul dan lumpur semata. Sekarang, layar monitor dan sensor digital juga jadi bagian dari sawah modern. Dan mungkin, dari greenhouse sederhana di desa, lahir gelombang baru petani cerdas yang siap mengubah wajah pertanian Indonesia.
Sumber:
