Asal-Usul Nama Iran: Sejarah Persia yang Berubah Identitas di Dunia Modern

Pernah nggak sih kalian bingung kenapa ada yang bilang Persia, tapi ada juga yang bilang Iran? Padahal kalau liat di peta, ya tempatnya itu-itu juga. Ibarat orang yang baru glowing up terus ganti nama di kartu identitas, ternyata ada sejarah panjang dan alasan “politik” di balik berubahnya nama Persia jadi Iran.

Banyak yang ngira kalau Iran itu nama baru. Padahal aslinya, nama Iran itu udah “tua banget” dan punya makna yang dalem banget buat masyarakat di sana. Penasaran gimana ceritanya? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Persia Itu Nama ‘Pemberian’ Orang Luar?

Dulu, hampir seluruh dunia kenal wilayah ini dengan sebutan Persia. Nama ini sebenernya berasal dari bahasa Yunani, Persis, yang merujuk pada wilayah Parsa (sekarang Provinsi Fars di Iran). Gara-gara sejarawan Yunani kuno kayak Herodotus sering nulis tentang kekaisaran hebat di sana, akhirnya sebutan Persia nempel terus di kuping orang Barat.

Tapi tahu nggak? Warga lokal di sana dari ribuan tahun lalu justru nggak pernah manggil negara mereka Persia. Mereka lebih suka menyebut tanah airnya sebagai Eran atau Aryanam, yang artinya “Tanah Bangsa Arya”. Jadi, sebutan Persia itu ibarat nama panggilan dari tetangga, sementara nama aslinya ya Iran itu tadi.

Momen ‘Ganti Nama’ yang Bikin Heboh Dunia

Perubahan resmi dari Persia ke Iran terjadi pada 21 Maret 1935. Sosok di balik keputusan besar ini adalah Reza Shah Pahlavi. Dia pengen banget negaranya kelihatan lebih modern dan mandiri, nggak cuma dipandang lewat kacamata sejarah kuno versi Barat.

Reza Shah kirim surat diplomatik ke seluruh dunia dan bilang, “Eh, mulai sekarang jangan panggil kami Persia lagi ya, panggil kami Iran.” Langkah ini diambil biar ada semangat nasionalisme baru dan nggak ada lagi pengkotak-kotakan etnis di wilayahnya.

Kenapa Harus Iran?

Nama Iran dipilih karena berasal dari kata Airyan yang bermakna “bangsa yang mulia” atau “terhormat”. Selain itu, penggunaan nama Iran dianggap lebih inklusif. Karena kalau pakai nama Persia, itu cuma merujuk pada satu etnis saja, padahal di sana ada banyak etnis lain kayak Kurdi, Azeri, dan Gilaki.

Tapi ternyata, keputusan ini sempat menuai protes. Banyak akademisi di luar negeri merasa kehilangan “romantisme” sejarah. Nama Persia itu identik dengan karpet mewah, kucing cantik, dan kekaisaran Cyrus yang agung. Begitu diganti jadi Iran, rasanya kayak ada identitas budaya yang hilang.

Menariknya, perdebatan ini nggak berhenti di tahun 1935 aja. Mengutip dari Far Horizons, penggantian nama ini sebenernya bentuk “pernyataan kedaulatan” buat lepas dari bayang-bayang kolonial.

Sementara itu, sejarawan Hooman Majd punya pendapat yang cukup nendang. Menurutnya, banyak orang di luar sana (khususnya diaspora) masih lebih nyaman pakai nama Persia karena konotasinya lebih ke seni dan budaya tinggi. Sedangkan nama Iran, terutama setelah revolusi 1979, seringkali dihubung-hubungkan dengan isu politik yang berat.

“Bagi dunia Barat, Persia identik dengan keagungan dan eksotisme Timur. Tapi bagi rakyatnya, Iran adalah penegasan atas kontinuitas sejarah yang nggak terputus,” tulis laporan dari National Geographic.

Jadi, mau disebut Persia atau Iran, keduanya sebenernya merujuk pada peradaban yang sama hebatnya. Persia adalah wajah budaya yang dikenal dunia, sementara Iran adalah identitas jati diri yang diinginkan oleh rakyatnya sendiri. Meski nama resminya sekarang adalah Republik Islam Iran, warisan Persia bakal tetap abadi lewat sastranya yang indah dan sejarahnya yang nggak ada habisnya buat dikulik.

Sumber Referensi:

Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Benarkah Kelelawar Sumber Banyak Penyakit? Ini Penjelasan Ilmiah yang Perlu Diketahui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *