Bicara soal sejarah Islam di Jawa Barat, mata kita nggak boleh lepas dari titik nadi perdagangan lama di pesisir utara. Museum Bandar Cimanuk (MBC) di Indramayu lagi jadi sorotan nih, karena konsistensi mereka dalam menjaga “harta karun” yang nggak ternilai harganya Naskah Islam Nusantara.
Bukan cuma sekadar pajangan, naskah-naskah kuno ini adalah bukti otentik bagaimana dakwah Islam masuk dan berakulturasi dengan budaya lokal di tanah para wali.
Gerakan Penyelamatan “Harta Karun” Literasi
Ketua Yayasan Museum Bandar Cimanuk, Tamyis, bilang kalau upaya ngerawat naskah ini bukan perkara gampang. Banyak naskah yang kondisinya udah mulai rapuh dimakan usia. Tapi, tim di MBC nggak nyerah gitu aja. Mereka ngelakuin proses konservasi biar tulisan-tulisan tangan para ulama terdahulu ini tetep bisa dibaca sama generasi mendatang.
“Kita pengen naskah-naskah ini nggak cuma jadi benda mati. Di dalamnya ada ilmu astronomi, pengobatan, sampai hukum Islam yang ditulis pake bahasa daerah atau pegon. Sayang banget kalau rusak gara-gara kita nggak peduli,” ujar Tamyis saat ditemui di lokasi museum.
Koleksi naskah di sini cukup beragam, mulai dari mushaf Al-Qur’an kuno yang ditulis tangan di atas kertas kulit kayu, sampai kitab-kitab fiqih yang sering dipake di pesantren-pesantren tua sekitar Indramayu dan Cirebon.
Kenapa Naskah-Naskah Ini Penting?
Banyak orang mikir kalau museum itu tempat barang antik yang ngebosenin. Tapi di Museum Bandar Cimanuk, naskah-naskah ini dipandang sebagai identitas bangsa. Lewat goresan tinta kuno ini, kita bisa liat gimana harmoni antara ajaran agama sama kearifan lokal (local wisdom) bener-bener terjadi.
Proses pelestariannya pun makin canggih. Selain perawatan fisik (digitalisasi), pihak museum juga mulai mendata isi naskah itu biar isinya bisa dipelajari secara luas tanpa harus megang kertas aslinya yang udah ringkih.
Nggak cuma internal museum, para pemerhati sejarah juga angkat jempol buat langkah MBC. Salah satu peneliti naskah kuno dari komunitas literasi sejarah, Ahmad, nyebut kalau apa yang dilakuin Museum Bandar Cimanuk itu langkah penyelamatan darurat.
“Banyak naskah Islam Nusantara di tangan masyarakat itu kondisinya memprihatinkan. Ada yang disimpen di bawah kasur, ada yang kena rayap karena nggak tau cara ngerawatnya. Langkah MBC buat nampung dan ngerawat itu keren banget. Itu semacam ‘GPS’ buat kita tau dari mana asal-usul pemikiran Islam di pesisir ini,” kata Ahmad lewat sambungan telepon.
Ngerawat naskah kuno itu butuh ketelitian tingkat dewa. Suhu ruangan harus dijaga, kelembapan nggak boleh ngaco, dan cara megangnya pun nggak bisa sembarangan. Masalahnya, biaya buat alat-alat konservasi ini nggak murah.
Meski begitu, antusiasme anak muda buat dateng ke Museum Bandar Cimanuk mulai naik. Gaya penyampaian museum yang lebih santai dan nggak kaku bikin Gen Z nggak ngerasa asing sama sejarah mereka sendiri.
Sumber :
- Republika Online: Koleksi Naskah Kuno Museum Bandar Cimanuk
- Website Resmi Disbudpar Indramayu: Pelestarian Cagar Budaya Indramayu
- Portal Berita Lokal Fokus Cirebon: Aksi Konservasi Naskah Islam Nusantara di Indramayu
