Menjelang Hari Raya Iduladha, dapur di banyak rumah biasanya langsung sibuk. Daging sapi dan kambing mulai diolah jadi sate, gulai, tongseng, rendang, sampai sop favorit keluarga. Tapi di balik semangat masak besar-besaran, ternyata masih banyak orang yang melakukan kesalahan saat mengolah daging qurban. Akibatnya bukan cuma bikin rasa masakan jadi kurang maksimal, tapi juga bisa memicu masalah kesehatan.
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah langsung mencuci daging sebelum disimpan. Banyak orang mengira langkah ini bikin daging lebih bersih. Padahal, menurut informasi dari Kementerian Kesehatan yang dikutip sejumlah media, cipratan air dari daging mentah justru bisa menyebarkan bakteri ke wastafel, talenan, pisau, dan area dapur lainnya.
Kalau daging belum mau langsung dimasak, lebih aman disimpan dalam kondisi kering di wadah tertutup atau plastik food grade lalu dimasukkan ke freezer. Proses pencucian sebaiknya dilakukan tepat sebelum dimasak.
Kesalahan lain yang juga sering kejadian adalah menyimpan daging dalam ukuran besar sekaligus. Banyak orang langsung memasukkan seluruh bagian daging ke freezer tanpa dibagi per porsi. Akibatnya, saat mau dipakai harus dicairkan semuanya. Padahal daging yang sudah dicairkan lalu dibekukan lagi kualitasnya bisa turun dan risiko bakteri meningkat.
Menurut beberapa panduan pengolahan pangan, penyimpanan dalam ukuran kecil jauh lebih aman dan praktis. Selain bikin proses thawing lebih cepat, kualitas tekstur daging juga lebih terjaga.
Pengamat kuliner sekaligus chef Nusantara, William Wongso, pernah menyoroti kebiasaan masyarakat yang terlalu buru-buru memasak daging segar setelah penyembelihan. Menurutnya, daging yang baru dipotong biasanya masih mengalami fase otot tegang atau rigor mortis. Kalau langsung dimasak, teksturnya justru bisa alot dan keras.
Karena itu, daging sebaiknya didiamkan beberapa jam terlebih dahulu sebelum diolah. Cara sederhana ini cukup membantu membuat serat daging lebih rileks dan hasil masakan jadi lebih empuk.
Selain soal penyimpanan, penggunaan alat dapur juga sering disepelekan. Banyak orang masih memakai talenan dan pisau yang sama untuk memotong daging mentah lalu langsung digunakan untuk sayuran atau makanan matang. Kebiasaan ini dikenal sebagai kontaminasi silang dan jadi salah satu sumber utama bakteri di dapur.
Dalam panduan keamanan pangan, penggunaan alat terpisah sangat disarankan supaya bakteri dari daging mentah tidak berpindah ke makanan lain.
Masalah lain yang masih sering dilakukan adalah mencairkan daging beku di suhu ruang terlalu lama. Banyak orang meninggalkan daging semalaman di meja dapur supaya cepat lunak. Padahal suhu ruang bisa mempercepat pertumbuhan bakteri di permukaan daging.
Cara yang lebih aman adalah memindahkan daging dari freezer ke chiller kulkas beberapa jam sebelum dimasak. Proses ini memang sedikit lebih lama, tapi kualitas dan keamanan daging lebih terjaga.
Ada juga kebiasaan memakai bumbu berlebihan untuk menutupi aroma prengus, terutama pada daging kambing. Padahal aroma tersebut biasanya muncul karena lemak dan sisa darah yang belum dibersihkan dengan benar. Penggunaan rempah alami seperti serai, daun jeruk, jahe, atau jeruk nipis jauh lebih efektif dibanding sekadar menambahkan penyedap berlebihan.
Di media sosial, diskusi soal perlu atau tidaknya mencuci daging qurban juga masih ramai dibahas. Beberapa warganet di forum Reddit Indonesia menyebut kondisi pemotongan qurban di lapangan kadang membuat daging terkena debu atau pasir sehingga mereka memilih membilas ringan sebelum dimasak. Sementara lainnya tetap mengingatkan soal risiko cipratan bakteri di dapur.
Perdebatan ini menunjukkan kalau edukasi soal keamanan pangan masih perlu diperluas, terutama saat momen Iduladha ketika distribusi daging dilakukan dalam jumlah besar dan cepat.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa daging matang yang sudah disajikan di suhu ruang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama. Jika lebih dari empat jam, risiko pertumbuhan bakteri meningkat cukup tinggi.
Karena itu, pengolahan daging qurban bukan cuma soal rasa enak, tapi juga soal cara penyimpanan, kebersihan alat, sampai teknik memasak yang benar. Dengan penanganan yang tepat, daging qurban bisa jadi hidangan lezat sekaligus aman dinikmati bersama keluarga.
Sumber:
