Erupsi gunung api selalu membawa banyak material ke udara, salah satunya abu vulkanik. Dari kejauhan, abu yang jatuh ke jalan, kendaraan, atap rumah, dan halaman memang terlihat seperti debu biasa. Namun, anggapan tersebut bisa menyesatkan. Abu vulkanik punya karakter fisik dan kandungan material yang membuatnya perlu ditangani dengan lebih hati-hati.
Kenapa Abu Vulkanik Bisa Berbahaya?
Abu vulkanik bukan hanya persoalan kotoran yang menempel di permukaan. Partikelnya dapat memiliki bentuk tajam dan membawa kandungan mineral tertentu. Saat terhirup, material tersebut bisa mengganggu saluran pernapasan, terutama ketika paparan terjadi dalam jumlah tinggi atau berulang.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan dan iritasi pada mata. Kandungan tertentu, termasuk silika, juga perlu diperhatikan karena partikel halusnya bisa mengiritasi saluran pernapasan.
Keluhan yang muncul bisa berupa batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hidung teriritasi, sampai sesak napas. Orang yang memiliki asma atau gangguan pernapasan perlu lebih waspada karena paparan abu dapat membuat kondisi mereka semakin terganggu.
Mata dan Kulit Ikut Terpapar
Risiko abu vulkanik tidak berhenti pada saluran pernapasan. Partikel yang beterbangan juga bisa masuk ke mata dan menimbulkan rasa perih, gatal, merah, atau berair. Abu yang menempel pada kulit dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan iritasi.
Karena itu, perlindungan mata menjadi penting ketika kondisi di luar rumah dipenuhi abu. Kacamata pelindung bisa membantu mengurangi kemungkinan partikel langsung mengenai mata.
Masker Biasa Belum Tentu Cukup
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan masker. Masker kain atau penutup wajah biasa belum tentu mampu menyaring partikel abu vulkanik yang sangat halus. Untuk kondisi sebaran abu, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi lebih tinggi seperti N95 atau KN95 lebih disarankan, terutama jika harus beraktivitas di luar.
Selain memakai masker, aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi selama abu masih menyebar. Pintu dan jendela juga dapat ditutup agar abu tidak mudah masuk ke dalam ruangan. Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah jika tidak ada keperluan mendesak.
Cara Membersihkan Abu Vulkanik
Membersihkan abu yang menempel di rumah dan kendaraan juga tidak boleh asal. Abu yang sudah mengendap bisa kembali beterbangan ketika disapu kering atau tertiup angin. Gunakan cara pembersihan yang tidak membuat abu kembali masuk ke udara.
Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bersihkan dengan air bersih. Setelah beraktivitas di luar, bersihkan tubuh dan pakaian agar sisa abu tidak terus menempel.
Tetap Ikuti Informasi Resmi
Saat erupsi terjadi, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dari lembaga resmi terkait aktivitas gunung api dan arah sebaran abu. Hindari menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.
Abu vulkanik memang terlihat sederhana seperti debu, tetapi sifatnya berbeda dan bisa membawa risiko bagi kesehatan. Dengan membatasi paparan, memakai masker yang sesuai, melindungi mata, serta menjaga kebersihan setelah terkena abu, risiko gangguan kesehatan bisa ditekan.


