
Dahulu kala, di tanah Pasundan yang subur, berdirilah dengan gagah sebuah gunung yang menjadi paku bumi di wilayah Sukapura yang sekarang kita mengenalnya sebagai Tasikmalaya. Gunung itu bernama Galunggung. Bagi masyarakat saat itu, Galunggung bukan sekadar gundukan tanah dan batu yang menjulang tinggi, melainkan sosok “Eyang” yang melindungi, pemberi air yang jernih, dan penjaga kesuburan sawah ladang mereka.
Tahun 1822 bermula seperti tahun-tahun biasanya. Angin bertiup tenang di sela-sela pohon jati, dan suara gemericik air sungai Ciwulan senantiasa menemani para petani yang pergi ke sawah. Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Konon, para sesepuh di kaki gunung mulai merasakan firasat yang tidak enak. Hewan-hewan hutan rusa, monyet, hingga babi hutan mulai turun gunung dengan tatapan mata yang liar, seolah-olah mereka sedang dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Isyarat Sang Alam
Puncaknya terjadi pada bulan Oktober. Langit yang biasanya biru bersih perlahan berubah menjadi kelabu yang muram. Udara yang sejuk berganti menjadi gerah yang menyesakkan dada. Para orang tua di desa-desa seperti Linggajati dan Sinagar mulai saling berbisik, “Aya naon jeung Sang Eyang?” (Ada apa dengan Sang Eyang?).
Tepat pada tanggal 8 Oktober 1822, saat matahari baru saja hendak beristirahat di ufuk barat, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Guncangan itu bukan sekadar getaran kecil, melainkan amukan yang meruntuhkan dinding-dinding bambu rumah penduduk. Tak lama kemudian, dari puncak Galunggung, terdengar suara dentuman yang menggelegar seperti ribuan meriam yang ditembakkan secara bersamaan ke langit.
“Galunggung bitu! Galunggung bitu!” teriak warga bersahutan di tengah kegelapan yang mendadak pekat.
Bukan sekadar asap, Galunggung memuntahkan isi perutnya berupa lahar panas, bebatuan raksasa, dan hujan abu yang membutakan mata. Hujan yang turun saat itu bukan lagi air yang menyegarkan, melainkan hujan lumpur panas bercampur pasir. Jerit tangis manusia beradu dengan suara gemuruh petir yang menyambar-nyambar di atas kawah.
Banjir Bandang dan Perubahan Wajah Bumi
Bencana itu tidak berhenti di malam itu saja. Letusan besar ini memicu banjir lahar dingin yang luar biasa dahsyat. Aliran air dari sungai-sungai yang berhulu di Galunggung berubah menjadi gelombang raksasa berwarna hitam pekat yang membawa bongkahan batu sebesar kerbau dan batang-batang pohon yang tumbang.
Wilayah Sukapura yang semula datar dan hijau, dalam sekejap tertutup oleh lapisan material vulkanik. Desa-desa hilang ditelan bumi. Ribuan nyawa melayang bukan hanya karena api, tapi karena terjebak dalam jebakan lumpur yang sangat dalam. Dikatakan dalam catatan sejarah dan cerita lisan, lebih dari 4.000 jiwa terkubur dalam peristiwa pilu tersebut.
Namun, di balik kehancuran itu, terjadilah sebuah fenomena alam yang luar biasa yang mengubah wajah Tasikmalaya selamanya. Jutaan kubik material yang dimuntahkan Galunggung tidak mengendap begitu saja secara merata. Endapan itu membentuk ribuan bukit-bukit kecil yang tersebar di wilayah Tasikmalaya. Masyarakat setempat kemudian menyebut fenomena ini sebagai “Sepuluh Ribu Bukit” atau Ten Thousand Hills of Tasikmalaya.
Bukit-bukit kecil ini sebenarnya adalah “hummocks” gundukan material hasil longsoran raksasa saat dinding kawah Galunggung runtuh. Inilah yang membuat lanskap Tasikmalaya berbeda dengan daerah lain di Jawa Barat. Tanah yang tadinya rata kini bergelombang, memberikan pemandangan yang unik sekaligus menjadi pengingat abadi akan kekuatan alam.
Setelah abu mengendap dan tangis mereda, mereka yang selamat kembali ke tanah kelahiran mereka dengan hati yang hancur. Namun, keajaiban perlahan muncul. Beberapa tahun setelah letusan, tanah yang dulunya hangus justru berubah menjadi sangat subur. Abu vulkanik Galunggung memberikan nutrisi luar biasa bagi bumi Sukapura.
Pertanian berkembang pesat. Kopi, padi, dan palawija tumbuh dengan kualitas yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tasikmalaya bangkit dari abu, berubah menjadi wilayah yang makmur dan menjadi salah satu pusat ekonomi di Jawa Barat. Gunung Galunggung kembali diam, kembali menjadi sosok “Eyang” yang mengawasi dari kejauhan, seolah meminta maaf atas amarahnya di masa lalu dengan memberikan kesuburan yang tiada tara.
Masyarakat Sukapura belajar satu hal penting: alam adalah guru. Mereka mulai membangun kembali pemukiman dengan tata cara yang lebih menghormati gunung. Cerita tentang letusan 1822 diturunkan dari mulut ke mulut, dari kakek kepada cucu, agar anak cucu kelak tidak lupa bahwa mereka hidup di bawah bayang-bayang raksasa yang sewaktu-waktu bisa terbangun.
Pangeling-ngeling (Kata Pengingat)
“Ulah kacapi ku pati, ulah melang ku sangkan. Urang teh hirup numpang di kersaning Gusti, ngumbara di alam anu kagungan-Na. Gunung Galunggung teh paku bumi, mun manehna marentahkeun ‘hudang’, urang salaku manusa taya daya jeung upaya.”
(Jangan sombong oleh nyawa, jangan khawatir oleh asal-usul. Kita hidup menumpang atas kehendak Tuhan, berkelana di alam milik-Nya. Gunung Galunggung adalah paku bumi, jika ia diperintahkan ‘bangun’, kita sebagai manusia tidak memiliki daya dan upaya.)
“Jaga leuweungna, jaga caina, jaga tatangkalanana. Sabab lamun urang cageur ka alam, alam oge bakal bageur ka urang. Lamun urang ruksak ka alam, alam bakal nembakkeun amarahna anu moal bisa ditawar-tawar deui.”
(Jaga hutannya, jaga airnya, jaga pepohonannya. Sebab jika kita baik kepada alam, alam juga akan baik kepada kita. Jika kita merusak alam, alam akan menunjukkan amarahnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.)
Kisah letusan 1822 adalah bukti bahwa di balik musibah ada anugerah, dan di balik keindahan bukit-bukit Tasikmalaya tersimpan duka yang mendalam. Mari kita jadikan sejarah ini sebagai obor pengingat agar kita senantiasa rendah hati dan menjaga titipan Sang Pencipta ini dengan sebaik-baiknya.
Sebab, Galunggung tetap di sana, diam membisu, namun ia selalu mencatat setiap langkah kaki kita di punggungnya.
