Rendahnya Konsumsi Buah di Indonesia Masih Jadi PR, Dua Faktor Ini Disebut Jadi Penyebab Utama

Kebiasaan makan buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Padahal, buah menjadi salah satu sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang dibutuhkan tubuh setiap hari. Kondisi ini menjadi perhatian karena rendahnya konsumsi buah berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular, mulai dari obesitas, diabetes, hipertensi hingga penyakit jantung.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari Detik Health, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hanya sekitar 3,3 persen masyarakat Indonesia yang memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayur sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO), yakni minimal lima porsi per hari. Sebaliknya, sebanyak 67,5 persen masyarakat hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi buah dan sayur setiap hari, sementara 11,8 persen bahkan tidak mengonsumsi buah maupun sayur dalam satu minggu.

https://images.openai.com/static-rsc-4/n8LYj_m0luUYbX8dGeLFPqv1cctMmhmG1MAku37nBF50lSoNHSwzoSiYfupFDfjSHtFHtC4PnSFHApqLVUlCjJfIKaWH6PmzqsuQbHkvwGeiL322v7Kclk2oZH8SBQcZ4XdaWwVPjZksTmSdKpMr8G96HB-UVkAtGzd_bz8slVi2dGjY0HKY0eBiIMEoCoPm?purpose=fullsize

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal pilihan makanan, melainkan juga berkaitan dengan pola hidup dan akses terhadap pangan bergizi.

Menurut laporan tersebut, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan konsumsi buah masyarakat masih rendah. Faktor pertama adalah anggapan bahwa buah dan sayur bukan makanan utama, melainkan hanya pelengkap saat makan. Pola pikir seperti ini membuat buah sering kali tidak masuk dalam daftar belanja harian maupun menu keluarga.

Faktor kedua adalah semakin banyaknya pilihan minuman olahan tinggi gula yang secara perlahan menggantikan kebiasaan mengonsumsi buah segar. Minuman kemasan yang praktis dan mudah ditemukan membuat sebagian orang lebih memilih produk tersebut dibandingkan mengonsumsi buah secara langsung. Selain itu, pada sebagian kelompok masyarakat, keterbatasan daya beli dan akses terhadap buah segar juga masih menjadi tantangan tersendiri.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh sejumlah pakar gizi. Dalam laporan Republika yang mengutip pakar gizi Dodik Briawan, rendahnya konsumsi buah dipengaruhi oleh persepsi bahwa makan identik dengan rasa kenyang tanpa memperhatikan keseimbangan gizi. Faktor lain seperti ketersediaan buah di lingkungan sekitar, kemudahan penyajian, hingga selera juga ikut memengaruhi kebiasaan masyarakat.

Kementerian Kesehatan RI sendiri sejak lama mendorong masyarakat untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur melalui kampanye Gizi Seimbang dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Kemenkes merekomendasikan konsumsi buah dan sayur sekitar 400–600 gram per hari, dengan porsi sayur lebih banyak dibanding buah. Anjuran tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan serat, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan yang membantu menjaga kesehatan tubuh.

Manfaat mengonsumsi buah secara rutin telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebut pola makan yang kaya buah dan sayur mampu membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, menjaga tekanan darah tetap stabil, serta berkontribusi dalam pencegahan beberapa jenis kanker. Kandungan serat pada buah juga membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, memberikan rasa kenyang lebih lama, dan mendukung pengendalian berat badan.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga mengingatkan agar masyarakat memilih buah segar sebagai camilan harian dibanding makanan maupun minuman tinggi gula. Buah lokal seperti pisang, pepaya, jeruk, mangga, semangka, jambu biji, hingga nanas memiliki kandungan nutrisi yang baik dan relatif mudah ditemukan dengan harga yang bervariasi sesuai musim.

Meningkatkan konsumsi buah sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana. Menyediakan buah di meja makan, membawa potongan buah sebagai bekal, hingga menjadikan buah sebagai camilan di sela aktivitas dapat membantu membangun kebiasaan baru. Peran keluarga juga sangat penting, terutama dalam mengenalkan berbagai jenis buah kepada anak sejak usia dini agar kebiasaan tersebut terbawa hingga dewasa.

Kebiasaan makan buah bukan hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat. Dengan semakin tingginya kesadaran terhadap pola makan bergizi, diharapkan angka konsumsi buah di Indonesia dapat meningkat sehingga risiko penyakit akibat pola makan yang kurang sehat dapat ditekan.

Sumber:


Meta Description

SEO Keyword

 

More From Author

Uji B50 di Sektor Pertambangan Berjalan Positif, Langkah Nyata Menuju Ketahanan Energi Nasional

Tarif BisKita Trans Pakuan Diusulkan Naik, Penumpang Minta Layanan Ikut Ditingkatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *