Banyak orang langsung merasa ngeri atau jijik pas melihat biawak melintas di pinggir sungai atau masuk ke pemukiman. Hewan yang sering disebut “komodo kecil” ini memang punya tampang yang lumayan gahar. Tapi, di balik gerakannya yang pelan dan lidahnya yang terus menjulur, biawak sebenarnya punya misi rahasia yang krusial banget buat keberlangsungan alam sekitar kita.
Si Tukang Bersih-Bersih yang Handal
Biawak sering banget dicap sebagai hama, padahal mereka itu petugas kebersihan alami. Sebagai hewan karnivora yang juga doyan makan bangkai (scavenger), biawak membantu mempercepat proses penguraian di alam. Bayangkan kalau bangkai tikus atau ikan di pinggir sungai dibiarkan begitu saja tanpa ada yang memakan; bakteri jahat bakal berkembang biak dan mencemari air. Di sinilah biawak beraksi. Mereka memakan sisa-sisa organik itu sebelum sempat menyebarkan penyakit ke lingkungan sekitar.
Penyeimbang Rantai Makanan
Bukan cuma makan bangkai, biawak juga pemburu yang lihai. Mereka memangsa tikus, serangga besar, hingga ular-ular kecil yang kalau jumlahnya terlalu banyak malah bisa merusak keseimbangan kebun atau sawah. Tanpa adanya predator seperti biawak, populasi hama bakal meledak dan bikin pusing petani atau warga. Jadi, keberadaan mereka sebenarnya adalah kontrol alami supaya lingkungan tetap stabil.
Mitos dan Fakta: Berbahaya atau Enggak?
Banyak anggapan kalau biawak itu beracun dan mematikan. Faktanya, biawak air (Varanus salvator) memang punya bakteri di mulutnya dan kelenjar racun ringan, tapi efeknya nggak sefatal komodo. Luka gigitannya memang bisa bikin infeksi kalau nggak dibersihkan dengan benar, tapi biasanya biawak bakal lebih milih lari daripada menyerang manusia. Mereka itu makhluk yang sangat tertutup dan cuma bakal agresif kalau merasa benar-benar terpojok.
Menurut pengamatan dari para pegiat konservasi di Indonesia Nature Foundation, biawak punya kecerdasan yang lumayan tinggi buat ukuran reptil. Mereka bisa mengenali wilayah kekuasaannya dan punya memori yang tajam soal sumber makanan.
“Biawak adalah indikator kesehatan sebuah ekosistem air. Kalau di suatu sungai masih banyak biawak, artinya sumber makanan di sana masih melimpah dan lingkungan tersebut masih berfungsi dengan baik secara biologis,” ujar salah satu peneliti herpetologi dalam diskusi lingkungan di Jakarta.
Selain itu, sumber dari National Geographic juga menyebutkan kalau spesies Varanus ini punya kemampuan adaptasi yang luar biasa hebat. Mereka bisa hidup di hutan, rawa, bahkan di saluran air kota besar yang padat penduduk. Kemampuan renang mereka yang jempolan bikin mereka jadi predator puncak di wilayah perairan tawar.
Masalahnya, saat ini habitat biawak makin lama makin sempit gara-gara pembangunan gedung dan beton di mana-mana. Belum lagi perburuan liar buat diambil kulitnya atau dikonsumsi dagingnya. Padahal, kalau biawak punah dari sebuah ekosistem, bakal ada “lubang” besar dalam rantai makanan yang efek domino-nya bisa merugikan kita juga sebagai manusia. Menjaga biawak tetap ada di habitatnya sama saja dengan menjaga kualitas air dan mengontrol populasi hama di sekitar rumah.
Menghargai kehadiran biawak bukan berarti kita harus memeliharanya di dalam kamar, tapi cukup dengan nggak menyiksa atau membunuh mereka saat berpapasan. Mereka adalah bagian dari sistem canggih alam yang sudah bekerja ribuan tahun buat menjaga bumi tetap bersih. Jadi, kalau lain kali lihat biawak lagi berjemur di pinggir kali, kasih mereka ruang. Mereka cuma lagi menjalankan tugasnya sebagai predator sunyi yang menjaga alam kita tetap sehat.
Sumber:
