Mengulik Sejarah Kerajaan Salakanagara, Dari Legenda Hingga Catatan Sejarah

Pernah denger soal “Negeri Perak” di ujung barat Pulau Jawa? Kalau belum, kenalan yuk sama Kerajaan Salakanagara. Banyak yang percaya kalau ini adalah kerajaan tertua di Nusantara, jauh sebelum Tarumanagara atau Majapahit eksis. Lokasinya konon ada di sekitar Pandeglang, Banten, dan punya cerita yang campur aduk antara mitos keren sama catatan sejarah yang masih diperdebatkan para ahli.

Awal Mula Sang “Negeri Perak”

Nama Salakanagara berasal dari kata Salaka yang artinya perak, dan Nagara yang artinya negara atau kerajaan. Jadi, secara harfiah, ini adalah Negeri Perak. Menurut naskah kuno Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, kerajaan ini berdiri sekitar tahun 130 Masehi.

Sosok sentral di balik berdirinya kerajaan ini adalah Dewawarman. Dia aslinya pedagang sekaligus pengelana dari India (Dinasti Pallava) yang sering bolak-balik ke Nusantara. Di sini, dia ketemu sama penguasa lokal bernama Aki Tirem di wilayah Teluk Lada, Pandeglang. Dewawarman akhirnya jatuh cinta dan nikah sama anak Aki Tirem, yaitu Pohaci Larasati. Setelah Aki Tirem wafat, Dewawarman naik takhta dan mendirikan Salakanagara dengan ibu kota bernama Rajatapura.

Jejak Sejarah yang Bikin Penasaran

Walaupun ceritanya seru, keberadaan Salakanagara ini masih jadi tantangan buat para sejarawan. Masalahnya, peninggalan fisiknya nggak sebanyak kerajaan lain. Kebanyakan info soal kerajaan ini cuma bersumber dari Naskah Wangsakerta yang disusun di Cirebon pada abad ke-17.

Meski begitu, ada beberapa “clue” yang memperkuat keberadaannya:

  1. Catatan Dinasti Han: Ada catatan dari Tiongkok menyebutkan soal kerajaan bernama Yeh-tiao (mungkin maksudnya Yawadwipa/Jawa) yang mengirim utusan bernama Tiao-pien (Dewawarman) pada tahun 132 M.
  2. Situs Cihunjuran: Di Pandeglang, ada situs pemandian purba dan menhir yang diyakini warga lokal sebagai peninggalan zaman Salakanagara.
  3. Geographia Ptolomeus: Ahli geografi Yunani, Claudius Ptolomeus, pernah nulis soal Argyre atau Kota Perak di ujung barat pulau Iabadiou (Jawa).

Nggak semua sejarawan langsung setuju kalau Salakanagara itu nyata secara administratif. Ada perdebatan soal validitas sumber utamanya.

“Fakta historis Salakanagara ternyata tidak didukung dengan sumber sejarah primer yang kuat seperti temuan prasasti atau karya sastra sezaman. Sebagian besar masih didasarkan pada naskah Wangsakerta yang validitasnya masih banyak diragukan oleh para filolog,” tulis sebuah kajian dalam portal ResearchGate.

Di sisi lain, banyak juga yang menganggap Salakanagara adalah fondasi awal peradaban Sunda. Seperti dilansir dari Kompas.com, Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda karena wilayah kekuasaannya pas banget dengan sebaran budaya Sunda di kemudian hari. Kerajaan ini akhirnya “tenggelam” setelah pamornya kalah sama Tarumanagara di bawah pimpinan Jayasinghawarman sekitar abad ke-4 Masehi.

Walaupun bukti fisiknya minim, Salakanagara ngasih kita gambaran kalau Nusantara itu sudah jadi pusat perdagangan global sejak awal masehi. Hubungan dagang dengan India dan Tiongkok sudah terjalin sangat erat. Negeri kita bukan cuma penonton, tapi pemain utama dalam jalur maritim dunia.

Sumber:

Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia yang Tak Pernah Lepas dari Konflik

Lutung Jawa, Primata Pemalu Penjaga Hutan yang Mulai Terancam Punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *