Masalah sampah masih jadi pekerjaan rumah besar di banyak daerah. Setiap hari, jutaan ton limbah rumah tangga, plastik, hingga sisa makanan terus bertambah. Kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma soal lingkungan kotor, tapi juga kesehatan, ekonomi, bahkan kualitas hidup. Makanya, cara bijak mengelola sampah jadi langkah penting yang perlu diterapkan mulai dari rumah.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 30,97 juta ton sampah sepanjang 2023, dan sekitar 34 persen di antaranya belum terkelola dengan baik. Artinya, masih ada jutaan ton sampah yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara . Pada 2024, timbulan sampah nasional naik menjadi 33,79 juta ton, dengan lebih dari 50 persen berasal dari rumah tangga .
Angka itu bikin banyak pihak makin sadar, kunci pengelolaan sampah sebenarnya ada di kebiasaan sehari-hari. Mulai dari memilah, mengurangi, sampai mendaur ulang.
Pengelolaan sampah yang efektif bukan soal teknologi mahal, tapi kebiasaan sederhana. Salah satunya memilah sampah sejak awal. Pisahkan antara sampah organik, anorganik, dan residu.
- Sampah organik seperti sisa makanan dan daun bisa diolah jadi kompos.
- Sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan kaleng bisa didaur ulang atau disetor ke bank sampah.
- Sampah residu yang tidak bisa diolah sebaiknya dibuang dengan cara aman.
Menurut Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Agus Rusli, sekitar 50 persen sampah rumah tangga adalah organik, sehingga pengomposan di rumah bisa memangkas timbulan sampah secara signifikan. “Kalau tiap rumah mau bikin kompos, beban TPA bisa turun drastis,” ujarnya dalam wawancara media nasional.
Bank Sampah, Solusi Lingkungan Sekaligus Tambah Cuan
Bank sampah makin populer di berbagai daerah. Konsepnya simpel: warga menabung sampah anorganik yang sudah dipilah, lalu ditukar dengan uang atau kebutuhan pokok.
Data KLHK menunjukkan, jumlah nasabah bank sampah di Indonesia pada 2024 mencapai 647.797 orang, naik 57 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren ini menandakan kesadaran masyarakat mulai tumbuh .
Rina (34), warga Depok, mengaku rutin menabung sampah plastik dan kardus. “Lumayan buat beli kebutuhan dapur. Sekalian bikin lingkungan rumah jadi lebih rapi,” katanya.
Selain memilah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai jadi kunci penting. Bawa tas belanja sendiri, pakai botol minum isi ulang, dan hindari kemasan berlebih.
Aktivis lingkungan dari komunitas Zero Waste Indonesia, Dimas Pratama, bilang kebiasaan kecil bisa berdampak besar. “Kalau satu orang mengurangi satu botol plastik per hari, bayangin kalau dilakukan jutaan orang. Efeknya luar biasa,” ujarnya.
Sampah yang menumpuk bisa jadi sarang penyakit. Genangan air di tumpukan sampah memicu nyamuk berkembang, sementara pembakaran sampah sembarangan menghasilkan polusi udara berbahaya.
Riset internasional bahkan menunjukkan, pembakaran plastik terbuka bisa meningkatkan kadar partikel halus di udara, yang berisiko memicu gangguan pernapasan. Karena itu, membakar sampah sebaiknya dihindari, diganti dengan pengelolaan yang lebih aman.
Pengelolaan sampah bakal lebih efektif kalau ada kolaborasi. Beberapa daerah sudah mengembangkan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle), rumah kompos, hingga program edukasi di sekolah.
Pemerintah juga mendorong gerakan nasional lewat Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yang mengajak warga terlibat aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), tingkat sampah terkelola pada 2025 baru sekitar 34,49 persen, menandakan masih perlu kerja keras bersama .
Pendidikan soal sampah sebaiknya dimulai sejak usia dini. Sekolah bisa mengajarkan pemilahan, daur ulang, hingga proyek kreatif dari barang bekas.
Guru lingkungan dari Bandung, Siti Nurhayati, menuturkan, “Anak-anak cepat paham kalau diajak praktik langsung. Dari kecil sudah terbiasa, pas dewasa jadi otomatis peduli.”
Mengelola sampah secara bijak bukan tugas pemerintah semata. Setiap individu punya peran. Mulai dari memilah, mengurangi, memanfaatkan kembali, sampai mendukung program bank sampah di lingkungan sekitar.
Kalau kebiasaan baik ini dilakukan konsisten, lingkungan bersih dan sehat bukan sekadar impian. Kota lebih nyaman, udara lebih segar, dan kualitas hidup meningkat.
Sumber:
-
KLHK via Databoks Katadata: https://databoks.katadata.co.id
-
GoodStats Data: https://data.goodstats.id
-
SIPSN KLHK: https://sipsn.menlhk.go.id

