Daging Kambing untuk Diet: Mitos atau Fakta?

Daging kambing sering dianggap musuh buat orang yang lagi diet. Banyak yang langsung mikir kolesterol naik, lemak numpuk, sampai berat badan susah turun kalau terlalu sering makan sate atau gulai kambing. Tapi ternyata, anggapan itu nggak sepenuhnya benar.

Belakangan ini justru makin banyak ahli gizi dan pecinta fitness yang mulai melirik daging kambing sebagai salah satu sumber protein tinggi yang cocok buat program penurunan berat badan. Kuncinya ternyata ada di cara pengolahan dan porsinya.

https://images.openai.com/static-rsc-4/jR1LW0F6Iy30ckkhnWvXDcX7fVWiGGdeM0oZIJ_h_3eafAWOJ1MlzLhA6nVmjdfYWlkEQEFuIPoneM_eWLoGzvyG2Oo-WtTMwz1PDI5IEbM9hGYJZhK8u4UuuFtI_8ZZbokk_cbd7c0DWQF09QPqserCIxKpiP_3FCf8FHG5Nuw-0KDPg8Hs0XR_7VrQ4DxR?purpose=fullsize

Menurut beberapa data nutrisi, daging kambing punya kandungan lemak yang lebih rendah dibanding daging sapi maupun domba. Dalam 100 gram daging kambing, kandungan lemak totalnya sekitar 2,6 sampai 3,9 gram dengan protein yang cukup tinggi.

Fakta ini cukup bikin banyak orang kaget karena selama ini daging kambing identik dengan makanan “berat” yang bikin takut naik timbangan.

Selain tinggi protein, daging kambing juga hampir nggak punya kandungan karbohidrat. Itu sebabnya daging ini sering masuk ke menu diet tinggi protein seperti low carb atau keto. Protein sendiri dikenal bisa bikin rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga massa otot saat berat badan turun.

Menurut data nutrisi dari USDA yang juga dikutip beberapa media kesehatan, kandungan kalori daging kambing bahkan lebih rendah dibanding ayam dengan kulit, sapi, dan domba.

Ahli gizi olahraga, dr. Tirta Mandira Hudhi dalam beberapa pembahasan kesehatan pernah menjelaskan kalau sumber protein hewani tetap penting saat diet, terutama untuk menjaga metabolisme dan massa otot. Walau tidak secara khusus membahas kambing, konsep protein tinggi ini memang jadi salah satu fondasi diet modern.

Di sisi lain, pengamat kuliner sehat sekaligus nutrition enthusiast, Tan Shot Yen, juga pernah mengingatkan bahwa masalah utama bukan cuma dari jenis dagingnya, tapi dari cara masaknya. Kalau daging kambing diolah pakai banyak santan, minyak berlebih, atau dimakan bersama nasi dan minuman manis secara berlebihan, tentu hasilnya beda dibanding kambing panggang atau rebus dengan sayur.

Jadi sebenarnya yang bikin “berbahaya” sering kali bukan kambingnya, melainkan kombinasi pola makannya.

Masalah lain yang sering muncul adalah anggapan kalau daging kambing bikin tekanan darah naik. Faktanya, belum ada bukti kuat bahwa daging kambing secara langsung menyebabkan hipertensi pada orang sehat. Justru kandungan lemak jenuhnya relatif lebih rendah dibanding beberapa jenis daging merah lain.

Meski begitu, bukan berarti daging kambing bisa dimakan tanpa batas. Tetap ada aturan yang perlu diperhatikan.

Porsi ideal buat diet biasanya sekitar 75–100 gram per sekali makan, dipadukan dengan sayur dan sumber karbohidrat secukupnya. Hindari terlalu sering mengonsumsi bagian berlemak atau jeroan karena kandungan kolesterolnya lebih tinggi.

Cara masak juga punya pengaruh besar. Dibakar, direbus, atau dipanggang jelas lebih aman dibanding digoreng atau dimasak pakai santan pekat. Banyak orang yang sedang cutting sekarang mulai mengganti gulai dengan kambing grill, rice bowl protein, atau sate tanpa lemak berlebih.

Menariknya lagi, daging kambing mengandung zat besi dan vitamin B12 yang cukup tinggi. Nutrisi ini penting buat menjaga energi tubuh, terutama saat asupan kalori sedang dikurangi selama diet.

Buat orang yang aktif olahraga, kandungan protein tinggi di daging kambing juga membantu pemulihan otot setelah latihan. Karena itu nggak heran kalau sekarang mulai banyak menu healthy food yang memakai olahan kambing sebagai alternatif chicken breast.

Meski begitu, orang dengan riwayat kolesterol tinggi, hipertensi berat, atau gangguan jantung tetap disarankan konsultasi dulu dengan dokter sebelum terlalu sering mengonsumsi daging merah, termasuk kambing.

Kesimpulannya, anggapan bahwa daging kambing pasti bikin gemuk ternyata lebih dekat ke mitos. Kalau dipilih bagian yang minim lemak, dimasak dengan cara sehat, dan dimakan dalam porsi wajar, daging kambing justru bisa jadi sumber protein yang cocok buat diet.

Jadi jawabannya bukan soal boleh atau nggak boleh makan kambing saat diet, tapi bagaimana cara menikmatinya dengan lebih cerdas.

Sumber:

More From Author

Kesalahan Saat Mengolah Daging Qurban yang Masih Sering Dilakukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *