Jakarta – Memasuki pertengahan tahun, sejumlah wilayah di Indonesia mulai menghadapi dampak nyata musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di beberapa daerah, sementara krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat akibat kekeringan yang semakin meluas.
Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), peningkatan kejadian karhutla dan kekeringan menjadi salah satu ancaman utama selama musim kemarau 2026. Kondisi ini membuat pemerintah daerah bersama instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana.
Beberapa wilayah yang dilaporkan mengalami kebakaran lahan antara lain Kabupaten Sukoharjo di Jawa Tengah, Kota Langsa di Aceh, hingga Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Luas lahan yang terbakar mencapai beberapa hektare dan sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia, termasuk pembakaran sampah maupun pembukaan lahan.
BNPB mengingatkan bahwa berkurangnya curah hujan membuat vegetasi menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah menyebar. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar.
Tidak hanya ancaman kebakaran, musim kemarau juga mulai menyebabkan krisis air bersih di sejumlah daerah. Kabupaten Banyumas, Boyolali, dan Klaten menjadi beberapa wilayah yang telah menerima distribusi air bersih dari pemerintah daerah melalui BPBD.
Di Banyumas misalnya, ribuan liter air bersih disalurkan kepada warga yang kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara di Boyolali, puluhan kepala keluarga terdampak kekeringan sejak awal Juni sehingga distribusi air bersih terus dilakukan secara berkala.
Kondisi serupa juga terjadi di Klaten, di mana ratusan kepala keluarga bergantung pada bantuan mobil tangki air karena sumber air di lingkungan mereka mulai mengering.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, pemerintah daerah perlu memperkuat langkah mitigasi melalui pemantauan wilayah rawan, memastikan ketersediaan air bersih, serta meningkatkan kesiapsiagaan personel menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.
Selain itu, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara lebih bijak agar cadangan air tetap tersedia hingga musim hujan kembali tiba.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus sehingga risiko kebakaran hutan dan kekeringan diprediksi meningkat apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Pengamat lingkungan turut menilai bahwa perubahan pola iklim membuat kejadian cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi. Oleh sebab itu, langkah pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.
Dalam laporan yang dipublikasikan Mongabay Indonesia, BMKG menekankan pentingnya perlindungan kawasan hutan, gambut, dan mangrove sebagai bagian dari strategi menghadapi dampak perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin ekstrem. Selain itu, pemerintah juga disarankan meningkatkan patroli kawasan rawan kebakaran, memperkuat sistem peringatan dini, hingga memastikan ketersediaan sumber air bagi masyarakat maupun sektor pertanian.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terhadap kondisi ini. Berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi produktivitas tanaman apabila petani tidak melakukan penyesuaian pola tanam maupun penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Di sisi lain, kualitas udara juga berpotensi menurun apabila kebakaran hutan semakin meluas. Asap hasil pembakaran lahan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya bagi anak-anak dan lansia.
Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak musim kemarau.
Kesadaran masyarakat juga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pencegahan. Aktivitas sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, serta segera melaporkan titik api kepada petugas dapat membantu menekan risiko terjadinya bencana yang lebih besar.
Dengan memasuki puncak musim kemarau dalam beberapa pekan ke depan, berbagai pihak diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan. Langkah antisipasi sejak awal dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian lingkungan, ekonomi, maupun sosial akibat karhutla dan kekeringan yang berpotensi meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Sumber:



