Demam Berdarah Dengue (DBD) emang selalu jadi momok yang nakutkan tiap kali nyamuk Aedes aegypti mulai beraksi. Salah satu tanda yang paling bikin panik adalah waktu angka trombosit di hasil lab mulai terjun bebas. Di titik inilah, biasanya grup WhatsApp keluarga mulai ramai dengan saran-saran herbal. Dua nama yang paling sering muncul sudah pasti jus jambu biji merah dan angkak (beras merah China). Tapi, beneran ampuh atau cuma sekadar sugesti aja ya?
Sebelum bahas solusinya, kita perlu tahu dulu kenapa trombosit itu penting. Trombosit atau keping darah punya tugas utama buat ngebantu pembekuan darah. Pas virus dengue masuk ke tubuh, mereka menyerang sumsum tulang dan mengganggu produksi trombosit. Selain itu, virus ini juga bikin kebocoran pembuluh darah. Makanya, kalau angka trombosit terlalu rendah, risiko pendarahan internal jadi makin tinggi.
Jus Jambu Biji: Bukan Sekadar Mitos
Jambu biji merah emang sudah lama dikenal sebagai “obat” DBD. Secara medis, jambu biji merah punya kandungan vitamin C yang sangat tinggibahkan lebih tinggi dari jeruk. Vitamin C ini fungsinya buat meningkatkan sistem imun tubuh biar bisa melawan virus dengue lebih efektif.
Selain itu, jambu biji merah mengandung senyawa quercetin. Senyawa ini dipercaya bisa menghambat pembentukan enzim dari virus dengue yang bertugas buat menggandakan diri. Jadi, meskipun nggak langsung “nyuntik” trombosit supaya naik, jus jambu membantu tubuh menghentikan laju serangan virus. Tapi ingat, jus jambu sebaiknya dibuat murni tanpa banyak tambahan gula pasir ya, biar manfaatnya nggak hilang tertutup kalori.
Angkak: Si Merah yang Lagi Hits
Lalu gimana dengan angkak? Beras yang difermentasi pakai ragi Monascus purpureus ini juga populer banget. Beberapa penelitian kecil menunjukkan kalau ekstrak angkak punya potensi buat menaikkan kadar trombosit. Zat aktif di dalamnya membantu menstimulasi sumsum tulang untuk lebih produktif menghasilkan keping darah.
Namun, yang perlu digarisbawahi adalah penggunaan angkak harus hati-hati. Jangan asal beli suplemen angkak yang nggak jelas dosisnya, karena kalau berlebihan malah bisa mengganggu fungsi hati atau berinteraksi negatif dengan obat-obatan dokter.
Banyak orang terlalu fokus minum jus jambu sampai lupa kalau kunci utama penyembuhan DBD adalah hidrasi. Menurut informasi dari laman kesehatan seperti KlikDokter, penanganan utama DBD sebenarnya bukan cuma naikin trombosit, tapi mencegah syok akibat kekurangan cairan (dehidrasi).
Dokter sering banget menekankan kalau pasien DBD harus minum air putih, oralit, atau air kelapa dalam jumlah banyak. Kenapa? Karena saat DBD, cairan di pembuluh darah “bocor” keluar ke jaringan tubuh. Kalau cairan ini nggak diganti, pasien bisa mengalami kondisi fatal yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
Komentar tambahan dari praktisi medis di Alodokter juga menyebutkan bahwa trombosit bakal naik dengan sendirinya seiring membaiknya kondisi tubuh dan lewatnya fase kritis (biasanya hari ke-3 sampai ke-7). Jadi, jus jambu dan angkak itu sifatnya cuma pendukung (suplementasi), bukan obat utama yang bisa menggantikan peran cairan infus atau pengawasan medis.
Kalau kamu atau orang terdekat kena DBD, jangan cuma ngandelin jus jambu di rumah. Perhatikan tanda-tanda bahaya kayak nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau gusi berdarah. Kalau hal itu terjadi, segera ke rumah sakit.
Memang nggak ada salahnya minum jus jambu atau suplemen angkak selama perut pasien masih bisa menerima (nggak mual). Tapi, pastikan konsultasi dulu sama dokter yang menangani. Terkadang, kondisi lambung pasien DBD lagi sensitif banget, dan pemberian asupan yang nggak tepat malah bikin makin mual.
Kesimpulannya, jus jambu dan angkak memang punya kandungan yang bermanfaat buat mendukung daya tahan tubuh dan proses pemulihan. Tapi, jangan sampai kamu mengabaikan asupan air putih dan arahan medis hanya karena merasa sudah cukup dengan “obat herbal” tadi. Kesehatan itu investasi, jadi harus dikelola dengan langkah yang tepat dan ilmiah.
Sumber:
