Keberadaan sang raja hutan, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), makin hari makin bikin ketar-ketir. Sebagai satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia setelah saudara-saudaranya di Jawa dan Bali dinyatakan punah, nasib “si loreng” ini sekarang berada di ujung tanduk. Bukan cuma soal angka populasi yang terus merosot, tapi juga soal bagaimana ruang hidup mereka yang makin terjepit oleh aktivitas manusia.
Belakangan ini, berita soal harimau yang masuk ke permukiman warga makin sering terdengar. Salah satu kejadian terbaru ada di Desa Pulau Muda, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Maret 2026. Seekor anak harimau terpaksa diamankan tim BKSDA setelah sempat memangsa ternak kambing milik warga. Hal ini menunjukkan kalau hutan yang jadi rumah asli mereka sudah nggak lagi mampu menyediakan makanan yang cukup.
Menurut data dari BBKSDA Riau, sepanjang tahun 2025 saja tercatat ada 28 kasus konflik antara manusia dan harimau. Angka ini jadi pengingat keras kalau ada yang nggak beres sama ekosistem kita. Ketika hutan beralih fungsi jadi perkebunan atau pemukiman, harimau kehilangan wilayah jelajahnya yang idealnya mencapai 10.000 hektare per individu.
Banyak yang mengira harimau itu jahat karena menyerang ternak atau manusia. Padahal, sifat dasar kucing besar ini sebenarnya menghindari kontak sama kita. Masalahnya, rumah mereka dirusak. Kebakaran hutan, penebangan liar, sampai proyek pembangunan bikin mereka stres dan lapar.
Prof. Ani, seorang ahli dari IPB University, menjelaskan kalau hilangnya predator puncak kayak harimau ini bakal ngerusak seluruh tatanan alam. Kalau harimau punah, populasi hewan pemakan tumbuhan bakal meledak dan justru ngerusak vegetasi hutan. Jadi, menjaga harimau itu sama saja dengan menjaga napas bumi kita sendiri.
Nggak cuma dari sisi pemerintah, komunitas lokal juga punya peran besar. Di Lampung, ada keresahan yang sama. Mengutip dari laman Green Network, masyarakat sebenarnya nggak benci sama harimau. Mereka cuma takut dan pengen merasa aman saat bekerja di kebun.
“Ini perlu kerja sama banyak pihak buat nyadarin lagi betapa pentingnya hutan buat anak cucu kita. Jangan sampai nasib Harimau Sumatera berakhir kayak Harimau Jawa,” tulis laporan dari sumber tersebut.
Di sisi lain, ada kabar baik dari Bengkulu. Lewat pantauan kamera trap di tahun 2025, terdeteksi sekitar 42 individu harimau yang masih bertahan di bentang alam Bukit Balai Rejang Selatan dan Seblat. Ini jadi secercah harapan kalau upaya konservasi yang serius memang membuahkan hasil.
Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan
Menyelamatkan harimau bukan cuma tugas orang-orang berseragam hijau atau aktivis lingkungan. Kita semua punya andil. Gimana caranya?
-
Dukung produk ramah lingkungan: Pilih produk yang nggak ngerusak hutan (sustainable).
-
Edukasi sekitar: Kasih tahu teman-teman kalau perburuan satwa liar itu tindakan kriminal yang ngerugiin masa depan.
-
Laporkan konflik: Kalau melihat jejak atau keberadaan satwa liar di dekat pemukiman, segera hubungi call center BKSDA setempat dan jangan main hakim sendiri.
Dukungan kolaboratif antara warga, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah adalah kunci utama. Penanganan konflik tanpa tumpah darah, seperti evakuasi anak harimau di Pelalawan kemarin, harus jadi standar baru dalam menjaga kelestarian satwa.
Harimau Sumatera adalah identitas alam Indonesia yang tak ternilai harganya. Kalau kita cuek, anak cucu kita nanti mungkin cuma bisa melihat keindahan lorengnya lewat buku sejarah atau video lama. Kita harus bergerak bareng-bareng buat mastiin kalau hutan Sumatera tetap punya “sang raja” yang menjaga keseimbangan alam.
Informasi lebih detail mengenai perkembangan kasus dan upaya konservasi bisa kamu pantau langsung melalui sumber-sumber terpercaya berikut:
