Solusi Baru Pengelolaan Sampah, Pemkot Bogor Jajaki Teknologi BRIN di TPS3R

Bogor – Upaya mencari solusi konkret soal pengelolaan sampah terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Terbaru, Pemkot Bogor menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menerapkan teknologi pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R). Langkah ini diharapkan bisa jadi terobosan baru, khususnya dalam mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Rencana kolaborasi tersebut dibahas dalam kunjungan jajaran Pemkot Bogor ke fasilitas riset BRIN yang fokus mengembangkan teknologi konversi sampah menjadi energi. Teknologi ini memungkinkan limbah plastik diolah melalui proses pirolisis, sehingga menghasilkan bahan bakar yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional tertentu.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyebut pengelolaan sampah butuh pendekatan yang lebih inovatif dan terintegrasi. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara lama, seperti sekadar menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kita butuh solusi yang lebih berkelanjutan. Teknologi dari BRIN ini membuka peluang besar supaya sampah plastik tidak cuma berakhir di TPA, tapi bisa diolah jadi energi yang berguna,” ujar Dedie dalam keterangannya.

Fokus di TPS3R, dari Sampah Jadi Energi

TPS3R menjadi titik utama implementasi teknologi ini. Selama ini, TPS3R di Kota Bogor dikenal aktif mengolah sampah organik menjadi kompos dan mendaur ulang sampah plastik menjadi produk bernilai guna. Dengan tambahan teknologi dari BRIN, pengelolaan sampah di TPS3R diharapkan naik kelas.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Anwar Gunawan, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis memungkinkan plastik yang sulit didaur ulang diolah menjadi BBM alternatif.

“Plastik multilayer dan jenis tertentu yang selama ini susah diolah bisa masuk ke proses pirolisis. Hasilnya berupa bahan bakar yang bisa dimanfaatkan, misalnya untuk operasional mesin atau kebutuhan energi lainnya di TPS3R,” kata Anwar.

Menurutnya, langkah ini sejalan dengan target Pemkot Bogor mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA Galuga. Saat ini, Kota Bogor menghasilkan ratusan ton sampah per hari, dan kapasitas TPA semakin terbatas.

Dari pihak BRIN, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih, Dr. Hadi Prabowo, menyebut teknologi pirolisis yang dikembangkan sudah melewati berbagai tahap uji coba.

“Efisiensi konversi plastik ke BBM bisa mencapai 60 persen, tergantung jenis materialnya. Teknologi ini relatif stabil dan cocok diterapkan di skala komunitas seperti TPS3R,” jelas Hadi.

Ia menambahkan, penerapan teknologi di Bogor bisa jadi proyek percontohan nasional. Jika berjalan baik, model serupa bisa direplikasi di kota lain.

“Bogor punya ekosistem TPS3R yang aktif dan partisipasi warga yang cukup tinggi. Itu modal besar untuk keberhasilan program,” tambahnya.

Langkah Pemkot Bogor ini juga mendapat respons positif dari kalangan penggiat lingkungan. Direktur Eksekutif Komunitas Peduli Sampah Nusantara, Rudi Hartono, menilai kolaborasi dengan BRIN sebagai langkah progresif.

“Selama ini banyak daerah terjebak pada pola angkut-buang. Bogor berani mencoba pendekatan baru berbasis teknologi. Ini patut diapresiasi,” ujar Rudi.

Namun, ia mengingatkan agar penerapan teknologi tetap memperhatikan aspek keselamatan dan dampak lingkungan.

“Proses pirolisis harus diawasi ketat, terutama emisi dan residunya. Jangan sampai niat baik malah menimbulkan masalah baru,” tambahnya.

Kota Bogor sendiri sudah cukup dikenal sebagai salah satu daerah yang serius mengembangkan TPS3R. Bahkan, TPS3R Katulampa sempat dijadikan role model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jawa Barat.

Langkah kolaborasi dengan BRIN dinilai sebagai kelanjutan dari upaya tersebut, sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Meski prospeknya besar, implementasi teknologi ini tidak lepas dari tantangan. Mulai dari biaya investasi, kesiapan SDM, hingga sosialisasi ke masyarakat.

Anwar Gunawan mengakui, tahap awal akan difokuskan pada pilot project di satu TPS3R terlebih dulu. Setelah dievaluasi, baru diperluas ke titik lain.

“Kita mulai dari skala kecil, sambil menyiapkan operator dan sistem pengawasannya. Kalau hasilnya positif, baru dikembangkan,” jelasnya.

Dengan kolaborasi ini, Pemkot Bogor berharap bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Wali Kota Dedie menegaskan, pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tapi butuh peran aktif warga.

“Teknologi secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa dukungan masyarakat. Pilah sampah dari rumah, itu kunci utama,” tegasnya.

Jika rencana ini berjalan sesuai target, Bogor berpeluang menjadi kota percontohan nasional dalam pengolahan sampah berbasis teknologi dan ekonomi sirkular.

Sumber:

Hati-hati Scan QR Code Sembarangan, Modus Brushing Bisa Kuras Rekening Digital

Saat Gajah Kehilangan Rumah: Cerita Krisis Habitat dan Perburuan Liar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *