Rhoma Irama dan Jejak Dangdut sebagai Budaya Massa Indonesia

Nama Rhoma Irama tidak bisa dipisahkan dari perjalanan musik dangdut Indonesia. Bersama Soneta Group, ia bukan hanya tampil sebagai penyanyi dan pemain gitar, tetapi juga membawa dangdut menjadi ruang untuk menyampaikan cerita, nasihat, kritik sosial, dan pesan keagamaan. Tulisan PUSAD Paramadina berjudul “Rhoma Irama ‘Raja Dangdut’ dalam Sketsa Budaya Massa” menarik untuk dibaca karena melihat Rhoma dari sisi budaya, bukan sekadar popularitas di atas panggung.6

Dari Musik ke Budaya Massa

Menurut tulisan Mohammad Shofan di PUSAD Paramadina, kajian ilmiah tentang dangdut masih relatif sedikit dibandingkan besarnya pengaruh musik ini di tengah masyarakat. Dangdut berkembang sebagai musik yang dekat dengan banyak lapisan sosial. Karena itu, membahas Rhoma berarti ikut membahas selera musik, kehidupan masyarakat, hiburan, nilai moral, sampai cara rakyat menyampaikan kegelisahan.

Rhoma punya posisi yang cukup khas. Ia memakai musik sebagai hiburan, tetapi di saat yang sama memasukkan pesan yang ingin disampaikan kepada pendengarnya. Lagu-lagunya menyentuh tema agama, kehidupan sosial, ketimpangan, perilaku masyarakat, dan persoalan kebangsaan. Pola seperti ini membuat panggung dangdut tidak berhenti sebagai tempat untuk bernyanyi dan bergoyang.

Resep Memahami Kekuatan Rhoma Irama

Kalau perjalanan Rhoma dirangkum seperti sebuah resep, ada beberapa bahan utama yang membuat pengaruhnya kuat.

  1. Musik yang mudah diterima
    Dangdut punya irama yang kuat dan gampang dikenali. Ditambah karakter vokal serta permainan gitar Rhoma, lagu menjadi mudah diingat dan dekat dengan pendengar.
  2. Lirik yang punya cerita
    Kekuatan Rhoma bukan cuma pada melodi. Banyak lagunya membawa cerita tentang kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami masyarakat luas.
  3. Kritik sosial
    Rhoma juga memakai lagu sebagai cara menyuarakan persoalan sosial. Ketimpangan, perilaku tidak adil, dan masalah kehidupan rakyat masuk ke dalam tema musiknya. Inilah yang membuat dangdut punya fungsi lebih luas daripada hiburan.
  4. Pesan keagamaan
    Unsur agama menjadi bagian penting dalam karya Rhoma. Melalui musik, ia menyampaikan ajakan untuk menjaga moral dan memperhatikan hubungan manusia dengan Tuhan.
  5. Penampilan yang kuat
    Pertunjukan Soneta memiliki daya tarik tersendiri. Musik, gaya panggung, busana, gitar, dan sosok Rhoma membentuk identitas yang mudah dikenali. Penggemar pun tidak hanya datang untuk mendengar lagu, tetapi ikut merasakan suasana pertunjukannya.

Rhoma dan Suara Masyarakat

Salah satu hal menarik dari pembahasan PUSAD Paramadina adalah posisi Rhoma sebagai bagian dari budaya massa. Popularitasnya tumbuh karena ia mampu menyatukan musik yang menghibur dengan pesan yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Dalam pandangan yang dikutip tulisan tersebut, keberhasilan Rhoma juga berkaitan dengan bakat, lingkungan, dan intuisi musik yang terus diasah.

Jejak itu membuat dangdut tidak pantas dilihat sebagai musik sederhana tanpa makna. Di tangan Rhoma, dangdut bisa menjadi hiburan sekaligus media untuk menyampaikan gagasan. Lagu dapat mengajak orang menikmati irama, lalu berhenti sejenak untuk memikirkan kehidupan di sekitarnya.

Daya tahan karya Rhoma juga terlihat dari cara lagu-lagunya terus dibicarakan lintas generasi. Bagi sebagian pendengar, musiknya menjadi kenangan masa kecil, sementara bagi pendengar lain, liriknya bisa dibaca sebagai catatan tentang kehidupan sosial Indonesia. Inilah yang membuat sosok Rhoma menarik ketika dilihat dari sudut budaya massa. Ia tidak hanya hadir sebagai figur panggung, tetapi menjadi bagian dari memori bersama. Dari kaset, radio, film, televisi, hingga pertunjukan langsung, karya Rhoma bergerak melewati banyak ruang dan menjangkau masyarakat dengan latar yang beragam. Pengaruh seperti ini membuat perjalanan musiknya layak dipelajari sebagai bagian dari sejarah budaya populer Indonesia secara luas.

Kisah Rhoma Irama menunjukkan bahwa musik populer bisa punya pengaruh yang panjang ketika mampu menyentuh pengalaman banyak orang. Dangdut menjadi ruang bertemunya hiburan, kritik sosial, nilai agama, dan identitas budaya. Karena itu, julukan “Raja Dangdut” bukan hanya soal banyaknya lagu atau ramainya panggung, tetapi juga tentang jejak budaya yang ia tinggalkan.

Sumber: PUSAD Paramadina, tulisan Mohammad Shofan, “Rhoma Irama ‘Raja Dangdut’ dalam Sketsa Budaya Massa (Sebuah Pengantar)”.

More From Author

Hari Ozon Sedunia – 16 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *