Ribuan petani, peternak, dan nelayan dari 34 provinsi tercatat ikut dalam program konsultasi daring bersama para ahli dari IPB University. Layanan ini jadi ruang diskusi terbuka buat pelaku usaha sektor pangan yang butuh solusi cepat, tanpa harus datang langsung ke kampus di Dramaga, Bogor.
Program ini digagas sebagai jembatan antara ilmu kampus dan praktik di lapangan. Lewat skema konsultasi online, para pelaku usaha bisa menyampaikan masalah yang mereka hadapi, mulai dari serangan hama, manajemen pakan ternak, sampai teknik budidaya perikanan yang lebih efisien.
Menurut keterangan resmi dari IPB University, layanan ini terbuka untuk individu maupun kelompok tani. Peserta cukup mendaftar secara daring, lalu akan dijadwalkan sesi diskusi dengan dosen atau pakar sesuai bidangnya. Skemanya fleksibel, bisa lewat video conference maupun forum tanya jawab tertulis.
“Banyak pertanyaan soal penyakit tanaman dan cara ningkatin produktivitas tanpa biaya tinggi,” ujar salah satu dosen Fakultas Pertanian IPB dalam rilis kampus. Ia menyebut, antusiasme peserta datang dari berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil yang sebelumnya sulit mengakses pendampingan ahli.
Cerita dari lapangan juga nggak kalah menarik. Rahmat, petani cabai asal Sulawesi Selatan, mengaku terbantu setelah ikut sesi konsultasi. “Awalnya panen sering gagal gara-gara layu fusarium. Setelah dikasih arahan soal rotasi tanam dan pengolahan tanah, hasilnya jauh lebih bagus,” katanya saat dihubungi lewat sambungan telepon.
Hal serupa disampaikan Lilis, peternak kambing dari Jawa Tengah. Ia mengikuti sesi tentang formulasi pakan alternatif. “Biasanya pakan mahal. Dari konsultasi itu, saya jadi tahu cara campur bahan lokal yang tetap nutrisinya cukup,” ujarnya.
Di sektor kelautan, nelayan dari pesisir Sumatera Barat juga memanfaatkan layanan ini untuk berdiskusi soal penanganan hasil tangkap agar kualitas ikan tetap terjaga sampai ke pasar. Dengan bimbingan ahli teknologi hasil perairan, mereka belajar teknik penyimpanan sederhana tapi efektif.
Pengamat pertanian dari sebuah lembaga riset independen menilai langkah IPB ini cukup strategis. Menurutnya, transfer ilmu lewat jalur digital bisa mempercepat adopsi inovasi di tingkat akar rumput. “Kampus nggak lagi eksklusif. Ilmunya langsung nyampe ke pelaku usaha,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring yang membahas penguatan sektor pangan nasional.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan masih menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia. Tantangannya pun beragam, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga, sampai akses teknologi. Di sinilah peran pendampingan berbasis sains jadi krusial.
IPB University sendiri dikenal aktif mendorong inovasi di bidang agromaritim. Lewat berbagai program pengabdian masyarakat dan inkubasi bisnis, kampus ini mencoba mendekatkan hasil riset ke masyarakat luas. Konsultasi daring jadi salah satu pintu masuk yang dinilai praktis dan efisien.
Menariknya, sebagian peserta mengaku baru pertama kali berdiskusi langsung dengan akademisi. “Ternyata ngobrol sama dosen nggak seseram yang dibayangin. Malah santai, bahasanya gampang dimengerti,” kata Andi, nelayan dari Kalimantan Selatan.
Ke depan, IPB berencana memperluas topik konsultasi, termasuk digital farming, smart aquaculture, hingga strategi pemasaran produk hasil tani lewat platform online. Harapannya, pelaku usaha nggak cuma kuat di produksi, tapi juga di sisi bisnis.
Program ini juga jadi bukti kalau kolaborasi bisa dibangun tanpa batas jarak. Dengan dukungan internet dan kemauan belajar, petani di desa bisa terhubung langsung dengan profesor di kampus ternama.
Bagi yang ingin ikut, informasi pendaftaran tersedia di laman resmi IPB University melalui kanal pengabdian masyarakat. Peserta hanya perlu mengisi data dan memilih bidang konsultasi yang dibutuhkan.
Langkah sederhana, dampaknya terasa nyata. Dari sawah, kandang, sampai laut, ribuan pelaku usaha kini punya akses lebih dekat ke ilmu pengetahuan. Dan dari layar gawai, obrolan singkat bisa berubah jadi solusi jangka panjang.
Sumber:
