Tangker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Karena Blokade

Situasi di kawasan Timur Tengah makin hari makin panas aja nih, Sobat Energi. Kabar terbaru yang lagi ramai dibicarakan adalah nasib dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang kabarnya sempat tertahan di Selat Hormuz. Jalur laut yang super vital ini lagi diblokade gara-gara tensi geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang makin nggak menentu.

Kejadian ini jelas bikin banyak pihak di dalam negeri ketar-ketir. Gimana nggak? Selat Hormuz itu ibarat “urat nadi” buat pasokan minyak dunia. Kalau jalur ini mampet, efek domino-nya bisa sampai ke harga BBM di SPBU deket rumah kita.

Pihak Pertamina sendiri lewat Vice President Corporate Communication-nya, Muhammad Baron, sudah buka suara. Beliau bilang kalau sebenarnya ada empat kapal Pertamina yang lagi beroperasi di sekitar kawasan itu. Tapi untungnya, dua kapal lainnya sudah berhasil berada di luar zona bahaya.

“Memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Saat ini kami terus memantau dan memastikan keselamatan para kru kapal serta aset perusahaan yang ada di lokasi,” ujar Baron dalam keterangannya di Jakarta.

Kabar baiknya, meski statusnya “tertahan” karena situasi blokade dan prosedur keamanan ketat di sana, seluruh kru kapal dilaporkan dalam kondisi aman. Pemerintah Indonesia juga nggak tinggal diam dan langsung gercep lewat jalur diplomasi biar kapal-kapal ini bisa segera keluar dari zona merah tersebut.

Dampak ke Stok BBM Nasional

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga sempat kasih komentar soal isu ini. Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan skenario terburuk kalau sampai pasokan dari Timur Tengah benar-benar terganggu total. Salah satu langkahnya adalah mulai melirik sumber minyak mentah (crude) dari negara lain, seperti Amerika Serikat, buat jaga-jaga.

“Kita sudah cari alternatif sumber crude yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir ini bukan masalah yang sangat darurat buat ketahanan energi kita, stok kita masih cukup aman,” kata Bahlil dengan nada optimis.

Bukan cuma pemerintah, pengamat ekonomi pun ikut kasih opini. Piter Abdullah, seorang ekonom senior, mengingatkan kalau blokade ini bisa jadi pedang bermata dua buat Indonesia. Kalau Selat Hormuz ditutup lama, harga minyak dunia bisa terbang ke angka $100 per barel.

“Dampaknya bisa besar. Pertama, harga BBM nonsubsidi pasti naik. Kedua, nilai tukar Rupiah bisa tertekan karena dolar jadi makin mahal. Ini yang harus diwaspadai pemerintah biar inflasi nggak meledak,” jelas Piter dalam sebuah diskusi.

Buat kita yang sehari-hari pakai kendaraan, situasi ini memang perlu dipantau terus. Meskipun Pertamina menjamin stok aman, gejolak di Selat Hormuz tetap punya pengaruh besar ke ekonomi global. Semoga aja diplomasi yang dilakukan pemerintah berhasil dan situasi di sana cepat adem lagi ya!

Sumber:

Lutung Jawa, Primata Pemalu Penjaga Hutan yang Mulai Terancam Punah

Mengenal Bilangan Biner dari Dasar Sampai Cara Menghitungnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *