Masalah banjir di kawasan perumahan seringkali bikin pusing tujuh keliling. Begitu hujan deras turun sebentar saja, air langsung naik dan masuk ke dalam rumah. Banyak yang menyalahkan curah hujan yang makin ekstrem, tapi kalau kita teliti lagi, masalah utamanya seringkali ada di bawah kaki kita, yaitu sistem irigasi atau drainase yang nggak berfungsi maksimal. Saluran air di sekitar rumah bukan cuma pajangan atau tempat pembuangan, tapi punya peran krusial sebagai jalur utama aliran air supaya nggak parkir di depan pintu rumah kamu.
Kenapa Irigasi Itu Vital Banget?
Bayangkan sebuah kota atau komplek perumahan tanpa saluran air yang jelas. Saat hujan turun, air bakal mencari jalan terendah untuk mengalir. Kalau jalurnya tersumbat sampah atau desainnya yang asal-asalan, otomatis air bakal meluap ke jalanan dan pemukiman. Di sinilah fungsi utama saluran irigasi: mengarahkan debit air hujan menuju sungai atau waduk penampungan dengan cepat.
Menurut data dari berbagai sumber lingkungan, wilayah yang punya sistem drainase terintegrasi dengan baik punya risiko terkena banjir 70% lebih rendah dibanding wilayah yang saluran airnya terputus-putus. Masalahnya, banyak pengembang atau warga yang menutup saluran air demi memperluas halaman atau parkiran tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, menutup saluran air sama saja dengan mengundang genangan datang saat musim penghujan tiba.
Bukan Sekadar Parit Biasa
Saluran irigasi di pemukiman modern idealnya nggak cuma berupa parit terbuka yang kotor. Sekarang sudah banyak konsep drainase ramah lingkungan yang disebut dengan sistem drainase berkelanjutan. Tujuannya supaya air nggak cuma dialirkan, tapi juga diresap ke dalam tanah. Jadi, selain mencegah banjir, cadangan air tanah di lingkungan kita juga tetap terjaga.
Pakar tata kota sering menekankan kalau kunci dari pencegahan banjir bukan cuma soal seberapa besar saluran airnya, tapi seberapa lancar alirannya. “Percuma punya saluran lebar kalau penuh sampah atau sedimen lumpur yang nggak pernah dikeruk. Pemeliharaan itu 50% dari solusi banjir,” ungkap seorang pengamat tata kelola air dalam sebuah diskusi infrastruktur.
Sinergi Warga dan Pemerintah
Kita nggak bisa cuma mengandalkan pemerintah buat urusan banjir ini. Kesadaran warga buat nggak buang sampah ke selokan itu langkah paling awal tapi paling berdampak. Selain itu, pengecekan rutin secara gotong royong sebelum musim hujan tiba sangat membantu buat memastikan nggak ada sumbatan di titik-titik krusial.
Pemerintah sendiri terus berupaya memperbaiki infrastruktur mikro di tiap kelurahan. Pembangunan u-ditch atau beton pracetak untuk saluran air jadi tren karena lebih rapi dan kuat menahan beban jalan. Namun, pembangunan fisik ini harus dibarengi dengan pemetaan topografi yang bener. Jangan sampai saluran air malah dibuat mendaki, yang ada airnya malah balik lagi ke pemukiman.
Menyadur laporan dari laman resmi Pemerintah Kota (Pemkot), optimalisasi saluran drainase mikro di lingkungan padat penduduk jadi prioritas utama buat ngurangin titik genangan. Mereka menyebut kalau revitalisasi saluran air harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir supaya nggak ada penumpukan air di satu titik tertentu saja.
Di sisi lain, mengutip dari https://www.google.com/search?q=Kompas.com, para ahli hidrologi menyarankan agar setiap rumah punya sumur resapan sendiri. Jadi, beban saluran irigasi di depan rumah nggak terlalu berat saat hujan ekstrem. Dengan adanya sumur resapan, air hujan sebagian masuk ke tanah, sebagian baru lari ke selokan. Ini adalah kolaborasi yang cakep antara infrastruktur publik dan partisipasi pribadi.
Memang butuh usaha ekstra buat menjaga lingkungan tetap kering dan aman dari banjir. Tapi kalau dibandingin dengan kerugian yang harus ditanggung kalau rumah kebanjiran mulai dari barang elektronik rusak sampai risiko penyakit tentu merawat saluran irigasi jauh lebih murah dan masuk akal.
Sumber:
